/ islamic

Berpenyesalan Panjang

“Semua manusia pada dasarnya satu keluarga. Rabb mereka satu, agama mereka satu, yaitu Islam yang diserukan oleh semua Rasul Allah. Orang yang bahagia dan sukses adalah orang yang dapat memahami Al-Qur’an dan beramal untuk menyebarkan pelajaran-pelajaran yang dapat menumbuhkan cinta dan kedamaian di antara manusia.”

Syaikh Muhammad Taufik

Imajinasikanlah kondisi ini. Saat engkau telah terkapar lunglai tak lagi bisa merasai lagi udara yang menjelajahi bumi. Napasmu sesak, tersengal, berseliweranlah seluruh kenangan apa-apa yang pernah kau lihat, apa-apa yang telah engkau impikan, dan engkau citakan. Jika yang telah terjadi, dan sempat engkau perjuangkan, mungkin akan mensenyumkanmu. Akan tetapi, bagaimana bila apa-apa yang engkau citakan belum juga terealisasikan?

Mari kali ini kita membicarakan masalah kesempatan. Kesempatan masuk dalam kategori dua nikmat yang sering melalaikan. “Ni‘matâni maghbûnun,” kata nabi. “Fîhimâ katsîrun minan nâs,” kata beliau melanjutkan. Ada dua nikmat, begitu bila kita terjemahkan ke dalam bahasa kita, yang sering melalaikan, yaitu, “Ash-shihhatu wal farâgh,” nikmat kesehatan, dan nikmat waktu luang. Ingat, kedua hal tersebut masuk kategori nikmat. Maka, sebagaimana ayat, bila kita pandai bersyukur, tentu akan dilipat dan diganda-gandakan.

Di usia sebesar ini, apa saja yang telah kita lakukan? Adakah beberapa penyesalan yang ingin kita ulang, dan ingin kita selesaikan? Adakah beberapa hal yang sebetulnya ingin kita lakukan di masa dahulu, tapi terkendala beberapa hal yang tak penting sebetulnya, yang menghalangi kita melakukannya? Kemudian sekarang, kita menyesal, padahal kita masih punya kesempatan kala itu. Yah, inilah kesempatan.

Kesempatan, siapapun, harus berusaha untuk diguna-baikkan. Karena penyesalan memang selalu datang belakangan. Dan hari ini, harus kita laksanakan segala apa yang telah kita rencanakan dan impikan, agar di tahun ke depan, kita tak berpenyesalan yang berkepanjangan.

Ada dua macam kesempatan yang biasa menjadi penyesalan. Yang pertama, dalam lingkup aktivitas cita. Kita seringkali menangisi masa lalu serta meratapinya. Terkadang, sampai dalam tahap lupa diri. Padahal, sekarang kita tak lagi hidup di masa lalu, tapi sedang merasakan saat-saat sekarang. Maka, solusinya tentu saja hari ini kita gunakan, agar hari esok, kita tak lagi menyesali seperti hari ini kita menyesali masa lalu.

Baca lebih lanjut

Iklan

Para Pemburu Ilmu

Ilmu akan memutik, berkembang, kemudian tumbuh memohon tinggi nan rindang serta berakar kuat, manakala diusung oleh mereka yang memiliki kemauan dan semangat dada yang membara-bara, serta berbasuhkan kesabaran dalam merengkuhinya.

Lebih utama lagi, manakala kekuatan tubuh sedang dalam masa-masa emasnya. Dan kesemua syarat itu, terwujudi dalam satu tubuh: pemuda. Di sanalah berkumpulnya kekuatan jasmani, lancarnya konsentrasi dan daya pikir, sedikitnya kesibukan hingga bebas untuk melanglangbuana, serta tak adanya tanggung jawab hidup dan kepemimpinan kekeluargaan.

Seseorang hanya akan mampu mengoptimalkan segenap yang ada pada dirinya ketika masih muda saja. Sederhananya begini. Bisa saja, seseorang belajar pada masa tuanya. Namun, pada beberapa momen tertentu, ia pasti akan tersandung dalam kesulitan-kesulitan yang kita yakin bahwa pada masa mudanya, ia pasti bisa melakukannya lebih baik dan maksimal.

Contohnya dalam menghafal Al-Qur’an. Seseorang yang usianya sudah lanjut, bisa saja ia menghafal satu halaman per harinya. Namun, dapat kita pastikan ia juga akan lupa dalam waktu yang cepat pula.

Atau, tentang seseorang yang sudah lanjut usia, dan ingin sekali belajar membaca Al-Qur’an secara benar. Makhrajnya pas, tajwidnya sesuai, dan alunan suaranya merindukan.

Akan tetapi, ia akan kesulitan memperbaikinya, karena lisan yang sudah tak berfungsi normal lagi. Nah, tentu masa-masa optimal telah terlewatkan bukan.

Sebelum terlambat, mari memaksimalkan.

Sungguh anugerah yang perlu disyukuri. Zaman ini, telah memudahi langkah kita untuk mereguki ilmu dari berbagai sarana. Akan tetapi, perlu diingat. Karena itu berarti kita tak lagi menemui alasan untuk tak meregukinya.

“Mencari ilmu adalah kewajiban,” kata Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, “ia merupakan penawar bagi hati yang sakit. Terpenting lagi, bagi setiap hamba adalah harus mengenal agamanya. Sebab mengenal agama dan mengamalkannya adalah penyebab masuknya seseorang ke dalam surga. Sebaliknya, kebodohan mengenai agama dan menyia-nyiakannya menjadi penyebab masuknya seseorang ke dalam neraka,” pungkasnya mewanti-wanti kita.

Baca lebih lanjut