Legend

“A man will turn over half a library to make one book.”

Samuel Johnson

Hemingway memuji sosok ini habis-habisan. Bahkan Hemingway menempatkannya sebagai sosok inspiratif dalam dunia kepenulisan. “Jujur saja,” begitu kata Hemingway, “seluruh cerita Amerika modern sesungguhnya cuma berasal dari dari satu buku, The Adventure of Huckleberry Finn, karya dari Mark Twain.”

Mungkin Hemingway tak terlalu berlebihan. Sosok ini, yang bernama asli Samuel Langhorne Clemens, atau lidah kita sudah terbiasa menyebut nama penanya dengan Mark Twain, memanglah istimewa. Terlahir di Florida, dan berlincah-lincah menuju usia dewasanya di Mississippi. Praktis, lingkungan perkapalan itu pun memengaruhi cita-citanya: menjadi seorang juru mudi kapal. Cita-citanya memang benar-benar terwujud. Akan tetapi, ketika tengah pecah perang saudara di tahun 1861-1865, ia justru merubah kemudi hidupnya menjadi seorang freelancer di berbagai media.

Orang-orang mulai tertakjub dengan kepiawaiannya menulis tatkala The Celebrated Jumping Frog of Calaveras Country terbit. Ia cukup tersohor berkat karyanya itu. Ia pun kemudian nomaden, dari Nevada, menuju California, hingga San Fransisco. Dasar penulis, kisah perjalannya itu pun kemudian menjadi inspirasi akan lahirnya sebuah karya lagi, kali ini terjuduli The Innocents Abroad. Dan statusnya pun bertambah: ia kian sukses dan kian tersohor kini. Ia pun kian kaya dan terkenal tatkala The Adventure of Huckleberry Finn tergulirkan ke pasaran. Namanya benar-benar meroket indah. Ia menjadi legenda. Dan cerita kelegendaannya bermula dari karyanya itu. Ia pun menjadi inspirasi sekian ribu-juta pembaca dan penulis, baik di generasinya maupun setelahnya.

Di belahan bumi dan waktu yang lain, tersebutlah juga sosok penulis yang juga melegenda. Siapa sangka, ia justru seorang dokter. Tapi praktiknya tidak laku. Pasien-pasien yang dirawatnya tidak betah. Entah mengapa. Sama seperti kita, ia pun juga tak tahu. Untuk mengisi kekecewaanya atas peristiwa ketidaklakuan praktik dokternya itu, ia menulis. Ia mereka-reka tokoh. Terlahirlah sosok rekaannya yang melengenda: Sherlock Holmes. Uniknya, sosok itu terinspirasi dari profesornya, John Bell, saat masih kuliah di Eidenburgh dulu.

A Study in Scarlet, muncul sebagai karyanya yang pertama. Kemudian menyusul sebagai yang kedua, A Sign of Four. Tapi itu semua tak laku. Tidak menggema dan kurang populer. Hingga akhirnya, dia menciptakan serial pendek The Adventure of Sherlock Holmes. Dan namanya langsung meledak, berkibar di tiang-tiang hati para pembaca. Ia langsung menjadi legenda. Ia benar-benar selalu ditunggu. Saking meledaknya, Holmes bahkan lebih terkenal dari namanya sendiri. Bahkan, ada data yang menyebutkan bahwa ia, adalah penulis dengan bayaran tertinggi di dunia pada tahun 1920-an. Dan dokter yang gagal berpraktik tapi tersohor setelah menjadi penulis itu bernama Sir Arthur Conan Doyle.

Karya mereka melegenda. Mark Twain dan Conan Doyle. Mark Twain, melegenda lewat Tom Saywer pada petualangan di The Adventure of Huckleberry Finn. Sir Arthur Conan Doyle melegenda lewat The Adventure of Sherlock Holmes. Tentu itu adalah inspirasi. Ruang kontemplasi super tinggi yang harus mau untuk kita renungi. Kali ini, kita belajar tentang satu pertanyaan: karya apa yang akan melegendakan kita?

Ini bukan cerita tentang betapa kemaruk atau bernafsunya kita menjadi tersohor. Bukan, bukan tentang itu kawan. Tapi, ini adalah tentang niat mulia kita untuk menghasilkan karya, dan di saat yang sama, ini adalah tentang menantang diri kita sendiri untuk melompat lebih tinggi. Kita terbiasa meloncat di batasan atap yang pendek sekali. Mengapa tak kita keluar saja dari ruangan itu, kemudian meloncat dengan hebat di lapangan luas. Dengan batasan langit sebagai atap, tentu kita akan tergerak dan teradrenalinkan semangat, untuk melompat lebih tinggi, tinggi, tinggi, dan tinggi lagi. Ayolah, kita bisa lebih hebat dari saat sekarang ini. Ini hanya sebuah cerita tentang kemauan saja. Dengan begitu, kita akan mempunyai kemampuan.

Untuk apa melegenda? Perlukah itu? Tidak. Kita tidak perlu. Tapi generasi setelah kita yang memerlukannya. Mereka butuh inspirasi, dan inspirasi, selalu lebih mengena dan mereka percayai jika datang dari generasi sebelum mereka. Mereka butuh belajar banyak hal dari masa-masa yang berbeda dengan mereka. Kemudian mereka timang, bandingkan, kemudian mereka bagi lagi. Begitu seterusnya. Dengan begitu, kita bukan hanya berbagi inspirasi, tapi kita juga menuai pahala, yang tak kenal henti. Jika kita tak melegenda, tentu mereka tak tahu kalau kita ada. Jika kita tak berkarya, tentu mereka tak bisa mengambil kita sebagai inspirasinya. Tentu saja, jika karya kita tak berguna bagi dunia, tentu kita tak menjadi legenda.

Sama seperti saya. Kita-kita sama-sama belum punya. Tapi di sini, kita belajar dari pertanyaan itu. Tapi dari sini, adalah terminal keberangkatan atas sebuah penyadaran: suatu saat, kita harus bisa seperti mereka.[]

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s