Do X Enjoy

Lama-lama, saya kok berpikiran bahwa ada dua jenis orang di dunia ini. Pertama, yang membuat sesuatu. Kedua, yang menikmati sesuatu. Dua hari yang lalu, saya baru saja nge-list 101 CEO di bawah umur 30 tahun di seluruh dunia. Ada sekitar 23 dari Indonesia, dan sisanya dari luar.

Saya emosi. Benar-benar emosi tingkat dewa budjana deh. Saya sengaja mencari data yang di umur 30 tahun, karena bulan ini adalah bulan terakhir di mana saya sudah harus menghadapi umur baru bulan depan.

I have to start my next level.

Mereka itu, yang saya list itu, benar-benar luar biasa. Bagaimana menciptakan bisnis dengan ide yang tidak standar, tapi ternyata bisa ndatengin duit, dan mereka make it happen. Setelah menyeksamai mereka semua dan ide-ide bisnisnya, yang sengaja saya jadikan riset untuk saya ambil juga idenya untuk next step saya, kemudian terjadi kesimpulan bahwa selain mereka passionate, ternyata mereka memang kategori orang-orang yang do something and stop complaining. Alih-alih mengeluh, mereka membuat sesuatu untuk menyelesaikan persoalan. Saat seseorang butuh, ia akan menggantinya dengan uang. Nah, solusi yang mereka buat itu, jadi duit, deh. As simple as that.

Teman saya adalah seorang movie freak sejati. Film-film populer macam Transformers dan Avengers, fasih dibicarakan mulai dari siapa sutradaranya, kapan dibuatnya, aktor aktrisnya siapa, hingga soundtrack dan scoringnya. Bahkan, sampai film-film tak populer di telinga kita juga ngerti. Di depannya, gue serasa orang paling gagu sedunia kalo soal film.

Tetapi, dia hanya penikmat saja. Dia tidak membuat sesuatu. Dunia akan lebih membutuhkan seorang James Cameron yang berani membuat sesuatu yang keren. Tapi, James Cameron juga membutuhkan ‘para penikmat’ itu untuk menikmati garapannya. Tapi, saya lebih memilih menjadi James Cameron daripada penikmat filmnya. Lebih memilih do something, bukan enjoy something.

Akan tetapi, sebagaimana hukum Paretto, para pembuat sesuatu jumlahnya hanya 20%. Sisanya, adalah para penikmat sesuatu. Dan pilihan untuk menjadi yang ‘membuat sesuatu’ itu tentu akan mengalami goyangan ombak aral yang tak satu dua, tapi ratusan hingga ribuan kali.

Bukan pilihan yang mudah. Tapi, hal-hal hebat selalu tak bermula dari hal-hal yang mudah, bukan? 🙂

 

 

Iklan

2 comments

  1. Sebenarnya saya lebih suka menjadi penikmat. Tapi saya juga ingin menjadi pencipta. Karena dengan menciptakan kita akan jauh lebih merasakan nikmatnya berkarya, berkreasi, bertualang, berusaha, dan ber-ber yang lainnya (dalam hal positif tentunya)…. Thanx yea, Bro. Dari tulisan ini saya semakin semangat untuk terus berkarya, Keep Spirit…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s