Happiness

“What would there be in a story of happiness? Only what prepares it, only what destroys it can be told.”

—André Gide

Nama pria ini adalah John Mulligan. Umurnya sudah empat puluh sembilan tahun. Dia adalah seorang tentara Amerika yang bertugas pada masa perang Vietnam. Setelah pulang dari perang itu, Mulligan merasakan guncangan hebat dalam jiwanya. Ini tentu maklum saja, bagi penyuka sejarah, siapapun pasti tahu, medan Vietnam memang serasa neraka bagi serdadu Amerika.

Di jantung kota San Fransisco, Mulligan menjalani hari-harinya. Tapi sayang, tidak jelas arah hidupnya. Ia menjalani waktu demi waktu dengan luntang-lantung. Bayangan hari-hari semasa yang ia alami di Vietnam terus menghantuinya. Jiwanya terkoyak hebat. Pikirannya kacau. Hatinya tercabik-cabik. Ia memang selamat tanpa luka jasadi yang berarti di medan perang itu. Tapi psikisnya remuk. Keluarga, sahabat, tetangga, orang-orang terkasih, tak lagi ia perhatikan. Ia acuhkan kesemuanya itu. Ia mengalami guncangan superhebat dalam kepribadiannya. Koyakan kegelisahan hidup telah menjadi kawannya sekarang. Ia tak tahu lagi harus berbuat apa. Arti hidup tak lagi jelas dalam pandangannya.

Hingga sebuah sejarah hebat dimulai. Tiba-tiba Mulligan tertarik dengan sebuah workshop menulis yang disarankan teman dekatnya karena kasihan melihat keadaannya. Tak tanggung-tanggung, pemateri workshop kali ini adalah Maxine Hong Kingston, penulis masyhur negeri Paman Sam itu. Kingston menyarankan kepada Mulligan untuk mengungkapkan semua pengalaman traumatis yang pernah ia alami semasa berada di Vietnam ke dalam bentuk tulisan. Itu satu-satunya cara untuk memulai lagi hidup yang berbinar seperti dulu kala.

Cerita hebat itu kemudian dimulai. Setelah meninggalkan ruangan workshop. Keadaannya berubah drastis. Ia seperti para bajak laut yang baru menemukan harta karun yang melimpah ruah. Mulligan tertawa dan bersiul-siul di sepanjang perjalanan menuju rumahnya. Bukan karena ia bertambah gila, justru ia tengah menemukan makna baru dalam kehidupannya. Hidup baru yang lebih bahagia akan dimulainya.

Sesampainya di rumah, Mulligan bergegas meraih mesin tiknya. Kertas ia siapkan. Jemarinya siap digerakkan menekan tuts. Awalnya, suara ketukan mesin tik itu terdengar pelan nan lamban. Lama kelamaan semakin cepat. Lebih cepat. Dan lebih cepat lagi. Mulligan menulis dengan emosi. Semua yang ada di hatinya ia curahkan. Semua yang menggumpal di otaknya ia kerahkan. Semua yang menjadi bebannya ia tuliskan. Ia menulis, tanpa memerhatikan benar tidaknya ejaan dan pungtuasi. Ia menulis dengan merdeka. Ia ingin melepaskan beban yang menyerang di seluruh bagian terdalam hidupnya. Sesekali, ia menjeda mengetik dengan menyeka air matanya. Luapan emosinya kali ini benar-benar membuncah hebat.

Awal-awalnya, ia menuliskan adegan-adegan menegangkan yang ia alami semasa perang. Kemudian tentang teman-temannya yang menembak serampangan hanya untuk kesenangan. Desing peluru yang berhamburan di tiap waktu. Interogasi yang tak manusiawi. Berhamburannya tubuh manusia di pohon-pohon. Kepala yang tak lagi bersama tubuhnya yang menggelinding ke mana-mana. Serta ranjau yang selalu menjadi kejutan di setiap langkah yang ia dan kawan-kawannya jejakkan. Serasa neraka telah terhadirkan di bumi.

Awal-awalnya pula, saat membaca tulisannya sendiri, ia ngeri juga saat mengetahui bahwa betapa mengerikannya apa yang ada dalam jiwanya. Terkadang, ia mengacak-acak rambutnya sendiri, berteriak tak jelas, dan menertawai ketololannya sendiri, saat mengingat segala kehororan yang telah dialaminya semasa di Vietnam. Semua dikisahkannya melalui tulisan dengan sangat merdeka dengan aturan tulisan ala dia sendiri.

Tahun-tahun berikut, ia menjadi cerah. Ia tak lagi terbebani sedemikian berat deraan kehidupan. Pikirannya kini jernih. Hidupnya menjadi terarah. Menuangkan segala beban ke dalam tulisan ternyata sangat efektif untuk menyembuhkan segala luka-luka psikologis yang sudah sedemikian parah menganga dalam dirinya. “Saya dulu seperti kerang kosong yang berjalan-jalan di jalanan. Menulis telah membuat saya merasa punya jiwa,” kata Mulligan penuh haru. Maka lahirlah kemudian, novel apik itu dari tangannya: Shopping Cart Soldiers.

Applause riuh patut kita berikan kepadanya. Untuk kesembuhan jiwanya. Serta keberhasilan karyanya. Keadaan Mulligan, persis dengan petuah manis, “Pada dasarnya,” kata Pennebaker, “bagi yang mengalami keguncangan jiwa atau mengalami depresi, bergegaslah menulis. Menulislah secara sangat bebas tanpa memedulikan struktur kalimat dan tata bahasa. Niscaya, Anda akan terbebaskan dari segala deraan batin.”

Ada banyak cara agar aksara-aksara itu berubah bunga-bunga, kemudian mengharumi alur kehidupan menjadi taman kebahagiaan. Setiap orang mempunyai caranya sendiri-sendiri. Tetapi, semoga beberapa di bawah ini, bisa menjadi bibit yang suatu saat nanti merekah dengan indah.

***

“Menulis dapat menghasilkan perubahan pada sistim imunitas dan harmonal dalam merespons beban stress, dan meningkatkan hubungan serta kemampuan kita dalam menghadapi stress,” kata Joshua M. Smyth, psikolog di Syracuse University. Empat tahun lalu, Veronica Chapa mengalami depresi berat. Dia patah hati. Kecewa dengan mantan pacarnya dan merasa heran mengapa dia bisa memiliki lelaki macam Joni yang tak pernah punya perhatian sedikit pun kepada dirinya. Tidak mau melakukan kesalahan untuk yang kedua kalinya, Veronica mengikuti sebuah terapi. Harapannya, dengan terapi tersebut, dia dapat mengenal dirinya sehingga tidak salah lagi dalam mengambil keputusan. Maka ikutlah dia dalam sebuah kelompok terapi menulis. Karena latar belakangnya adalah penulis di bidang marketing, Veronica yang saat itu berumur 29 tahun ini, merasa terapi ini pastilah tak begitu sulit untuk diikuti. Tetapi ternyata, dugaan Veronica meleset. “Saya tahu saya hanya tinggal menulis pada kertas kosong yang disediakan,” katanya, “tapi kok rasanya sulit sekali ya menulis tentang diri sendiri,” terangnya jujur.

Pemimpin dari terapi ini, Michele Weldon, seorang penulis berjudul Writing to Save Yourlife, memiliki solusi sederhana untuk Veronica. “Tulislah surat untuk diri sendiri.” Veronica pun kemudian menemukan kunci dari kesulitannya tersebut. Lalu mulailah Veronica menangis beberapa menit setelah menulis dua kata di kertasnya yang berbunyi: Dear Veronica. “Sekali dua kata itu tertuliskan,” katanya, “langsung terbukalah kepenatan, kekecewaan, serta kegelisahan yang saya alami. Semuanya seolah mengalir dan terurai keluar tanpa bisa ditahan.”

Kita sering menyapa mereka yang di luar, tetapi tidak jiwa terdalam. Padahal, ia lebih membutuhkan kenyamanan, ketenteraman, sentuhan kebahagiaan, dan sapaan-sapaan kasih sayang yang menghangatkan. Ia yang membersamai kita di hari-hari. Ia yang menemani kita di tiap waktu. Ia butuh sapaan. Berdialog dengannya, adalah salah satu cara terbaik untuk memulai lagi hubungan apik itu. Jika malu bersuara, tulis saja. Biarkan di tiap kata mengalir sapaan terjujur dan terindah yang pernah kita keluarkan. Sedikit demi sedikit, ia akan membasahi jiwa terdalam yang lama tak kita singgahi itu. “Begitu banyak orang merasa tidak bisa dan kesulitan memulai semuanya,” kata Natalie Goldberg, penulis Writing Down the Bones. Tapi sulit, bukan berarti tidak mungkin.[]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s