People with Passion Can Change the World

“It’s hard to tell with these Internet startups if they’re really interested in building companies or if they’re just interested in the money. I can tell you, though: If they don’t really want to build a company, they won’t luck into it. That’s because it’s so hard that if you don’t have a passion, you’ll give up.”
Steve Jobs

“Apa semua editor itu seperti kamu, My?” tanya Zulfah suatu hari tentang betapa terlalu rempong-nya saya untuk hanya mengurusi sebuah buku.

Saya tertawa-tawa. Kemakluman yang bisa saya maklumi. Bagaimana tidak. Naskah itu, saya yang bikin konsepnya. Setelah saya rasa matang, saya kemudian membuatnya dalam bentuk presentasi semenarik mungkin. Kemudian, harus masih saya presentasikan ke jajaran yang berwenang: general manager, marketing manager, juga publishing manager. Mereka sepakat, kemudian saya harus mengomunikasikan konsep tersebut kepada penulis yang bersangkutan. Pada kasus tertentu, bahkan saya harus ikut membantu menulis, mengeditnya sendiri, dan terlibat juga dalam pembuatan tata letak dan kavernya. Pada kasus tertentu pula, bahkan ikut merancang markomnya.

“Ya enggak semua lah. Hanya yang agak-agak aneh saja seperti saya ini,” jawab saya sambil terkekeh-kekeh.

“Fachmy itu punya passion. Jadinya ya begitu itu.” Celetuk Wendy yang sedari tadi menjaga laju mobil yang kami bertiga tumpangi agar tetap bisa ngebut ala Toretto, tapi tetap bisa sampai dengan aman di tujuan.

“Wahahaha….” Saya makin terkekeh. “Passion show mungkin. Biar bisa jalan-jalan. Tapi jalan-jalan di catwalk,” kali ini, sabuk pengaman pun hingga terguncang-guncang dengan ulah perut saya akibat perbincangan di mobil, sore itu.

Ah, tapi memang tak semua editor seperti saya. Entah mengapa, saya kok lebih senang membuat konsep baru, daripada harus me-review naskah masuk. Juga lebih suka terlibat hingga ke urusan eksekusi visual produk dan cara mengkomunikasikannya ke konsumen. Bagi saya, itu sesuatu yang sangat menarik.

Oke. Menjawab pertanyaan Zulfa tadi, saya akan mengemukakan jawabannya, bahwa saya tidak hanya memiliki passion sebagaimana kata Wendy, tapi juga masih ada dua hal lainnya—setidaknya sampai detik ini.

#1: Purpose

Ada mungkin beberapa editor yang lebih suka hanya me-review naskah masuk saja. Tapi bagi saya, itu terlalu konvensional. Tidak ada gayeng-gayeng-nya sama sekali. Tidak menarik. Rutinitas menjemukan. Tidak membuat otak berkembang. Tidak membuat skill melangit. Enggak ada tantangannya. Minus pengalaman baru. Enggak nyeni.

Nah, itulah purpose. Saya memiliki tujuan-tujuan dalam melakukan sesuatu. Seperti saat saya sangat tidak suka sekali di pagi hari menonton berita. Bagi saya, itu sangat-sangat wasting time dan membuat otak dijejali dengan berita-berita yang membuat saya mengerti hal-hal yang bila seandainya saja saya tidak mengerti pun tidak apa-apa, dan jika saya mengerti pun tidak akan membuat saya jadi tambah keren.

Kemauan untuk terus berkembang. Keinginan untuk terus meningkatkan kemampuan. Kesungguhan untuk terus menghasilkan yang terbaik. Pada akhirnya, hal-hal seperti itulah yang akan membuat kita lebih baik di masa depan. Membuat kita merasakan arti bahwa kita ini hidup mbok ya jangan hanya makan, bengong, dan mencuci baju saja. As simple as that.

 

#2: Passion

Sangatlah membosankan melakukan rutinitas harian dari jam setengah delapan hingga setengah lima, dalam tempat yang sama, melakukan hal yang itu-itu saja. Padahal, dunia ini luasnya luar biasa, pemandangannya indahnya subhanallah banget. Tapi, justru memilih membatasi diri di kubikel yang sama tiap harinya. Enggak ada pemandangan segar sama sekali. Welcome to the industry. Welcome to the jungle. Saat kita terjebak dengan rutinitas macam itu, satu hal yang harus kita miliki adalah passion.

Passion akan membuat diri ini mengerti: kenapa saya harus berangkat ke kantor pagi ini. Bagaimana membuat lompatan-lompatan tantangan untuk diri sendiri. Mengukur lagi tujuan-tujuan dan disesuaikan dengan apa yang sedang dilakukan saat ini. Hal kreatif apa yang sudah dan akan kita lakukan. Amatlah sangat membosankan jika hidup hanya mengurusi gaji, berapa uang yang didapat, tunjangan apa yang sudah dimanfaatkan, fasilitas apa yang sudah diambil, dan lain sebagainya. Saya sering mendapati kawan yang mengeluh tentang pendapatannya di sebuah perusahaan. Saran saya, “Ya pindahlah, Bro.” Sudah pindah, masih mengeluh lagi. Dan keluhannya pun sama. Yang seperti itu, saya kok berani garansi, mau pindah berapa ratus kali ya akan tetap seperti itu. Dia enggak punya passion dan juga purpose.

Passion diperlukan untuk bahan bakar aktivitas. Jika enggak ada. Ya begitu-begitu saja. Rata-rata manusia. Padahal, saya selalu berharap saya bisa di atas rata-rata. Kayaknya hidup lebih berguna. Lebih bermanfaat kalau di atas rata-rata. Karena, kalau ‘di atas’ baru bisa ngasih yang ‘di bawah’.

Lagipula, saya masih tertarik dengan kata Steve Jobs bahwa, “People with passion can change the world.” Juga kata Kamen Rider Kabuto, “Walking path to the heaven. I am the man who will rule everything.”

 

#3: Foundation

Walaupun saya masih berada di ‘kapal pesiar’ milik orang lain. Saya akan tetap menggunakan passion saya. Menghidupinya baik-baik. Merawatnya baik-baik. Mengapa saya melakukan itu? Saya tengah membangun fondasi. Fondasi itu enggak dibangun satu hari dua hari. Berhari-hari. Berbilang bulan. Bahkan bertahun-tahun. Saya baru masuk di industri ini sejak 2009. Artinya, baru dua setengah tahun. Oh tidak. Itu sangat-sangat masih amateur, pemula banget. Untuk menaklukkan daerah musuh, kita harus memahami secara keseluruhan apa-apa yang ada di sana. Kemudian, meramu dengan strategi-strategi bercampur kreativitas ilmu-ilmu yang beraneka. Begitulah yang dilakukan oleh Zhuge Liang dan Zhou Yu saat mengalahkan Cao Cao yang jumlah pasukan dan perlengkapannya berkali-kali lipat.  Terjun langsung di industri adalah strategi saya untuk memahami langsung apa yang ada dan bagaimana cara berpikir industri tersebut. Dengan begitu, saya sebagai penulis dan penerbitan sebagai industri kreatif yang menaungi para penulis, bisa saya pahami sebaik-baiknya. Dengan obyektivitas yang seimbang.

Okelah, saya menghargai dengan mereka yang, “Alahhhh, langsung take action saja, nanti juga ketemu jalan di tengah jalan.” Tapi, saya tidak seperti itu. Okelah kita memang harus bergegas segera menemui ujung jalan dan memulai perjalanan, tapi saya juga harus menyiapkan dan enggak mau mati di tengah jalan. Menyiapkan dengan matang adalah 70% kemenangan perjalanan.

Saat fondasi kuat, mau melakukan apapun saja akan enak. Saat fondasi rumah kuat, mau ada gempa, mau ada banjir, mau dibangun tingkat berapa lagi lantainya juga tetap kokoh. Saat fondasi pohon kuat, mau diterpa angin, mau digoyang badai, akan tetap berdiri, walau terkadang dedaunannya runtuh. Tapi fondasi, adalah konsep utama yang tidak boleh diabaikan.

Kita memang harus bergegas, tapi jangan terburu-buru. Fondasi yang kuat akan membuat kita keren. Orang keren, diapa-apain juga tetap keren. Bahkan, enggak diapa-apain juga tetap keren. Tapi kalau fondasi enggak kuat, kita tidak akan jadi keren. Orang enggak keren, diapa-apain juga tetap tidak akan keren, malah cenderung mesakke, kasihan.

Membangun fondasi yang kuat mungkin akan terlihat lambat. Tapi percayalah, justru itulah jalan tercepat. []

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s