Long Road

“Many books require no thought from those who read them, and for a very simple reason. They made no such demand upon those who wrote them.”

Charles Caleb Colton

Tak perlu beralasan tak ada sarana. Ketiadaan laptop, personal computer, ataupun mesin ketik, bukanlah hambatan. Mulailah dengan sederhana saja. Tuhan telah membekali tangan yang sedemikian menawan. Peganglah pena. Rasakan kata yang datang dari jiwa, mengalir melewati tangan, kemudian pena, lalu meliuk berderai mentera kertas yang putih bersih itu. Rasakan seperti para petani menikmati semilir angin di gubugnya sembari mununggui padi untuk menjaganya dari gangguan beburung di udara dhuha yang bersahaja. Rasakan seperti seorang pemahat tengah mencipta mahakarya. Rasakan seperti seorang pelukis menggoresi kanvasnya dengan warna-warna. Mulailah dengan sederhana saja.

“Mulailah secara sederhana,” kata Sandra Lee Schubert, “belilah sebuah buku harian atau buku catatan yang tidak terlalu mahal dan pilihlah sebuah pena favorit. Buatlah sebuah waktu keramat untuk diri Anda saat di mana Anda tidak mau diganggu. Tulislah apa yang ada di benak Anda. Apakah Anda tengah bergelut dengan masalah yang sulit dan rasa sakit? Mulailah dari sini. Uraikan masalah dan rasa sakit itu, siapa dan apa yang terlibat, mengapa hal ini bisa menjadi masalah bagi Anda, dan apa yang Anda rasakan ketika isu ini ada pada diri Anda.” Sederhana saja. Mulailah dengan menterakan kekata dari keadaan jiwa yang tengah kita rasa. Lakukan sesering mungkin. Jika memungkinkan, setiap hari. Maka itu akan menjadi catatan harian. Menurut Sandra, catatan harian adalah alat yang digunakan dalam jangka panjang untuk penyembuhan dan pertumbuhan personal. Ini tidak membutuhkan kecakapan dan uang. Catatan harian dapat menjadi teman seumur hidup. Gunakan dengan baik, dan ini akan membalas Anda dengan kebahagiaan, pemenuhan, dan hidup yang lebih sehat. Beginilah, cara-cara sederhana namun membahagia jiwa dengan luar biasa.

Tak berbahagiakah engkau, saat justru dari tanganmu sendirilah sejarah menjadi alurmu? Tak riangkah engkau, saat justru peradaban tengah engkau sumbangi dengan goresan kekata yang tengah engkau upayakan? Pada abad ke-13, buku-buku di seluruh perpustakaan Baghdad, Irak, dibakar. Dari sanalah kemudian muncul gagasan yang melegenda itu, bahwa bila kita ingin mengubah suatu peradaban manusia, bakarlah semua buku dan gantilah dengan yang baru. Karena buku adalah salah satu tiang peradaban. Tulisan-tulisan menjadi nyawa peradaban yang tervital. Titik terakhir tertinggi peradaban adalah tulisan. Setinggi apapun peradaban, jikalah belum meninggalkan warisan berbentuk tulis, belumlah menjadi peradaban yang makmur dan berkepribadian luhur. Melalui tulisan, generasi takkan hilang, tetapi justru mati satu tumbuh seribu. Jika para ilmuwan yang telah meninggal beratus-ratus tahun yang lalu tidak mentransformasikan ilmunya lewat tulisan, maka takkan pernah sejarah mengenang nama Al-Ghazali, Albert Enstein, Al-Farabi, dan nama-nama lain yang agung itu.

Tak tertangkap pula kegemilangan Majapahit, jikalah Empu Prapanca tidak menuliskan kisahnya dalam lembaran-lembaran daun lontar dan pahatan prasasti. Tak ada sejarah tanpa adanya tulisan. Manusia pribadi, berada dalam eksistensi mitos, karena cerita dari mulut ke mulut yang beruntun dan turun temurun. Manusia sejarah, berada dalam eksistensi sejarah karena adanya tulisan, yang ia dikenang darinya turun temurun pula. Jika setiap pribadi dalam suatu bangsa mengerti betapa berharganya kemampuan menulis, tentulah bangsa itu akan menjadi besar dan berperadaban luhur. Kita bisa mengatakan dengan, negara maju adalah negara yang tingkat membaca dan menulisnya tinggi. Sedangkan negera terbelakang adalah kesebalikannya. Dan jika peradaban itu kita ibaratkan panggung, maka mereka yang menulis itu adalah aktor sejarahnya.

Maka dalam lintasan sejarah, kita mendapati nama-nama berikut terkenang hingga sekarang. Walau sunyi mengkawani setiap hari. Walau besi-besi menjeruji kebebasan. Semasa ditahan dalam penjara Glodok tahun 1934, Hatta merampungkan Krisis Ekonomi dan Kapitalisme. Awalnya ia tidak yakin bisa rampung, karena tidak boleh memasukkan kertas ke dalam bui. Yang boleh masuk hanyalah buku dan pensil. Semasa dibuang ke Digul, Hatta pun semakin kerap lagi menulis. Simaklah kata-katanya ketika berada di Boven, Digul, Papua, pada tahun 1934. “Buku adalah temanku. Buku-buku menjadi temanku dan pastilah (penjara) ini merupakan tempat tenang untuk belajar. Selama aku memiliki buku, aku dapat tinggal di mana saja.” Selain menulis, Hatta juga getol membaca dalam penjara. Maka saat ia bebas, tak tampak raut keputusasaan sebagaimana yang dialami tahanan lainnya. Jiwanya tetap sehat. Ia tidak mengalami gangguan psikis. Bahkan terus berusaha memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Hebat nian bukan pengaruh baca tulis?

Ada nama lain lagi, yaitu Mumia Abu-Jamal. Wartawan berras afro-amerika ini divonis mati pada tahun 1982 dengan tuduhan pembunuhan atas seorang polisi. Bertahun-tahun ia menjalani kehidupannya berada di balik jeruji besi, meski bukti yang mendukung bahwa ia tak bersalah telah ditemukan. Pantaslah kemudian bila Mumia menjadi lambang gerakan antirasialisme di Amerika. Selama meringkuk di penjara Pennsylvania, Abu-Jamal menghasilkan sekumpulan tulisan yang kemudian dibukukan dalam dua buah buku: Live From Death Row, dan All Things Censored. Kerennya lagi, tulisannya itu disetarakan dengan tulisan Maritn Luther King Jr sewaktu dalam penjara: Letter From Birmingham Jail.

Penulis feminis Nawal El-Saadawi asal Mesir, juga dipenjara pada tahun 1981 karena mengkritik pemerintahan Anwar Sadat. Uniknya, walaupun di dalam sel, Saadawi terus berkarya. Meski hanya dengan kertas toilet dan pensil alis, Saadawi diam-diam tetap menulis dengan ketekunan luar biasa. Sekeluarnya dari penjara, tulisan itu menghasilkan esai berjudul Memoar dari Penjara Perempuan. Dalam buku itu, dia mengisahkan bahwa ketimpangan sosial-ekonomi dan gender merupakan penyebab masuknya perempuan tersebut ke dalam sel penjara.

***

Menulis adalah jalan asketis. Ia memerlukan niat dan kesungguhan yang tiada tara untuk mencapai dalam tahap terampil melakukannya. Jalan pengabdian diri yang total. Tak peduli orang-orang menganggap apa karyanya. Entah itu picisan, murahan, dan lain sebagainya. Tapi ia terus menulis. Ia tunaikan jalan itu hingga selesai tanpa memedulikan orang yang mencibirnya. Ia terus menulis untuk terus membahagia jiwa, serta menata dunia yang lebih baik untuk dihuni bagi semua.[]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s