Para Pemburu Ilmu

Ilmu akan memutik, berkembang, kemudian tumbuh memohon tinggi nan rindang serta berakar kuat, manakala diusung oleh mereka yang memiliki kemauan dan semangat dada yang membara-bara, serta berbasuhkan kesabaran dalam merengkuhinya.

Lebih utama lagi, manakala kekuatan tubuh sedang dalam masa-masa emasnya. Dan kesemua syarat itu, terwujudi dalam satu tubuh: pemuda. Di sanalah berkumpulnya kekuatan jasmani, lancarnya konsentrasi dan daya pikir, sedikitnya kesibukan hingga bebas untuk melanglangbuana, serta tak adanya tanggung jawab hidup dan kepemimpinan kekeluargaan.

Seseorang hanya akan mampu mengoptimalkan segenap yang ada pada dirinya ketika masih muda saja. Sederhananya begini. Bisa saja, seseorang belajar pada masa tuanya. Namun, pada beberapa momen tertentu, ia pasti akan tersandung dalam kesulitan-kesulitan yang kita yakin bahwa pada masa mudanya, ia pasti bisa melakukannya lebih baik dan maksimal.

Contohnya dalam menghafal Al-Qur’an. Seseorang yang usianya sudah lanjut, bisa saja ia menghafal satu halaman per harinya. Namun, dapat kita pastikan ia juga akan lupa dalam waktu yang cepat pula.

Atau, tentang seseorang yang sudah lanjut usia, dan ingin sekali belajar membaca Al-Qur’an secara benar. Makhrajnya pas, tajwidnya sesuai, dan alunan suaranya merindukan.

Akan tetapi, ia akan kesulitan memperbaikinya, karena lisan yang sudah tak berfungsi normal lagi. Nah, tentu masa-masa optimal telah terlewatkan bukan.

Sebelum terlambat, mari memaksimalkan.

Sungguh anugerah yang perlu disyukuri. Zaman ini, telah memudahi langkah kita untuk mereguki ilmu dari berbagai sarana. Akan tetapi, perlu diingat. Karena itu berarti kita tak lagi menemui alasan untuk tak meregukinya.

“Mencari ilmu adalah kewajiban,” kata Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, “ia merupakan penawar bagi hati yang sakit. Terpenting lagi, bagi setiap hamba adalah harus mengenal agamanya. Sebab mengenal agama dan mengamalkannya adalah penyebab masuknya seseorang ke dalam surga. Sebaliknya, kebodohan mengenai agama dan menyia-nyiakannya menjadi penyebab masuknya seseorang ke dalam neraka,” pungkasnya mewanti-wanti kita.

Baca lebih lanjut

Iklan

Meniti Jalan Pewaris Nabi

Lihatlah di penjuru Baghdad

Semua berdiri di jendela memegang pena

Siap menuliskan kata-kata Ahmad

Apakah layak Ahmad selamat

Sementara semua manusia sesat?

Imam Ahmad bin Hanbal

 

Suatu waktu, kita akan mengerti. Semakin dalam mempelajari ilmu agama ini, kita akan tersadarkan, bahwa begitu banyak yang harus kita pelajari lagi. Maka ayat ke delapan puluh lima dari surah Al-Isra’, “Tidaklah kamu diberi ilmu pengetahuan kecuali sedikit,” akan membuat kita menganggukkan kepala. Kita rasai betul kebenarannya.

Janji-Nya, ketika kita menyeriusi mempelajari ilmu-ilmu syar‘i, akan diangkatlah dalam derajat yang mulia. Derajat untuk mendekapi kebenaran, dan termahkotai kemuliaan. Di sana, terletak rahasia untuk menebar inspirasi ke mana-mana.

Tabiat ilmu selalu berkembang: ketika diamalkan, dan juga ketika diajarkan. Menjadi tabiatnya pula, dia akan menjadi berkurang manakala dipetieskan. Entah karena pelit, malas, atau bisa juga takut tersaingi. Terserah sesiapa saja yang mencari-cari alasan untuk tak membaginya. Nah, rahasia inspirasi selalu di situ kan. Ada yang menyebar, kemudian kita memungutnya. Kita menyebarnya, ada selain kita yang kemudian bertindak sama. Itulah mata rantai pahala yang sulit sekali untuk memutusnya.

Ilmu adalah harta, tapi kita tak takut orang lain mencurinya. Ia ringan dibawa, di mana kita berada. Dan saat kita mengerti bahwa mendekapinya adalah kemanisan-kemanisan, maka berusaha memperdalam untuk terus mereguknya akan lebih kita utamakan dari sekadar membiarkan nurani tergiring syahwat.

Ilmu pula, yang selalu menjadi fondasi terdasar dari kokohnya peradaban. Benarlah ketika para ulama itu mengatakan, “Kullu ‘izzin lam yu’kad fa ila dzullin mashiruhu (setiap kemuliaan yang tidak diperkuat dan diberi asas atas dasar ilmu, maka kepada kehinaanlah tempat kembalinya)”.

Seorang hamba, ketika ia berilmu, ia akan dimudahkan oleh Allah dalam upayanya meniti jalan ke surga. Para malaikat pun meletakkan sayapnya untuk menaungi jalannya, karena ridha dengan apa yang tengah ia cari. Bahkan, seorang pemilik ilmu, akan dimintakan ampunan untuknya oleh penghuni langit dan juga bumi, hingga ikan di air pun turut memohonkan ampun untuknya.

Dan alangkah nikmatnya, orang-orang yang berilmu itu, meskipun telah terkubur jasadnya, ia tetap terkucuri pahala dari mereka yang mereguki ilmu darinya dan memanfaatkannya. Ahhh… alangkah indahnya di hari hitung nanti, kita terkaget-kaget, manakala kita tak merasa mempunyai catatan amal sebanyak itu, tiba-tiba terserahi sebegitu banyak catatan kebajikan yang terhadirkan. Itulah keajaiban dan keberkahan dari mata rantai pahala yang tak terputus itu.

Belajar di waktu muda ibarat mengukir di atas batu. Tapi itulah hebatnya. Sulit memang, tapi lekatannya justru akan sulit terhapuskan. Maka nikmatilah betul-betul masa mudamu dengan mereguki ilmu sebanyak-banyaknya, sedalam-dalamnya. Karena para nabi, memang tak mewarisi dinar atau dirham. Akan tetapi, hanyalah ilmu yang mereka wariskan. Dan sesiapa yang bersemangat mengambilnya, ia telah mendapatkan bagian yang amat banyak nan besar. Baca lebih lanjut