It’s Crafted with Passion

Setiap penulis mempunyai jiwa dan kepribadian sendiri untuk menyawai karyanya menjadi sajian yang unik. Ralph Waldo Emerson, esais yang merangkap penyair, dan filosof dari Paman Sam mengujarnya, “Bakat saja tak bisa membuat seseorang menjadi penulis. Harus ada jiwa di belakang sebuah buku; sebuah kepribadian, bawaaan maupun sifat, yang didedikasikan pada prinsip-prinsip yang dituliskan di sana, dan yang eksis untuk melihat dan menyatakan segalanya sesuai dengan prinsip itu, dan bukan sebaliknya.”

Berkarya berarti penaka bangunan. Setelah selesai, selalu akan ada para pembangun baru yang datang. Entah ia memberikan lagi sentuhan kesempurnaan, memugarnya menjadi lebih elok, ataupun yang datang membabat habis. Semua menempati bagiannya secara khusus. Ada yang memilih jalan panjang penuh kesungguhan; ada pula yang mengambil jalan pendek penuh keculasan. Itulah kemudian, kita mendapati setiap karya dan pengkaryanya memberikan pengaruh yang berbeda-beda pada setiap penikmat karyanya.

Annemarie Schimmel, yang mengagumi Muhammad Iqbal ini, menerjemahkan Javidnama, karya besar pujangga Pakistan tersebut. Hingga kemudian, pemerintah Pakistan menganugerahinya Hilal Al-Imtiyaz; penghargaan teratas yang diberikan kepada warga sipil. Pada 1988, setelah tiga puluh tahun sebelumnya ia menjejak pertama kakinya di Pakistan itu, namanya dijadikan beasiswa kepada mahasiswi pascasarjana untuk melanjutkan studi di Inggris. Serunya lagi, sebuah jalanan indah Lahore dengan pepohonan di kanan kirinya yang anggun, menggunakan namanya. Karya tulisnya mencapai lebih dari 80 judul buku, dan esai serta makalah yang tak terhitung banyaknya. Di tahun 1995, ia pun mendapat penghargaan German Book Trade Peace Prize, dan mendapatkan dua puluh lima ribu euro dari Muhammad Nefi Chelebi Media Prize dalam sebuah seremoni yang berlangsung di National Islamic Archive, Jerman. Serentetan award tersebut merupakan bukti keproduktifan dan keaktifannya dalam berkarya.

Bagaimana ia melakukannya? It’s crafted with passion.

“Aku tidak menunggu mood,” kata Pearl S. Buck, “kita tidak akan mencapai apapun jika mengandalkan kondisi semacam itu. Pikiran kita harus tahu kapan ia harus bekerja…” Kalimat itu meluncur dari sosok yang mendapatkan hadiah nobel untuk sastra pada tahun 1938. Setelah menikahi seorang ahli pertanian pada tahun 1917 di Cina, ia mendapatkan seorang putri manis empat tahun kemudian. Sayangnya, sang putri menderita fenilketonuria, penyakit langka yang menyebabkan retardasi mental. Tapi dari peristiwa itu, ia justru terinspirasi untuk menyuguhkan The Child Who Never Grew kepada para pembaca. Sebagai karya terbaiknya, dunia sepakat dengan The Good Earth, yang langsung terjual 1.800.000 eksemplar pada tahun pertama tersebut. Sebuah pencapaian mencengangkan dan tak disangka. Novel ini bertahan dalam daftar best seller selama 21 bulan, dan memenangi penghargaan Pulitzer sebagai novel terbaik pada tahun itu. Beberapa novelnya kemudian dialihkan menjadi film, termasuk The Good Earth, Dragon Seed, China Sky, dan The Devil Never Sleeps. Empat puluh tahun malang-melintangnya dalam dunia menulis, telah mencatatkan delapan puluh karya, termasuk novel, skenario, kumpulan cerpen, puisi, buku anak-anak, dan juga biografi.

Bagaimana ia melakukannya? It’s crafted with passion too.

“Passion is not what you are good at. It’s what you enjoy the most.” Tutur rockstar saya dalam perkariran dalam karya apiknya Your Job is Not Your Career. Seberapa jauh, seberapa dalam, dan seberapa menikmatinya kita dalam melakukan sesuatu. Begitulah passion. Yang ada hanya keasyikan. Lalu, adakah kesulitan tidak menghadang? Ada. Bahkan justru lebih sering. Akan tetapi, ini seperti bermain kelereng saat hendak menembak sasaran. Kita merasa tertantang. Saat kena, kita riang alang kepalang. Saat meleset, kita penasaran setengah mampus. Saat kita mengerti passion apa yang harus dirawati, maka purpose of life dan values akan hadir mengalir.

Apa yang tengah kita pikirkan tentang hidup? Have enough (money, resources, things) so that we can do what we want and we can be happy. Dari slogan itu, apa yang kita dapat di akhirnya justru ketidaktenangan yang tak berujung untuk mati-matian mendapati kelegaan, kepuasaan, dan kebahagiaan. Kelihatannya simpel tapi justru tidak simpel. Jawaban paling memungkinkan adalah dengan memahami what we are, dan bukannya what we have. 

Passion bukanlah hobi. Tapi lebih ke segala hal yang kita sukai dan minati sedemikian rupa, hingga di sepanjang hidup ini kita tak pernah terpikir untuk tidak melakukannya, atau melewatkan hari-hari tanpa mengerjakannya. Jadi, tidak ada kaitannya sama sekali dengan keahlian atau kebiasaan. Tapi lebih menuju ke segala hal yang berhubungan dengan penggugahan minat yang terpatri di dalam diri. Tidak hanya hal yang bersifat, “Hei, apa kamu suka melakukannya?” Kemudian dijawab, “Iya, saya suka banget!”. Tidak sekadar itu. Akan tetapi, passion harus terwakili dengan keunikan dalam bertindak, dan aktivitas yang ada nilainya –yang entah bagi diri sendiri ataupun bagi kebanyakan. Benarkah kemudian, jalan menulis memang benar-benar telah menjadi passion kita? No joy working. No passion. No purpose of life. Hidup yang seperti itu, sungguh tidak berwarna. Yang paling mengkhawatirkan, tentu ia akan lebih sering macet di tengah jalan, saat karyanya tak jua selesai dituliskan dan diterbitkan.

Dan yang seperti ini, it’s not crafted with passion.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s