Ohayou

“Waktu yang paling besar keberkahan dan keindahannya adalah setelah terbit fajar. Siapa yang ingin menghafal, mengkaji, menulis, bepergian, atau melakukan transaksi bisnis, hendaknya dia mengerjakannya pada awal waktu pagi: saat ketika rezeki tengah dibagikan, pikiran menjadi jernih, gerak-gerik kehidupan mulai nampak, burung-burung beterbangan, dan angin berembus sepoi-sepoi basah.” –Aidh Al-Qarni

Leo Babauta—sosok minimalis yang sangat digemari Badroni Yuzirman, penggagas TDA—pernah menghadirkan catatan yang membuat saya berheran-heran. “Jikalah engkau merasa berkesulitan dalam tulis-menulis, cobalah meritualkan diri untuk secara rutin menulis di setiap pagi.”

Pertanyanya kemudian ada dua: mengapa harus pagi dan mengapa harus rutin.

Soal mengapa harus pagi, Leo membeberkan alasannya dengan sangat apik, “Mornings, for me, is the quietest time of the day. The kids aren’t up, there’s no hustle and bustle, the phone’s not ringing, the television’s not on. It’s just me and the cat. The sun is rising, and the day is new and beautiful. It’s the perfect time for great writing. Even if your morning writing ritual starts when you get in the office, it’s still the quietest time of the day for many offices. And quiet is good for writing.”

Lalu, soal mengapa harus rutin, penjabaran ini tentu akan semakin menyadarkan kita, “Routines ensure that things get done. Without order is chaos. And while many of us writers enjoy chaos, it’s not always the most productive way of doing things. If you have a specific routine, with a specific order of doing things, and it becomes a habit, you know that what needs to get done will get done. It’s simple and effective. This ritual will not become a habit right away. It will take focus and energy to do it at first, but after a fortnight or so, it should become an established routine and things should start to go smoothly. Ahhh! Productive and enjoyable writing!”

Julia Cameron, dalam karyanya The Artist’s Way bahkan menggagas metode Morning Pages untuk meningkatkan kreativitas, yaitu menulis anything that comes to your head, serta menuliskan segala hal yang ingin ataupun harus dilakukan pada hari itu sebanyak tiga halaman di awal pagi. Awal-awal, kita akan kesulitan untuk menyelesaikan tiga halaman. Paling-paling, hanya akan selesai dua paragraf. Dan untuk menyelesaikan halaman yang tersisa, ditulis saja dengan: aku harus menyelesaikan sampai tiga halaman, aku harus menyelesaikan sampai tiga halaman, aku harus menyelesaikan sampai tiga halaman. Begitu seterusnya, sampai tiga halaman habis. Hal itu sudah diantisipasi oleh Julia. Tidak apa-apa. Lama-lama, akan terjadi kebiasaan, dan percayalah, engkau akan ketagihan. Tujuan dari metode Morning Pages ini adalah untuk membersihkan otak dari hal-hal yang tidak perlu dan memberikan semangat di awal hari. Kabar baiknya, kebiasaan tersebut tak hanya meluweskan kemampuan menulis, tapi juga memperbaiki kualitas hidup.

***

Ah, pagi. Jauh-jauh waktu sebelum Leo dan Julia memberikan inspirasinya kepada kita untuk merutinkan menulis di waktu pagi, Sang Nabi justru telah memberikan kita clue-nya.

“Ya Allah, berkahilah umatku di pagi hari,” doa Rasulullah suatu kali. Shakr, periwayat dari hadits ini adalah seorang pedagang. Ia terbiasa membawa barangan dagangannya pagi hari. Di masanya, Shakr termasyhur sebagai saudagar sukses dengan harta berlimpah-limpah hingga meruah.

Pagi adalah simbol kegairahan. Setelah semalaman berkelana mimpi, pagi menghadirkan kesadaran, “Oke. Rencana-rencana telah tersusun semalam. Visualisasi telah tergambarkan jelas semalam. Kini, saatnya beraksi dan menunjukkannya pada dunia!”

Pagi adalah simbol semangat. Setelah lelah menghajar seharian kemudian kita terkulai dan langit pun gelap pekat, pelan-pelan bebintang hadir dan dengan cantiknya berkerlip bergantian. Setelah hajaran kelelahan, langit seolah mengajarkan, “Tak perlu meratap di pekatnya gelap. Selalu ada kerlip-kerlip harapan yang membuatmu tersenyum dan bersemangat menyambut lagi pagi dengan kesegaran optimisme. Dan saat gelap semakin pekat, justru di sanalah pelan-pelan berganti pagi.”

Pagi adalah simbol kesegaran. Di antara perputaran seharian, pagi adalah saat tersegar dalam durasi hari. Hawa kesegaran untuk memberikan energi seharian. Hawa kesegaran untuk menaklukkan tantangan seharian. Hawa kesegaran untuk berkata pada diri sendiri, “Mari mulai berkarya lagi!”[]

Iklan

4 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s