@oporKREATIF: Inside the Scene

“When people carry on public discussion long enough, with sufficient human feeling, to form webs of personal relationships.”

–Howard Rheingold, Virtual Communities.

 Sabtu, 15 Oktober 2011 lalu, tergelar acara bertajuk Obrolan Pelopor Kreativitas yang kemudian disingkat menjadi OPOR KREATIF—yang kemudian lebih sering ditulis dengan @oporKREATIF karena itu adalah akun twitternya. Sesuai janjinya, acara ini berhasrat memertemukan lintas profesi dari para insan yang berkecimpung di industri kreatif. Hadirlah kemudian di Kopitiam Oey, Purwosari, Solo tersebut 40-an hadirin yang telah diseleksi dari 70-an lebih pendaftar. Diseleksi mengingat keterbatasan tempat, serta dikarenakan ini adalah acara perdana dari @oporKREATIF, jadi lebih butuh nuansa keakraban dan bincang ringan yang asik, sekaligus untuk perekrutan pengurus inti. Maklum saja, acara ini digelar hanya dipersiapkan enam hari sebelumnya, dengan jumlah panitia yang hanya empat orang. Kemudian, di hari H, justru kemudian banyak panitia dadakan yang sangat membantu kelancaran acara yang diisi oleh M. Arief Budiman, founder Petakumpet ini.

Akan tetapi, di catatan kali ini tidak akan saya bahas betapa gembiranya peserta dengan diadakannya acara ini—saya sedang menyiapkan catatan reportasenya yang digabung dengan beberapa foto-foto kegiatan, tetapi lebih ke soal sisi activation community-nya.

Oke, mari kita mulai saja, ya.

Dengan persiapan yang hanya enam hari, acara yang termasuk sukses digelar ini tentu saja luar biasa. Apalagi dengan pemateri kelas nasional (pemateri yang didaulat ada dua, yaitu Bambang Trim—beliau membatalkan sore harinya karena masih ada acara di Diknas, serta M. Arief Budiman). Uniknya, pamflet pun baru disebarkan hari Selasa dan hanya lewat Facebook dan Blog. Viral marketing pun bekerja dengan sendirinya. Rencana awal peserta yang hanya 25 membengkak menjadi 40-an. Serunya, sebelum hari H, banyak peserta yang merayu agar kebagian tiket masuk, karena di pamflet memang diumumkan bahwa acara ini terbatas. Bagaimana cara mereka merayu? Menelepon langsung panitia, dan memaparkan bahwa ia sangat tertarik dengan acara ini, apalagi di Solo, acara semacam ini belum pernah digelar, apalagi pemateri kelas Arief Budiman, bahkan sampai bilang, “Tolong ya, My…” dan rayuan-rayuan yang sangat bikin gak tega panitia untuk menolaknya.

Tetapi, selaku ketua panitia, saya mencatat beberapa hal mengenai acara ini.

Pertama, siklus anggota komunitas ternyata memang masih berlaku.

Bagaimanapun, @oporKREATIF adalah komunitas. Sebagaimana pada umumnya, selalu ada tahapan dalam sebuah komunitas bagi para anggotanya. Nah, umumnya siklus bergabungnya seseorang dalam komunitas adalah sebagai berikut:

Lurker

Ia belum bergabung. Masih lihat-lihat, timang-timang, perhati-perhatikan, lirak-lirik, dan intip-intip, serta yang berputak di otaknya adalah, “Itu pada ngapain sih?”.

Novice

Kelihatan jago di media online, tapi saat kopdar masih malu-malu juga. Malu-malu bukan dalam artian terus mojok di sudut, kemudian muka selalu memerah. Tidak, tapi suaranya tak sebanyak yang ia dengungkan di ranah online. Beberapa anggota komunitas yang lain sudah bisa menebak, “Eh, itu kayaknya si A deh yah.” Artinya, beberapa anggota komunitas sudah ada yang mengenalnya. Tapi, aksi dan kontribusinya belum begitu nampak di komunitas ini. Saya mendapati lebih dari 70% peserta yang seperti ini. Analisa saya, mungkin karena ini baru acara perdana. Jadi masih shock ngeliat temen-temen online yang ternyata pas ketemu di offline ada yang lebih ganteng, lebih narsis, lebih gila, dan lebih tidak karuan. Jadi, ya… semacam pengondisian jiwa dulu lah. Optimisnya saya, semoga keakraban langsung terjadi nanti di acara kedua. Dan kemudian langsung naik menjadi siklus yang ketiga.

Regular

Sudah mulai aktif, dan ikut sering ‘melakukan sesuatu’ bersama anggota yang lainnya. Konsep dasar komunitas yang memang saling berbagi dan saling senang melakukan sesuatu bersama, sudah merasuk dalam setiap tindakan yang ia lakukan. Tentu saja, keberadaannya yang seperti itu menyenangkan pula bagi anggota lainnya. Karena komunitas akan menjadi hidup.

Leader

Visinya sangat jauh ke depan. Melakukan gebrakan-gebrakan, dan selalu menjadi tameng utama. Tombok adalah sesuatu yang lumrah dan sudah sering ia rasai. Kepercayaan yang besar dari anggota yang lainnya mutlak diperlukan olehnya. Karena dalam komunitas, kepercayaan adalah modal utama agar rodanya tetap berjalan dengan apik. Ia harus menguasai banyak hal, sehingga selalu bisa memberikan solusi dan ide-ide gila, dan di saat yang sama juga harus bisa jadi panutan.

Ada tahapan kelima, yaitu Elder yang dihuni oleh mereka yang sudah sangat bosan berada di komunitas karena komunitas tidak menghadirkan sesuatu yang keren lagi. Tapi tak usah dibahas panjanglah. Intinya ada di empat siklus di atas. Harapan saya, acara kedua yang bakalan digelar sudah ada 50% lah yang kemudian menjadi Reguler. Karena di kemudian hari mereka itulah yang menjadi nyawa dari komunitas ini agar tetap hidup.

Kedua, kesadaran social media for social movement.

Sudah berkali-kali saya umumkan ke peserta bahwa akun @oporKREATIF akan mengkultwitkan pemateri dengan #gathering1. Bahkan, saya yang menjadi moderator sekaligus MC pun menyimak pemaparan pemateri sembari mengkultwitkan lewat akun saya @fachmycasofa—karena @oporKREATIF sudah ada adminnya sendiri dari panitia—dengan hashtag yang sama. Bahkan, tujuan dari pemberitahuan akun twitter adalah agar followernya bertambah, sehingga pemberitahuan acara dan kultwit sekitar dunia kreatif mudah dilakukan. Ternyata, peserta kebanyakan adalah aktivis Facebook, dan bukan Twitter. Terbukti dengan follower @oporKREATIF tidak terlalu bertambah dengan signifikan, dan #gathering1 tak banyak RT dari peserta. Kedigdayaan twitter belum begitu disadari oleh insan kreatif Solo. Masih banyak yang berada di Facebook. Padahal, OPOR KREATIF sendiri belum membuat fan page di Facebook, apalagi akun khusus. Malahan, ada beberapa peserta yang tidak ngeh bahwa @oporKREATIF yang sudah terpasang dengan sangat gedenya di spanduk itu adalah akun twitter. Hahahaha. Padahal, saat saya ditemui oleh GM Kopitiam Oey, beliau langsung terkesima dengan format acara dan langsung ngeh bahwa itu adalah akun twitter. “Nanti kita bantuin nyebar deh mas Fachmy…” tutur beliau bersemangat. Dengan beberapa kenyataan ini, sudah bisakah menjadi sample dari keadaan insan kreatif di Solo? Jangan buru-buru mengambil kesimpulan. Kita lihat dulu perkembangannya di OPOR KREATIF selanjutnya.

Teringat saya dengan pembagian Homo Digitalis, hasil riset dari Digital Antrophology yang diselenggara oleh University of Kent dan TalkTalk di UK. Istilah Homo Digitalis merujuk kepada manusia yang dekat dengan teknologi. Inilah pembagian enam kelompok di dalamnya:

Digital Extroverts

  • Terlibat sangat dengan teknologi konvergensi antara mobile dan internet, seperti BlackBerry, iPhone, dan Android.
  • Internet addict. Butuh banget dengan bandwidth besar, dan tidak suka dengan koneksi lelet.
  • Status update adalah rutinitas. Terlewatnya sehari tanpa terkoneksi dengan internet adalah kehilangan. Social media sudah sangat akrab digeluti.
  • Gemar sekali berbagi. Aktif menulis blog. Selalu mengamati secara real time aktivitas teman dan keluarga.

Timid Technoprobes

  • Menggunakan mobile, tapi tidak tertarik dengan smartphone. Menggunakan fitur di mobile dengan sederhana saja, yaitu telepon dan SMS.
  • Keahlian berinternet tidak begitu bagus, bahkan termasuk jarang menggunakannya. Istilah-istilah dalam dunia internet pun tidak begitu akrab baginya. Sudah bisa menggunakan email, tapi lebih suka menggunakan pena dan kertas serta mengirim surat secara konvensional.
  • Terlalu banyaknya informasi di internet membuat mereka tidak tahu siapa yang bisa dipercaya.
  • Tidak tertarik menulis blog, apalagi Facebook dan Twitter. Baginya, itu adalah kerjaan orang kurang kerjaan.

Social Secretaries

  • Biasanya para perempuan yang sibuk. Tak sempat menggnakan gadget dengan optimal. Sudah sangat senang bila bisa SMS, telepon, atau chat dengan keluarga, pasangan, dan teman-temannya.
  • Menggunakan teknologi demi tetap terkoneksi.

First Lifers

  • Menggunakan internet, tapi tidak sadar secara utuh bahwa ia sudah memanfaatkannya untuk kemudahan hidupnya. Misalnya, sudah mulai mencari tempat makan dan tempat kongkow dengan menggunakan GPS, Skype, Google, Facebook, dll.
  • Tak pernah peduli bagaimana internet bekerja. Yang penting bisa menikmati musik, video, dan bermain online game dengan lancar.

E-ager Beavers

  • Mirip dengan Digital Extroverts, namun kurang percaya diri. Lebih suka download daripada upload. Tidak pernah merasa bisa membaut blog, apalagi mengisinya.
  • Sangat senang bila internet dapat membuatnya terkoneksi dengan hal-hal baru (musik, TV, dll) dan bersua dengan teman-teman lama di jejaring sosial. Tapi tidak tertarik mencari teman baru di ranah social media.

Web Boomers

  • Sangat tertarik dengan fakta bahwa betapa cepat dan efisiennya informasi mengalir di internet. Semuanya bisa dinikmati langsung dari rumah. Informasi dari internet mulai menggantikan perpustakaan lokal sebagai sumber informasi dan hiburan utama.
  • Lebih dewasa dan bijak dibanding kelompok lainnya. Membaca informasi di internet tidak langsung membuatnya yakin kalau itu benar. Akan dicek ulang melalui sumber informasi yang telah dipercayai sebelumnya. Masih aktif membaca koran setiap hari.
  • Punya banyak waktu luang, dan menghabiskannya dengan kegiatan yang disukai. Kelompok ini sudah biasa bertransaksi dan berbelanja di ranah online. Akan membaca banyak resensi produk dan melakukan komparasi harga dulu sebelum memutuskan membelinya.
  • Tidak tertarik dengan jejaring sosial. Lebih suka menggunakan telepon rumah untuk berhubungan dengan teman dan keluarganya. Mulai belajar menggunakan Skype sebagai pelengkap telepon tradisional, agar bisa melihat perkembangan cucu-cucunya jauh di seberang sana.

Dengan pembagian seperti itu, insan industri kreatif di Solo, rata-rata masuk kelompok manakah?

Ketiga, acara serupa yang langka.

Ada peserta yang girang alang kepalang karena di Solo sudah ada acara seperti ini. Karena selama ini, ia harus menuju Jakarta dan Jogja untuk mendapatkan acara serupa. Ah, dengan pendapat yang sama pula panitia menggagas acara ini. Dan ternyata konsep awal kami untuk mengadakan acara semacam ini sama dengan pikiran teman-teman kawan-kawan insan kreatif yang lain. Sangat melegakan mendengarnya.

***

Itulah beberapa catatan dari saya mengenai acara ini. Harapannya, dengan evaluasi dan pemetaan ringan seperti ini akan lebih memudahkan untuk menggelar acara kedua yang rencananya digelar November. Karena pemetaan akan berperan besar dalam mengelola keanggotaan serta menerapkan pola yang tepat dalam penggelaran acara.

Terakhir, adakah yang punya pendapatnya mengenai acara ini? Agar panitia memiliki bahan perbaikan dan bisa memetakan keadaan untuk acara selanjutnya. Oke. Terima kasih kepada semua yang telah hadir. Suatu kehormatan bisa bertemu dan bekerjasama dengan insan kreatif sepertimu. Remember, where there is a will, there is a wall 😉

Fachmy Casofa
@fachmycasofa

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s