Menulis yang Solutif

Tidak mudah memang menjadi menjadi seorang pribadi yang solutif. Apalagi menulis yang solutif. Solutif berarti berani untuk memberikan cahaya, walau itu sedikit saja. Solutif berarti berani menyalakan lentera, walau remang-remang saja. Tapi dia berbuat. Dia menawarkan sesuatu. Dia membuat orang lain berpikir, kemudian berbuat. Untuk kebaikan. Untuk bumi yang lebih damai. Untuk kemashlahatan yang melingkup erat. Nah, tak mudah melakukan itu.

Seperti pagi ini. Saya mendapati sebuah artikel di website ternama. Apa reaksi pertama saya ketika selesai membaca? Mumet! Kenapa bisa mumet?

Pertama, ini masuk kategori Editorial. Yah, kita ngerti khan yang nulis artikel di halaman Editorial itu siapa. Tapi kualitas editingnya. Duh, duh, duh. Saya walaupun baru jadi editor dua tahun, tapi ngerti banget kalo itu kategori remuk sangat. Heuheu. Separah-parahnya saya kalo nulis serius, gak separah itu deh. Berbeda ya kalo di blog ini, saya lebih pake gaya nulis yang merakyat biar ringan dikonsumsi. Tapi itu kan media serius, masak ya seperti itu. Yang bikin saya ngenes lagi, itu khan media islami, mbok ya nunjukin kualitas kader Islam kalo nulis itu sesuati aturan jurnalistik gitu lho. Editingnya yang gantheng.

Kedua, setelah membaca tuntas tulisannya, saya gak ngerti ke mana arahnya. Cuman nampilin data-data betapa bobroknya pemerintahan Indonesia. Ealah mas, mas. Kalo pemerintahan Indonesia bobrok, seluruh penduduk negeri ini juga ngerti mas. Kita malah sudah sampe taraf muntah-muntah disodorin data seperti itu. Media-media penting seperti itu, yang jadi rujukan umat seperti itu, mbok ya ngasih solusi yang aplikatif. Walaupun solusinya sederhana, lebih saya hargai daripada malah makin bikin mumet otak saya yang sudah mulai bosan dengan kritik-kritik melulu seperti itu. Sudah tulisannya penuh kritik, tak ada solusi, juga makin bikin otak kita kebanjiran energi negatif dan makin ilfil sama negeri ini. Lha, khan parah tuh. Seluruh negeri ini baca tulisan-tulisan berkarakter gak jelas seperti itu, apa ndak malah bikin generasi bangsa jadi males untuk bangkit, mempunyai harapan untuk memperbaiki bangsa karena merasa bangsa sudah sedemikian parahnya. Sudah kejet-kejet. Koma. Kritis akut. Nanti juga mati sendiri. Sudah, tinggalin saja. Apa ndak begitu?

Ah, kenapa saya malah ngikut mengkritik tanpa solusi. Jadi begini, menulis itu ndak gampang. Menulis itu memang kudu mencerahkan. Kalo menyodorkan masalah, berarti harus sekaligus menyodorkan solusi bagi pembaca. Berat? Memang. Siapa suruh jadi penulis. Lha milih sendiri, ya harus nerima konsekuensi.

Nah, solusi untuk media online ternama seperti itu, nih saya kasih solusi. Pertama, jajaran redaksi ikut pelatihan editing. Sumpe, itu asli gak asik buat dibaca. Toh itu untuk kepentingan umat juga khan. Masak gak mau. Kedua, lain kali, kalo jajaran redaksi yang nulis, yang solutif ya. Jangan cuman ba-bi-bu nyodorin masalah. Kite-kite udah ngerti kok kalo bangsa sedang banyak masalah. Kasih solusi paling sederhana sekalipun juga ndak papa. Kite terima kok. Itu lebih bikin kami fresh dan bersemangat menapaki hari. Daripada merusak hari kami yang gantheng dengan sekian sodoran masalah. Ataukah itu hanya bersifat informasi saja? Hla, ngapain ngasih informasi yang malah memasukkan unsur negatif ke dalam otak kami? Ngasih informasi yang keren-keren dong ah. Yang positif-positif. Yang bikin bumi lebih damai dan asik untuk ditempati. Tapi khan selalu ada positif dan negatif dalam hidup ini. Oleh karena itulah, imbagi dong kalo ngasih info negatif sekaligus solusinya. Biar otak kami gak bruwet kayak tivi njaman delapan puluhan. Nah, begitu khan lebih sip bagi generasi bangsa.

Ah, ngapain saya ngomel-ngomel di pagi begini. Itulah mengapa saya masih belum suka baca berita-berita seperti itu. Gak bikin gue kreatif, tapi malah pesimis yang ada. Bikin ngedumel gak jelas. Heuheuheu. Giman teman-teman, ada yang tidak sepakat dengan saya mungkin? Biar otak saya terbuka dan belajar lagi.

Punya opini yang lain tentang kasus saya di pagi ini kah?

Iklan

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s