Hiatus

mac

Hello there. See you again. Ehehehe.

Duh, kenapa sekarang sering tidak konsisten untuk melakukan pengeblogan lagi yha. Entahlah. Tetiba waktu saya berkurang sangat banyaknya.  Tapi it’s okay. Sepertinya, mulai postingan ini dan ke depan, akan mulai konsisten lagi. Biasa. beberapa orang harus melakukan hiatus dulu sebelum sanggup beraksi lagi dengan baik. Elbulli, restoran nomor wahid itu pun perlu untuk hiatus dulu beberapa bulan untuk eksperimen sebelum akhirnya come back stage lagi. Hasilnya? Perlu berbulan-bulan antre untuk bisa mendapat kursi, dan duduk dengan manis untuk menikmati sajian hasil eksperimen mereka.

Gila memang.

Stefan sagmeister juga melakukan hal yang sama. Ngadem dulu beberapa saat. Eh, bukan saat, tapi tahun. Setahun lebih tepatnya. Setelah itu come back stage lagi untuk menggebrak lagi dunia perdesainan. My mentor, M. Arief Budiman juga melakukan hal yang sama tahun lalu, berhening sejenak selama enam bulan, saat selesai melakukan roadshow 40 harinya. Setelah itu come back stage lagi dan menggebrak lagi.

Mungkin memang perhiatusan itu diperlukan untuk mengheningkan pikiran dan menjenakkan jiwa agar segar dan bening lagi.

Aduhhh, alasan saya panjang amat untuk memulai sebuah prolog, agar note ini dimaklumi bahwa ketidakaktfifan ngeblog adalah karena saya telah melakukan perehatan yang disengaja. Padahal, ya nggak begitu-begitu juga sih sebenernya. Hehehe. Tapi ada benarnya juga sih. Ah, gimana coba ini.

Ehm.

Bagi pecinta theme lawas, maaf sudah saya ganti yha. Banyak yang protes, tapi saya harus membut keputusan berat ini, yaitu membuat blog ini minimalis. Saya merasa, sudah bukan era saya lagi untuk berempong ria. Hahaha. Saatnya minimalis, keren, dan elegan. Alasan yang cukup bagus, bukan? Hehehe.

Satu hal yang menjadi beban di tahun ini adalah oktober nanti, Satria20Ribu akan genap berumur satu tahun. Artinya, saya harus membawanya ke tempat yang lebih jauh. Ke kasta yang lebih tinggi. Saya hanya tidak ingin creative movement ini berada pada posisi yang stagnan. Dia harus berkembang. Sementara, pemikiran saya adalah mengubahnya dari creative social movement menjadi creative social enterprise. Kami bisa memutar uang kami sendiri untuk project kemanusiaan yang kami pegang. It’s really hard to find the business model. I’ve been looking for the best model, the best benchmark for this situation. Alhamdulillah, now I have better vision.

Selain mengubahnya menjadi creative social enterprise, itu artinya saya harus merapikan sistem di dalamnya. Dari banyak hal yang harus saya persiapkan, sejauh ini sudah 70% sistem mulai rapih. Senang sekali. Jika membayangkan bagaimana awal movement ini berdiri dan berjalan seenaknya itu, sekarang jauh-jauh lebih rapi dan terkontrol. Dan yah, itu membutuhkan perjuangan yang tak sedikit dan perhatian yang tak mudah. Banyak waktu saya tercurah untuk bagaimana mengembangkan movement ini. Melihat sejauh ini berjalan, yah, cukup puas. Tinggal merapikan beberapa hal besarnya saja, seperti websitenya harus saya kemas dengan superbaik, karena saya beranggapan ini adalah portofolio. Saya pun berdiskusi panjang dengan Mas Ali dan Amirul untuk menemukan performa terbaik. Mereka excited untuk juga mengembangkan websitenya nanti menjadi atraktif, responsif, dan user friendly namun tetap artistik.

Wish me luck, my friends 😉

 

Iklan

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s