In Absentia Luci, Tenebrae Vincu

I want it to feel like there is more to the story than can be told.”

—Mike Mignola

Jagoan ini benar-benar aneh. Jika jagoan lain kostumnya berwarna-warni atau malah berhitam-hitaman sok serem, dia malah sangat minimalis kostumnya: overcoat kulit dan utility belt, serta celana tentu saja. Lebih aneh lagi tentu sosoknya: tinggi besar, warna tubuhnya merah, berekor, berjenggot, tangannya besar sebelah, kakinya seperti kaki kambing gagal di sembelih, dan jidatnya ada bekas tanduk yang dipotong, serta pistol besar berjuluk Samaritan sebagai senjatanya hadiah dari Torch of Liberty. Ya, dia adalah Hellboy. Bila jagoan lain melawan penjahat-penjahat yang tak kalah super dan berpenampilan keren, musuhnya justru seperti monster-monster kelas murahan di film kelas B. Walau begitu, jangan salah, penggemar karakter ciptaan Mike Mignola ini justru bejibun.

Pada tahun 1993, Mike Mignola’s Hellboy: World Greatest Paranormal Investigator yang mengisahkan aksi Hellboy melawan anjing raksasa—yang entah Anubis atau apa—dibagikan secara gratis kepada pengunjung di San Diego Comic Con. Tak cukup sampai di situ, di Comics Buyer’s Guide, jagoan ini berlaga lagi. Kali ini, dia menyelamatkan seorang gadis dari Prof. Dr. Herman Von Klempt. Dua karya awal yang kisahnya hanya untuk mengenalkan pembaca ke sosok jagoan baru itu—sekaligus untuk promosi awal—sukses meributkan pembaca setia bacaan bergambar. Penyebabnya memang karena Mike Mignola yang sudah malang melintang di DC dan Marvel, ditambah dengan penulis naskah Hellboy adalah John Bryne; kreator legendaris yang menggawangi Fantastic Four, X-Men, dan Superman: The Man of Steel. Tak perlu heran bila miniseri Hellboy yang diluncurkan oleh Dark House Comics kemudian menuai sukses besar di tahun 1994.

Dalam ceritanya, kemunculan Hellboy bermula saat Perang Dunia II di mana Hitler meluncurkan proyek mistik untuk menunjang kekuatannya dalam peperangan. Pada tahun 1944, diluncurkanlah proyek Ragna Rok. Pemimpinnya adalah Jenderal Klaus Werner von Krupt. Di daulat menjadi staf ahlinya adalah Leopold Kurtz, Ilsa Haupstein, Prof. Dr. Karl Ruprect Kroenen, serta seorang ahli mistik asal Rusia, Grigori Rasputin. Mereka akan menempati Pulau Tamagment, Skotlandia, di mana Rasputin akan mendatangkan ‘sesuatu’ dari ilmu mistis.

Inggris punya tim mistis juga yang bernama British Paranormal Society. Tiga staf ahli mereka, yaitu Prof. Malcom Frost, Trevor Bruttenholm, dan seorang cenayang perempuan Lady Cynthia Eden-Jones, berusaha mengantisipasi akan terjadinya ‘sesuatu’ berkenaan dengan proyek Ragna Rok tersebut. Di kawallah tiga staf ahli itu oleh Torch of Liberty dan satuan pasukan di bawah pimpinan George Whitman.

Setelah ritual diselesaikan, ‘sesuatu’ yang telah diperkirakan itu pun terjadilah. Seberkas sinar menghantam lokasi, dan muncullah sebuah makhluk kecil berwarna merah yang mirip setan. Prof. Frost sangat panik dan yakin bahwa itu adalah setan dari neraka, akan tetapi Torch of Liberty yakin makhluk itu tidak berbahaya. Dari mulut Lady Cynthia bergumamlah kemudian nama, “Hellboy….”

Dibawalah kemudian Hellboy ke pangkalan Angkatan Udara AS di New Mexico. Trevor Bruttenholm pun mendirikan B.P.R.D (Bureau for Paranormal Research and Defense); badan yang menangani berbagai penyelidikan mistis dan antisipasi terhadap ancaman yang bersifat supranatural.

Musuh utama Hellboy adalah Ogdru Jahad, atau sering disebut juga dengan The Serpent. Dia adalah The One who is Seven. Disebut begitu karena ia adalah satu, tetapi tujuh makhluk berada di dalam kesatuan itu, yaitu Nunn-Jahad, Adad-Jahad, Amon-Jahad, Irra Jahad, Belili Jahad, Nergal-Jahad dan Namrah-Jahad. Nah, Rasputin adalah hamba setianya. Ritual saat mendatangkan Hellboy hanyalah ritual tingkat-tingkat awal untuk membuka portal antara dunia ini dengan dunia jahat The Serpent.

Hellboy yang mempunyai lengan kanan yang kebesaran, sebenarnya lengannya tersebut adalah sebuah kunci untuk membuka gerbang kiamat. Lengannya biasa disebut dengan The Right Hand of Doom. Di kepalanya, tersemat mahkota api yang tidak terlihat: Crown of the Apocalypse. Hellboy disebut pula dengan Anung Un Rama, yaitu pemilik sah dari The Right Hand of Doom dan Crown of the Apocalypse, yang dengan kata lain ia adalah World Destroyer atau The Great Beast; sosok pembawa kiamat di dunia. Tapi, Hellboy mengambil keputusan dengan memotong tanduknya, dan ia tak ingin dirinya menjadi World Destroyer. Maka, jadilah dia sebagai jagoan pembasmi kejahatan sebagaimana kita kenal sekarang ini.

Mike Mignola, pencipta karakter ini, disebut-sebut sebagai sosok perindustrian komik yang secara konsep, desain, maupun gambarnya dinilai jenius tidak hanya oleh fans tapi juga kritikus. Industri komik besar macam DC dan Marvel pernah merasakan pelayanan ide-ide brilian dan coretan khasnya. Bahkan, gara-gara Mignola mengerjakan Batman: Gotham by Gaslight, DC langsung bikin lini Elseworlds. Setelah sepuluh tahun mengerjakan proyek komik orang lain, sebagaimana obsesi para komikus handal, ia pun ingin menciptakan karakter rekaannya sendiri. Gaya gothic, bangunan jaman Victoria, Nazi, dan monster-monster murahan ala film horor, menjadi khasnya. Untuk itulah ia menciptakan Hellboy. Dunia yang ia ciptakan sendiri dengan gaya yang benar-benar ala Mignola. Sebuah proyek idealis, yang justru laris manis. Tapi, ada satu masalah lagi: ia belum cukup percaya diri untuk menulis naskah. Digaetlah John Byrne untuk membantunya mengembangkan ide-ide yang bertumpuk di kepalanya. Lahirlah kemudian Hellboy: Seed of Destruction. Obsesinya tak berhenti sampai di situ. Sukses di periode-periode awal, ia pun ingin menulis naskahnya sendiri. Di Hellboy: Wolves of St. August, ia pun melakukannya. Lagi-lagi, fans dan kritikus memujinya. Walau tanpa John Byrne, ternyata Mignola mampu menunjukkan kualitasnya sendiri. Brilian! Tak heran, bila Will Eisner mengomentari tentangnya dengan, “Mike Mignola adalah master dari jenis seni impresionistik dinamis yang memengaruhi ritme graphic storytelling modern.”

****

Obsesi adalah salah satu pilar terbesar untuk membuat gairah kita dalam berkarya menjadi kokoh, dan idealisme adalah pondasinya. Pertanyaan yang sering berkelindan adalah: berkarya yang idealis atau komersil saja? Semakin panjang dalam jiwa kita tarik ulur di antara idealis atau komersil, yang justru terjadi selanjutnya adalah tak jualah karya benar-benar lahir. Paling aneh tentu saja pernyataan: menulis buku yang sesuai dibutuhkan pasar adalah tidak idealis, karena buku idealis adalah buku yang kalau dibaca dahi pasti berkerut, kepala agak pusing-pusing, serta susah dicerna sekali waktu.

Idealis adalah berkarya di wilayah mana saja. Sebanyak pembaca yang bisa dijangkau. Sekuat apa pengaruhnya. Seluas kata benar-benar bisa memberi kontribusi agar dunia bisa lebih baik dihuni untuk semuanya. Sesuai dengan slogan B.P.R.D, “In Absentia Luci, Tenebrae Vincu: saat cahaya tiada, kegelapan akan meraja.” Di sanalah karya kita mengambil perannya untuk menjadi cahaya.[]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s