Meniti Jalan Pewaris Nabi

Lihatlah di penjuru Baghdad

Semua berdiri di jendela memegang pena

Siap menuliskan kata-kata Ahmad

Apakah layak Ahmad selamat

Sementara semua manusia sesat?

Imam Ahmad bin Hanbal

 

Suatu waktu, kita akan mengerti. Semakin dalam mempelajari ilmu agama ini, kita akan tersadarkan, bahwa begitu banyak yang harus kita pelajari lagi. Maka ayat ke delapan puluh lima dari surah Al-Isra’, “Tidaklah kamu diberi ilmu pengetahuan kecuali sedikit,” akan membuat kita menganggukkan kepala. Kita rasai betul kebenarannya.

Janji-Nya, ketika kita menyeriusi mempelajari ilmu-ilmu syar‘i, akan diangkatlah dalam derajat yang mulia. Derajat untuk mendekapi kebenaran, dan termahkotai kemuliaan. Di sana, terletak rahasia untuk menebar inspirasi ke mana-mana.

Tabiat ilmu selalu berkembang: ketika diamalkan, dan juga ketika diajarkan. Menjadi tabiatnya pula, dia akan menjadi berkurang manakala dipetieskan. Entah karena pelit, malas, atau bisa juga takut tersaingi. Terserah sesiapa saja yang mencari-cari alasan untuk tak membaginya. Nah, rahasia inspirasi selalu di situ kan. Ada yang menyebar, kemudian kita memungutnya. Kita menyebarnya, ada selain kita yang kemudian bertindak sama. Itulah mata rantai pahala yang sulit sekali untuk memutusnya.

Ilmu adalah harta, tapi kita tak takut orang lain mencurinya. Ia ringan dibawa, di mana kita berada. Dan saat kita mengerti bahwa mendekapinya adalah kemanisan-kemanisan, maka berusaha memperdalam untuk terus mereguknya akan lebih kita utamakan dari sekadar membiarkan nurani tergiring syahwat.

Ilmu pula, yang selalu menjadi fondasi terdasar dari kokohnya peradaban. Benarlah ketika para ulama itu mengatakan, “Kullu ‘izzin lam yu’kad fa ila dzullin mashiruhu (setiap kemuliaan yang tidak diperkuat dan diberi asas atas dasar ilmu, maka kepada kehinaanlah tempat kembalinya)”.

Seorang hamba, ketika ia berilmu, ia akan dimudahkan oleh Allah dalam upayanya meniti jalan ke surga. Para malaikat pun meletakkan sayapnya untuk menaungi jalannya, karena ridha dengan apa yang tengah ia cari. Bahkan, seorang pemilik ilmu, akan dimintakan ampunan untuknya oleh penghuni langit dan juga bumi, hingga ikan di air pun turut memohonkan ampun untuknya.

Dan alangkah nikmatnya, orang-orang yang berilmu itu, meskipun telah terkubur jasadnya, ia tetap terkucuri pahala dari mereka yang mereguki ilmu darinya dan memanfaatkannya. Ahhh… alangkah indahnya di hari hitung nanti, kita terkaget-kaget, manakala kita tak merasa mempunyai catatan amal sebanyak itu, tiba-tiba terserahi sebegitu banyak catatan kebajikan yang terhadirkan. Itulah keajaiban dan keberkahan dari mata rantai pahala yang tak terputus itu.

Belajar di waktu muda ibarat mengukir di atas batu. Tapi itulah hebatnya. Sulit memang, tapi lekatannya justru akan sulit terhapuskan. Maka nikmatilah betul-betul masa mudamu dengan mereguki ilmu sebanyak-banyaknya, sedalam-dalamnya. Karena para nabi, memang tak mewarisi dinar atau dirham. Akan tetapi, hanyalah ilmu yang mereka wariskan. Dan sesiapa yang bersemangat mengambilnya, ia telah mendapatkan bagian yang amat banyak nan besar.

Orang-orang mengata, karena keturunan kita dikenang

Maka ia pun takkan dikenang karena tak memiliki keturunan

Kukata pada mereka, keturunanku adalah hikmah

Maka jika tak kudapati keturunan, hikmah itulah keturunanku

Abul Fath Al-Busti

 

Inilah jalan pewaris nabi. Jalan untuk terus mereguki ilmu. Berhaus-hauslah di sini. Berdahaga-dahagalah selalu. Karena tak ada istilah kembung dalam masalah ilmu. Inilah jalan pewaris nabi. Jalan untuk terus mendekapi kebenaran dan terus meninggikannya. Inilah jalan pewaris nabi. Jalan untuk terus menghiasi diri dengan akhlak rabbani, hingga diri adalah sosok yang dirindui, baik penghuni langit, juga penduduk bumi. Inilah jalan pewaris nabi. Jalan untuk terus menebarkan kemanfaatan. Di ruang-ruang kemungkinan paling kecil sekalipun, di mana di sana terbuka peluang untuk menebar kebajikan, di sanalah dengan jiwa yang lega, kita mengambilnya.

Dan memang, inilah jalan pewaris nabi. Ada banyak karya yang harus kita terakan. Agar generasi setelah kita yang ingin mengerti bahwa kita pernah ada, dan mereka kemudian mengambil inspirasi dari kita. Agar sinar kita tak berhenti pada radius mini, tapi semaksi cahaya mentari menebar di bumi: inilah energi hikmah yang terus merekah melintas masa dan warsa.

Dengan meniti jalan pewaris nabi, maka jalan kita adalah jalan kemenangan yang diusung para pemenang. Saat kita menyusuri jalan kebenaran yang berarti jalan kemuliaan itu, maka di saat yang sama, kita akan termahkotai mutiara kemuliaan dalam setiap episode kehidupan yang terjalankan. Kemudian di sanalah, kita akan menebar inspirasi kebaikan. Seperti para pendahulu kita, yang telah merintis jalan pewaris nabi ini. Sebuah jalan kemuliaan yang tak semua orang berkenan untuk menitinya. Dan tak semua orang diijinkan-Nya. Padahal, di sinilah kemuliaan terhadirkan, peradaban Islam tertegakkan, dan jannah berbinar-binar menanti kehadiran kita sebagai penghuninya.

Semoga semua generasi Islam yang masih bernafas di bumi-Nya ini, bersedia meniti jalan ini. Agar kejayaan sebagaimana yang dulu pernah kita rasai, dapat bangkit dan bersinar kembali. Karena waktu ini, saat kita tengah merasai langit biru dengan kebebasan untuk mereguki hehijau alam, belahan nafas kita di belahan bumi lain, merasai langit peluru dan mereguki hehitam penjajah yang mengancam.

 

Cabutlah akar-akar zaitun

Dari genggaman kami

Penjarakanlah musim semi

Perangilah butir-butir hujan

Lakukanlah semuanya

Tapi jangan coba dekati Al-Aqsha!

Jehad Rajbi

 

Selamat meniti jalan pewaris nabi. Karena inilah jalan pilihan untuk yang mendekapi kebenaran.[]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s