Soul

“Sit down, and put down everything that comes into your head and then you’re a writer. But an author is one who can judge his own stuff’s worth, without pity, and destroy most of it.”

Colette

Namanya Jules Verne. Di beberapa dasawarsa, namanya disanjung-sanjung para ilmuwan. Padahal ia adalah seorang penulis, bukan ilmuwan. Tak heran, karena karya-karya sastranya adalah jenis fiksi yang merangkum imajinasi dengan kemungkinan penalaran ilmiah. Tergelarilah ia sebagai Bapak Fiksi Ilmiah. Maka kita dapati dalam novel-novelnya, Verne telah dianggap menemukan bom atom sebelum Einstein, merancang balon terbang sebelum Zeppelin, serta mengangankan pesawat terbang dan helikopter sebelum Wright. Verne benar-benar menulis sesuatu yang belum ada di zamannya. Tapi baginya, itu bukan hanya rekaan semata, karena ia tahu, apa yang dibayangkannya saat itu, orang lain akan mewujudkannya di masa depan.

Lahir pada tahun 1828 di Nantes, Perancis. Ayahnya adalah seorang pengacara, dan ingin agar Verne mengikuti jejaknya. Akan tetapi, Verne menolak, dan justru ingin berpetualang, dan berlayar di laut. Itu yang ada di pikiran Verne waktu kecil. Ayahnya yang tahu benar akan keinginan anaknya tersebut kemudian berusaha keras agar Verne menjadi ahli hukum. Berbagai cara ditempuh, hingga akhirnya Verne tak kuasa menolak arahan dari ayahnya tersebut. Maka ia berjanji dengan sederhana pada dirinya sendiri, “Aku akan berlayar dengan imajinasi-imajinasiku!”

Agar benar-benar menjadi pengacara, Verne dikirim ke Perancis. Tetapi di sana dia justru bergaul dengan para seniman masyhur, salah satunya adalah Alexander Dumas, dan melakoni bermacam-macam aktivitas, mulai dari penulis cerita komedi, pekerja teater, penyair di siang hari, dan menghabiskan malam-malamnya di Bibliotheque Nationale, Perpustakaan Nasional Perancis, untuk melahap buku-buku sains. Maka lahirlah di tahun 1962 novel pertamanya: Around the World in Eigthy Days. Karya-karya sci-fi berikutnya pun kemudian berlahiran: Voyage to the Center of the Earth, From the Earth to the Moon, dan Twenty Thousand Leagues under the Sea, serta seratusan novel lainnya yang kemudian ia tulis.

Saking masyhurnya Verne di antara tahun 1873 hingga 1886, bukunya menjadi primadona di mana-mana, dan di kalangan apa saja. Tak tanggung-tanggung, bahkan Paus Leo XIII menjamunya secara khusus, dan jalanan kharismatik Roma pun tertulis besar-besar dengan iringan kembang api, Eviva Gualio Verne, yang berarti Panjang Umurlah Verne saat menyambut kedatangannya di sana. Seperti janjinya di waktu kecil, perjalanan menulis Verne memang penuh dengan imajinasi dalam karya-karyanya. Akan tetapi, di balik imajinasinya, terkandung kebenaran-kebenaran ilmiah yang terbukti bahwa hal tersebut memang mungkin diadakan di masa depan. Serunya lagi, Verne mempunyai sebutan untuk penggemarnya sendiri, yaitu Vernian.

Berbekal pengetahuan dan imajinasi, Verne mengajak pembaca berpetualang ke pusat bumi dalam Voyage to the Center of the Earth. Bahkan, karya ini sudah difilmkan dengan sangat mengesankan yang diperankan oleh Brendan Fraser dengan judul Journey to the Center of the Earth. Karya-karyanya menjadi inspirasi proyek ilmiah. Dalam Twenty Thousand Leagues under the Sea, Kapten Nemo dengan Nautilusnya yang mengolah listrik dari air laut, menyelam di bawah es menuju Kutub Selatan itu, dalam delapan puluh delapan tahun kemudian, angkatan laut AS meluncurkan kapal selam nuklir yang diberi nama Nautillus, yang digunakan untuk melakukan penyelaman ke kutub Utara. Seperti Verne, bermain-mainlah dengan imajinasi, karena itu adalah kendaraan yang membawa kita terbang tinggi, dan memperkaya karya.

Di sini kita berbicara tentang aktivitas yang bermula dari jiwa. Jika kau sudah menemukannya dalam dirimu, apa itu jiwamu, apa itu aktivitas yang ketika engkau melakukannya kau serasa ‘mati’ jika tak melakukannya barang sehari saja, maka, kau telah menemukannya. Begitu cara gampang menemukannya. Maka, walaupun engkau telah tua, walaupun engkau telah dimakan usia, engkau tetap melakukannya. Karena itu adalah jiwamu, karena itu adalah duniamu.

Maka, saya sering berpendapat seperti ini, bahwa menulis itu butuh jiwa dalam melakukannya. Kenapa? Jika tidak begitu, tulisan tak akan mempunyai ruh, dan muatan pikiran yang kuat. Berpeluh lelah dengan teori, bersimbah keringat dengan pemilihan diksi, tapi jika kau melakukannya hanya untuk meraih materi yang melimpah dan meruah, hanya untuk meraih kemasyhuran, percayalah, semua takkan bertahan lama. Seiring waktu, peningkatan kualitas takkan kau dapatkan. Seiring hari, kualitas tulisan pun takkan kau peroleh. Karena ini semua bermula dari hal terdasar, dan kita menyebutnya dengan: jiwa.

Jika jiwa saja tak kau punya, kau hendak berbagi kepada dunia dengan apa?[]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s