Superwords

“An author in his book must be like God in the universe, present everywhere and visible nowhere.”

Gustave Flaubert

Historia vitae magistra. Sejarah atau pengalaman adalah guru kehidupan yang baik. Itulah cara sederhana memulai menulis. “Menulislah tentang pengalaman dan perasaanmu sendiri,” kata J. K. Rowling. Setiap orang mempunyai jejaring dan jalan hidup sendiri-sendiri. Semua akan terasa menyenangkan saat kita menuliskan kisah kita tersebut. Ada banyak orang yang membutuhkan kisah itu, kemudian diambil maknanya. Itu pun saja sudah disebut menulis. Artinya, tak perlu memikirkan pusing-pusing harus menulis apa. Mulailah dari hal-hal sederhana yang pernah terjadi dalam hidup kita. “Menulislah dengan alasan apapun asal bukan untuk meremehkan,” kata Stephen King. Menulislah apa saja yang kita mau, dan mulailah menulis apa saja yang kita tahu. Dua hal tersebut akan membangkitkan serta membuat semua kekata yang kita goreskan akan terasa nikmat dan berdaya.

Menulis adalah mengubah hal-hal negatif menjadi positif dalam kehidupan. Lalu, apa ciri yang melekat di dalam diri seseorang yang dapat menunjukkan bahwa dia dipengaruhi dan diubah oleh sesuatu yang positif? Dia mau dan menjadi berkembang, itu jawabnya. Menulis, paling tidak akan mengubah si penulis menuju pemahaman dan cara hidup yang lebih baik. Di saat yang sama, dia kemudian juga berdaya dan benar-benar terbangkitkan antusiasmenya untuk terus lebih baik dalam menyajikan tulisan. Setiap katanya berdaya: memberikan pengaruh, menyajikan keindahan, melazimkan keanggunan, dan rerentet katanya mewakili susunan menuju kehidupan yang lebih baik. Lalu, bagaimana agar berdaya? Berikut ini semoga bisa menjadi inspirasinya.

Pertama, Kekuatan Jiwa.

Susunan kata yang powerful bukan lahir dari diksi yang rumit dan tidak memahamkan. Ia justru hadir dari kesederhanaan dan kedalaman makna di saat yang bersamaan. Kesederhanaan berarti menyajikan hal-hal rumit nan berbelit ke dalam susunan yang mudah dimengerti. Dan itu tidak mudah melakukannya. Kedalaman makna berarti ada idealisme, keyakinan, dan pesan penting yang hendak kita sampaikan. Ketika pembaca membaca susunan kata yang kita torehkan, selalu ada makna-makna baru yang membuat mereka mengangguk mengerti, mengucap kata setuju, dan melompat berteriak, “Aha!”. Begitulah kekuatan jiwa bekerja dalam sebuah tulisan: menyadarkan, membangun, kemudian menggerakkan mereka ke arah yang lebih baik. Bumi semakin menjadi tempat yang damai untuk ditempati. Kata semakin menjadi santapan menyedapkan nan menggairahkan kehidupan manusia. Dan dari kekuatan jiwa, lahir semangat tak pernah menyerah untuk menuntaskan kerja kreativitas ini. Yang paling penting dari kekuatan jiwa: azzam yang kuat nan membahana akan mengalahkan mood yang datangnya tak pernah diduga itu. Itulah mengapa kita mendapati seorang Deliar Noer mampu merampungkan lebih dari 1000 halaman buku autobiografinya Aku Bagian Umat Aku Bagian Bangsa.

Begitulah. Kekuatan jiwa yang mengalir ke dalam tulisan, akan menyebarkan ide-ide yang menggerakkan jiwa untuk bangkit tinggi. Satu kebaikan yang mencuat dari setiap rinai kalimat akan membawa perubahan-perubahan yang kita sendiri barangkali akan terpana dengan efeknya. Suatu hari nanti, kita akan mengerti, kalimat-kalimat sederhana kita, tiba-tiba menjadi bahan perubahan banyak orang. Bukan kecerdasan, akan tetapi kekuatan jiwa yang menggerakan sajalah yang kemudian membuat dunia lebih baik. Mengapa sering terjadi tidak adanya titik persambungan antara pikiran dan tulisan kita sendiri? Karena kita tak ada jiwa saat melakukannya. Jadilah tulisan tak ada rasa. Dalam kondisi seperti itu, menulis akan terasa sangat melelahkan. Dan juga menggilakan.  Akan tetapi, saat kedua hal itu nyambung, ide-ide deras mengalir dan gagasan-gagasan mengguyur bagai banjir.

Kedua, Menikmati Proses dan Menghargai Penikmat.

Seperti koki terbaik. Ia meramu bumbu demi bumbu dengan hati-hati. Ia meracik bahan demi bahan dengan sangat telaten. Ia ingin menghadirkan yang terbaik bagi para penikmat masakannya. Ia melakukan itu semua bukan untuk menjaga namanya agar tetap harum. Tapi karena ia menikmati proses pembuatannya, dan ia menghargai para penikmat masakannya. Maka ia harus menghadirkan yang terbaik untuk mereka. Sebegitu pula dengan menulis. Sebenarnya, cacat pada satu kata yang kemudian salah ketik dan hurufnya menjadi berbalik atau berkurang, bukanlah suatu cela besar. Akan tetapi, bagi para penulis yang menikmati prosesnya dan menghargai pembacanya, ia akan menghadirkan susunan kata terbaik yang ia punya. Walau terkadang proses itu membutuhkan waktu yang panjang dan ketelitian yang rumit. Tapi sekali lagi, ia menikmati dan menghargai. Lorraine Monroe, menulis dalam bukunya Nothing’s Impossible, Good works will be recognized-ultimately. But if you work for the recognition alone, you may be in for a long wait. Setiap pekerjaan yang baik, pada akhirnya akan mendapatkan pengakuan. Tetapi sebaliknya, jika kita bekerja untuk mendapatkan pengakuan, barangkali kita akan berada pada saat yang sangat panjang.” Begitulah, kerja-kerja yang bagi orang lain mungkin terlihat membosankan dan membuang-buang waktu itu, bagi para pelakunya justru kenikmatan untuk menghadirkan karya unggul yang anggun. “Apa pun yang datangnya dengan cara yang mudah,” kata Sa’di, “tidak akan berumur lama. Di Cina membutuhkan waktu empat puluh tahun untuk mencetak sebuah mangkuk. Sementara di Baghdad, mereka membakar seratus buah setiap hari dan engkau tahu perbedaannya terletak pada harga dan kualitasnya. Seekor anak ayam, begitu ia lahir akan segera dapat mencari sendiri remah-remah makanannya. Sementara bayi manusia, bodoh tentang tujuan dan alasan ia dilahirkan. Tetapi, akal anak ayam tidak pergi lebih jauh daripada remah-remahnya. Sementara kebijaksanaan manusia dapat menyingkap seluk beluk keabadian. Perbedaan jelas antara kaca dan mutiara adalah mutiara jarang didapat.”

Ketiga, Sikap Mental.

Ada dua macam penyakit yang membuat kita tak pernah melejit. Pertama, banyak mengeluh. Banyak mengeluh berarti selalu menyalahkan sendiri akan kerja dan kualitas diri. Tak pernah memiliki rasa percaya diri yang cukup untuk memulai dan mengakhiri menulis. Selalu merasa lebih jelek hingga tak pernah berani menulis. Kedua, cepat puas. Menulis tidak mengeluarkan kemampuan terbaiknya saat itu. Cepat beranggapan demikian, “Ah, banyak yang lebih jelek dari ini juga bisa terbit.” Menulis bukan tentang seperti itu. Tetapi bagaimana menantang diri sendiri untuk mencapai tahap yang lebih baik. Memiliki keterampilan yang lebih anggun dan menarik. Jika kita sudah memiliki sikap mental yang baik dalam menulis, apapun akan menjadi sangat nikmat dalam prosesnya. Dan tunggulah keajaiban-keajaiban yang hadir, saat kita sudah totalitas di dalamnya. Akan banyak kejutan yang di luar jangkauan nalar kita.

Keempat, Gaya yang Berbeda.

Saya yakin kita terlahir dengan segala keunikan yang menyerta. Kita boleh menulis dengan tema yang sama dengan yang orang lain kerjakan. Tapi tidak dalam cara kita memaknai, mengemas, dan juga menuturkan. Bagaimanapun, dalam sebuah produk, jika kita mengandalkan keunggulan hanya dalam isi saja, maka akan banyak yang meniru dengan mudah. Akan tetapi, jika unggul dalam isi dan marketing, maka akan banyak yang belepotan jika ingin meniru. Isi adalah tema, dan marketing adalah kemasan kita dalam menuturkan. Sikap me too dan benchmarking berbeda. Mee too adalah menjiplak 95%, dan 5% modifikasi. Mengapa kita harus menjiplak gaya penulis lain? Biarlah mereka tetap dengan gaya mereka. Kita bangun gaya sendiri. Menjadikan mereka inspirasi itu berbeda dengan bajakisasi. Jika kita ingin menjadikan mereka menjadi lompatan awal prestasi, maka kita gunakan benchmarking. Yaitu sikap total addicted dengan penulis pujaan. Suka dengan gaya menulisnya J.K. Rowling pengarang serial Harry Potter itu? Maka bacalah semua buku-bukunya. Perhatikan benar bagaimana cara dia membangun kalimat. Cara dia meletakkan titik dan komanya. Cara dia membuka dan menutup paragraf. Cara dia membangun karakter. Cara dia mengatur setting yang apik. Cara dia mengejutkan pembaca dengan hal-hal seru. Jadilah kecanduan benar dengan semua yang berhubungan dengan dia. Kuasai semua. Jadilah mata-mata untuk semua karya-karyanya. Baik itu berupa buku ataupun hanya sekadar artikel darinya. Setelah semua itu dilakukan, timang-timang, serap, saring, kemudian campurkan dengan gaya kita sendiri. Kita berguru kepadanya, kemudian mengolah dengan kanuragan kita sendiri. Kita mengupas habis keunggulannya, kemudian dipadukan dengan keunggulan kita sendiri. Di dua keunggulan yang tergabung menjadi satu itulah, kita melakukan lompatan prestasi. Nalarnya sederhana. Saat pembaca memegang erat karyamu, mereka sedang ingin membaca karya kamu, bukan karya J.K. Rowling. Tapi bila kau menggunakan mentah-mentah cara J.K. Rowling, untuk apa mereka membaca karyamu? Seharusnya mereka langsung membaca karya Rowling. Sederhana sekali.

Kelima, Asupan yang Baik.

Jika ingin mengeluarkan yang terbaik, maka asupilah diri sendiri dengan hal-hal yang baik. Sebegitu pula saat ingin menghadirkan kekata yang mempesona. Asupilah diri ini dengan asupan literasi yang memadai. Bangunlah wilayah untuk diri sendiri. Wilayah yang semua isinya adalah dunia literasi. Itu akan memberikan pengaruh yang luar biasa dan memesatkan kemampuan kita. Setelah itu, kita bisa memberdaya kata-kata yang kita torehkan dengan lebih apik. Bagaimana caranya? Pertama, libatkan diri ke dalam masalah yang sedang kita tulis. Menjadi lebih intuitif, bukan sekadar interpretatif. Kita menghadirkan rasa-rasa yang kita punya ke pembaca, bukan sekadar menghadirkan data-data yang membuat mereka pusing kepala. Kedua, tergila-gilalah membaca. Ada dua jenis. Absorber reader, membaca untuk menyerap isinya. Ini akan membuat kita kaya akan data. Dan reviewer reader, membaca untuk menilai, memberi komentar, memberi catatan. Ini akan membuat kita kebanjiran gagasan yang sebegitu banyak. Ketiga, cinta dengan aktivitas menulis. “If you don’t love the work you’re doing, you get sick –phisically, mentally, or spiritually. Eventually, you’ll make others sick, too. Jika kamu tidak mencintai pekerjaan yang sedang kamu lakukan, kamu akan sakit –secara fisik, mental, atau spiritual. Bahkan, bisa jadi kamu akan membuat orang lain ikut sakit pula.” Tulis Lorraine Monroe. Maka, saat dalam menulis kita merasa mumet menghadirkan kata, jangan-jangan pembaca akan mumet pula. Cintailah, rasakan dalam-dalam, dan alirkanlah kekuatan jiwa. Hadirkan sesuatu yang berharga untuk pembaca. Itu akan membuat kata lebih berdaya.[]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s