2011: CREATIVE ACTIVITY CONNECTION

Tahun 2011 telah mencapai ujungnya. Ini ditandai dengan masuknya kita bersama-sama di bulan Desember. Di bulan ini, beberapa orang akan disibukkan dengan evaluasi apa yang telah dilakukannya di sepanjang tahun, kemudian mencanangkan lagi resolusi di tahun 2012. Di beberapa orang yang lainnya, tak mau ambil pusing dengan hal itu: tujuan dan target hanya akan menambah stress, biarlah hidup berjalan senikmat-nikmatnya dan seada-adanya saja. Less is more. Segala yang hadir dianggap saja sebagai kejutan, tak perlu menargetkannya sedemikian rupa, hingga begitu ambisius dan justru tak menikmati hari.

Saya adalah gabungan keduanya. Mungkin seperti CR7 di Real Madrid. Saya memiliki target. Saya mempunyai tujuan bahwa saya harus mengegolkan di gawang lawan. Itulah target saya. Tapi, saya juga menikmati gocekan bola dan proses untuk melesakkan bola ke gawang. Terkadang saya mengecoh lawan, terkadang bola digiring sendirian, dan terkadang pula dioper ke kawan, serta memberikan assist manis dari samping lapangan saat bek lawan lengah. Itulah kenikmatan di prosesnya untuk memasukkan bola ke gawang. Jadi, tetap punya target, tapi juga menikmati proses dalam menggapainya.

 

Editor Akuisisi

Dalam dunia editor, mungkin tugas sebagai editor akuisisi akan mendapatkan kategori the most stressful job in the world. Kemampuan kalibrasi dengan dunia perbukuan, kemampuan kalibrasi dalam kepenulisan, serta kemampuan kalibrasi dalam marketing sangat berperan di sini. Pintar saja tak cukup, tapi juga harus kreatif.

Pertama-tama, kita menyiapkan tema. Di ranah ini saja, kita butuh asupan pemahaman tren—syukur-syukur bisa mencipta tren—perbukuan diuji seuji-ujinya. Setelah itu, kita menyiapkan outline untuk dikerjakan penulis. Walaupun outline hanya bersifat kerangka, tapi itu justru bagian tersulitnya. Bagaimanapun, kerangka adalah pondasi. Ia yang akan menjadi pemandu para penulis untuk mengerjakan naskahnya. Saat kerangka saja tidak jelas, maka hasilnya pun akan jauh dari harapan. Di ruang inilah, kemampuan kepenulisan dan pemahaman tema di uji. Jadi, wawasan luas serta kemampuan menulis yang baik juga diuji di sini. Setelah tema dan outline jadi, kita pun mempresentasikannya di hadapan seluruh tim. Bila lolos, kita harus menghubungi penulis untuk mengerjakannya. Lagi-lagi, episode mahasulit menghampiri: kita harus memandu penulis sedikit demi sedikit untuk merampungkan naskahnya—dan biasanya memakan waktu berbulan-bulan. Setelah selesai, masih harus kita review dan lihat sudah sudah sesuai dengan konsep awal ataukah belum. Lalu, memersiapkan branding serta positioning untuk penulis dan jua naskahnya.

Bayangkan bila satu bulan harus mengurusi 20 penulis. Bayangkan bila tiap bulan harus membuat 20 konsep. Bayangkan bila penulisnya ngadat. Bayangkan bila naskahnya tebal-tebal. Bayangkan bila domisili penulis jauh dari kantor tempat kita berada. Bayangkan bila kita sudah ditagih target oleh atasan. Bayangkan bila-bila-bila lainnya. Yah, acquisition editor is the most stressful job in the world.

Jadi, it’s all about perception. Ketika tugas-tugas tersebut disikapi sebagai hanya memenuhi target, maka stress dan frustasi akan mampir di diri. Namanya target ya selalu sky is the limit. Selalu tak ada titik ujung. Passion saya dalam dunia perbukuan kemudian menyadarkan bahwa segala tugas-tugas itu harusnya bukan menjadi beban. Setiap kali bertemu dengan penulis-penulis yang harus dilejitkan rasanya hidup ini bermakna banget. Senang rasanya bisa membantu mereka melalui proses kreatif untuk berkarya. Saat opening hingga closing dalam pemesanan naskah dan berdiskusi soal buku, rasanya senang sekali. Suntikan-suntikan pengetahuan baru bermunculan dari mereka. Seringnya pun, antara saya dan mereka tercipta rekanan dan rasa perkawanan yang erat. SMS, telpon, YM, dan FB-an tak lagi sekadar berbincang tentang buku, tapi juga sisi kehidupan lainnya. Sepertinya, ini adalah pekerjaan yang benar-benar membawa rahmat dan menghadirkan kebahagiaan serta kebersamaan untuk menghasilkan karya.

 

Creative Community

Semasa Aliyah, saya dan dua orang kawan selalu kebagian untuk menata dekorasi panggung acara, karena kami bertiga selalu dianggap sebagai pengkreasi tipografi terbaik. Di OSIS-nya, saya kebagian mengetuai Departemen Publikasi. Tugasnya mengurusi majalah dinding, buletin, majalah, dan lomba-lomba kepenulisan, serta kegiatan-kegiatan berbau kreativitas. Depertemen ini diganjar sebagai depertemen ter-gokil dan terasyik—teman-teman depertamen lain mengatakan sebagai depertemen tersukses. Biasanya, departemen lain rapatnya di kelas, saya memilih di rumah masing-masing anggota. Seingatku, rapat internal departemen yang diadakan di kelas hanya beberapa kali. Tujuannya supaya mengeratkan silaturahim antar pengurus departemen, juga supaya ada suguhannya (mehehehe). Iyah, waktu itu saya sudah berada di ponpes sekolahan. Jadi, bisa mendapatkan makanan gratis dan enak adalah sebuah prestasi luar biasa. Ehm. Tidak, pikir saya waktu itu adalah: sungguh sangat membosankan rapat di dalam kelas. Pertiga bulan pun kami adakan rekreasi sendiri. Kebetulan, salah satu anggota adalah anak orang superkaya. Jadi, selalu bisa meminjam mobil dan juga sopirnya untuk mengantar kami tamasya. Di sana, otak kami fresh dan bisa senang-senang sambil rapat kecil-kecilan. Wal hasil, kami menjadi departemen terproduktif dan terkompak. Majalah, buletin, majalah dinding, lomba kepenulisan, dan lain sebagainya menjadi spotlight kegiatan dan mendapatkan antusiasme dari jajaran siswa sekolah. Dan departemen lain, masih sibuk dengan urusan mengkompakkan pengurusnya, dan memikir kegiatan apa yang keren. Departemen kami sudah sampai ke mana, mereka baru sampai di mana.

Saya kemudian tersadarkan, bahwa dalam sebuah organisasi kreatif, yang kita butuhkan bukanlah aturan, tapi picuan-picuan untuk senantiasa bebas berkreativitas. Orang-orang kreatif sangat tidak suka dengan rutinitas. Mereka hanya butuh tantangan untuk menyelesaikan sebuah karya. Dan picuan-picuan itulah yang harus dihadirkan: bagaimana supaya kenyamanan dan suasana segar serta kreatif tetap hadir. Jadi, bukan pemimpin yang menguasai urusan leadership handal yang dibutuhkan dalam organisasi kreatif, tapi pemimpin yang sanggup menghadirkan picuan-picuan itulah yang dibutuhkan.

 

 

FLP Ranting Pelangi

Awal Januari 2011, saya didaulat pula mengetuai FLP Ranting Pelangi. Sebuah ranting yang isinya orang-orang gila semua. Ehm. Bukan ding. Sayalah yang menjadikan mereka gila. Ranting Pelangi ditempati oleh kawan-kawan anggota FLP yang bukan dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Pola yang sama saya terapkan di sini. Saya hanya menghadirkan picuan-picuan. Dan membiarkan para anggota menyelesaikannya. Bukan karena saya tidak mau membersamai mereka, tapi saya membiasakan mereka dengan iklim kreatif. Karena dunia kepenulisan adalah dunia kreativitas. Oleh itulah, saya berupaya keras agar Pelangi memiliki markas sendiri. Fungsinya adalah laboratorium karya: tempat adu ide, menggagas karya bersama, berlatih bersama, dan melesat dalam karya juga bersama-sama. Akhir tahun 2012 tugas saya akan berakhir di ranting ini. Selama proses setahun ke depan, masih saya tunggu bagaimana kawan-kawan anggota berproses kreatif. Saya mengajari mereka untuk tidak terpaku pada pemimpin. Tapi mereka berproses kreatif sendiri. Menemukan dunianya sendiri. Bergaya keren sendiri. Tapi, proses menuju itu harus dilakukan bersama-sama. Dan tentu saja, saya juga harus terus menghadirkan picuan-picuan untuk mereka. Tahun depan, saya optimis mereka akan sudah mampu menjadi apa yang mereka mau. Tugas saya, hanya akan mengontrol proyek kami untuk membuat buku panduan kepenulisan untuk generasi-generasi mendatang di FLP ini. Maka terciptalah beberapa tim untuk membuatnya: saya membuat non-fiksi, copywriting, dan kemudian bersama Mujix membuat naskah komik. Diah, Ayu, Norma, yang sering menyebut diri mereka dengan Trio Persun kebagian membuat buku panduan kepenulisan untuk siswa SMP dan SMA. Sedangkan untuk fiksi, meminta bantuan kepada mbak Nashita Zayn. Harapan saya, mulai tahun 2013, FLP akan sudah punya buku panduan sendiri sebagai pondasi, dan tiap tahun dikembangkan sesuai perkembangan zaman. Ah, betapa indahnya.

 

Tangan Grathil

Di tengah perjalanan melesatkan kemampuan kawan-kawan di Pelangi, saya bertemu mas Paulus. Seorang crafter. Saat saya menanyainya, “Di mana bisa ikutan workshop crafting di Solo ini, mas?” Beliau selalu menggeleng. Saya pun dengan manja memicunya, “Dibikin komunitasnya yuk, mas!” Mas Paulus punya kenalan Risa, dan Risa punya kenalan Mbak Fitri. Mereka semua crafter. Rapatlah kami, membentuk komunitas ini. Otomatis, di jajaran kepengurusan, saya satu-satunya yang bukan crafter. Banyak hal keren terjadi: baru dua bulan kami berdiri, sudah diliput Jawa Pos, dan mendapatkan antrean panjang agar mau membuka cabang di kota lain. Duh duh… Dan tak terasa pula, sabtu depan adalah workshop keempat yang kami adakan.

Kami berempat memang komposisi yang asik. Mas Paulus yang dulunya adalah seorang drafter, sangat-sangat rinci dalam mempersiapkan segala hal. Sangat-sangat detail. Segala hal beliau rancang dengan sangat rapi jail sekali. Mbak Fitri, walaupun suka banget nyetrum dan nendang saya, tapi beliau sangat sabar mengurusi keanggotaan dan pendaftaran. Rumahnya pun menjadi markas kami (masakannya enak, lho!). Risa, menjadi yang termuda, dan selalu menjadi yang paling semangat untuk menggembor-gemborkan keberadaan komunitas dan workshop. Saya paling suka sekali menjaihilinya. Dan dia paling suka dijahili oleh saya (oke, itu fitnah). Dan karena saya yang satu-satunya bukan crafter, maka sering kebagian menjadi MC pas workshop, dan membuat pamflet untuk acara. Karena jika itu tidak saya lakukan, mereka bertiga akan kompak melayangkan jurus tusuk feston ke tubuh saya.

Seraya terus memerhatikan perkembangan kemampuan menulis di kawan-kawan Pelangi, saya juga harus ikut membangun pondasi komunitas TG ini lebih kuat: mempersiapkan konsep-konsepnya, format chapter di kota lain, dan evaluasi setiap kegiatan. Alhamdulillah, kebersamaan sudah tercipta di antara kami. Itu adalah pondasi terbagus untuk meningkatkan iklim kreativitas dan kekompakan di setiap workshop yang kami gelar. Sungguh bersyukur bisa mengenal dan juga terus berkreativitas di komunitas ini. Apalagi, melihat raut-raut kebahagian para peserta workshop ketika sudah berhasil membuat suatu hasta karya. Aih… rasanya sangat-sangat gimana gitu!

 

Opor Kreatif

Beberapa pekan sebelum saya menyibukkan diri di Tangan Grathil, saya juga mendapatkan amanat untuk mengurusi Opor Kreatif. Sebuah komunitas insan industri kreatif yang ada di Solo. Dua bulan ini, mungkin saya keliatan tidak mengurusinya. Bukan. Saya sedang menyiapkan konsep matang untuk ditampilkan. Ada beberapa konsep yang sudah saya siapkan. Apalagi, beberapa saat yang lalu, saya bertemu dengan chairman Depok Creative. Banyak hal yang bisa saya terapkan di Opor Kreatif. Bahkan, di pertengahan bulan ini, Opor Kreatif akan mengadakan Creative Class pertamanya, dengan menghadirkan seorang master digital content asli Indonesia yang bekerja di Jerman. Semoga lancar dan jangan lupa hadir, ya!

***

Tahun 2011 ini, saya menghabiskan diri dengan banyak berkecimpung dalam dunia kreativitas. Saya bahkan lupa hari dan tanggal. Saking cepatnya waktu berlalu karena saya terlalu menikmati setiap kegiatannya. Di tahun ini, sudah sejauh mana saya mampu melesatkan kemampuan saya, dan juga sejauh mana sudah menginspirasi orang-orang di sekitar saya, akan menjadi pertanyaan yang harus saya jawab sendiri di bulan terakhir ini. Tahun 2012 sudah kelihatan gerbangnya. Saya juga harus mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Apalagi, galau hebat tengah terjadi di bulan ini. Juga, pertanyaan yang sering mampir, “Kapan nikahnya, My?” yang juga harus segera dijawab. Saya hanya bisa menjawab ala Anang, “Tapi tak begiiiii….niiii….” []

 

Fachmy Casofa
–belum menikah.

Iklan

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s