Aksara yang Membahagia Jiwa

Nama pria ini adalah John Mulligan. Umurnya sudah empat puluh sembilan tahun. Dia adalah seorang tentara Amerika yang bertugas pada masa perang Vietnam. Setelah pulang dari perang itu, Mulligan merasakan guncangan hebat dalam jiwanya. Ini tentu maklum saja, bagi penyuka sejarah, siapapun pasti tahu, medan Vietnam memang serasa neraka bagi serdadu Amerika.

Di jantung kota San Fransisco, Mulligan menjalani hari-harinya. Tapi sayang, tidak jelas arah hidupnya. Ia menjalani waktu demi waktu dengan luntang-lantung. Bayangan hari-hari semasa yang ia alami di Vietnam terus menghantuinya. Jiwanya terkoyak hebat. Pikirannya kacau. Hatinya tercabik-cabik. Ia memang selamat tanpa luka jasadi yang berarti di medan perang itu. Tapi psikisnya remuk. Keluarga, sahabat, tetangga, orang-orang terkasih, tak lagi ia perhatikan. Ia acuhkan kesemuanya itu. Ia mengalami guncangan superhebat dalam kepribadiannya. Koyakan kegelisahan hidup telah menjadi kawannya sekarang. Ia tak tahu lagi harus berbuat apa. Arti hidup tak lagi jelas dalam pandangannya.

Hingga sebuah sejarah hebat dimulai. Tiba-tiba Mulligan tertarik dengan sebuah workshop menulis yang disarankan teman dekatnya karena kasihan melihat keadaannya. Tak tanggung-tanggung, pemateri workshop kali ini adalah Maxine Hong Kingston, penulis masyhur negeri Paman Sam itu. Kingston menyarankan kepada Mulligan untuk mengungkapkan semua pengalaman traumatis yang pernah ia alami semasa berada di Vietnam ke dalam bentuk tulisan. Itu satu-satunya cara untuk memulai lagi hidup yang berbinar seperti dulu kala.

Cerita hebat itu kemudian dimulai. Setelah meninggalkan ruangan workshop. Keadaannya berubah drastis. Ia seperti para bajak laut yang baru menemukan harta karun yang melimpah ruah. Mulligan tertawa dan bersiul-siul di sepanjang perjalanan menuju rumahnya. Bukan karena ia bertambah gila, justru ia tengah menemukan makna baru dalam kehidupannya. Hidup baru yang lebih bahagia akan dimulainya.

Sesampainya di rumah, Mulligan bergegas meraih mesin tiknya. Kertas ia siapkan. Jemarinya siap digerakkan menekan tuts. Awalnya, suara ketukan mesin tik itu terdengar pelan nan lamban. Lama kelamaan semakin cepat. Lebih cepat. Dan lebih cepat lagi. Mulligan menulis dengan emosi. Semua yang ada di hatinya ia curahkan. Semua yang menggumpal di otaknya ia kerahkan. Semua yang menjadi bebannya ia tuliskan. Ia menulis, tanpa memerhatikan benar tidaknya ejaan dan pungtuasi. Ia menulis dengan merdeka. Ia ingin melepaskan beban yang menyerang di seluruh bagian terdalam hidupnya. Sesekali, ia menjeda mengetik dengan menyeka air matanya. Luapan emosinya kali ini benar-benar membuncah hebat.

Awal-awalnya, ia menuliskan adegan-adegan menegangkan yang ia alami semasa perang. Kemudian tentang teman-temannya yang menembak serampangan hanya untuk kesenangan. Desing peluru yang berhamburan di tiap waktu. Interogasi yang tak manusiawi. Berhamburannya tubuh manusia di pohon-pohon. Kepala yang tak lagi bersama tubuhnya yang menggelinding ke mana-mana. Serta ranjau yang selalu menjadi kejutan di setiap langkah yang ia dan kawan-kawannya jejakkan. Serasa neraka telah terhadirkan di bumi.

Awal-awalnya pula, saat membaca tulisannya sendiri, ia ngeri juga saat mengetahui bahwa betapa mengerikannya apa yang ada dalam jiwanya. Terkadang, ia mengacak-acak rambutnya sendiri, berteriak tak jelas, dan menertawai ketololannya sendiri, saat mengingat segala kehororan yang telah dialaminya semasa di Vietnam. Semua dikisahkannya melalui tulisan dengan sangat merdeka dengan aturan tulisan ala dia sendiri.

Tahun-tahun berikut, ia menjadi cerah. Ia tak lagi terbebani sedemikian berat deraan kehidupan. Pikirannya kini jernih. Hidupnya menjadi terarah. Menuangkan segala beban ke dalam tulisan ternyata sangat efektif untuk menyembuhkan segala luka-luka psikologis yang sudah sedemikian parah menganga dalam dirinya. “Saya dulu seperti kerang kosong yang berjalan-jalan di jalanan. Menulis telah membuat saya merasa punya jiwa,” kata Mulligan penuh haru. Maka lahirlah kemudian, novel apik itu dari tangannya: Shopping Cart Soldiers.

Applause riuh patut kita berikan kepadanya. Untuk kesembuhan jiwanya. Serta keberhasilan karyanya. Keadaan Mulligan, persis dengan petuah manis, “Pada dasarnya,” kata Pennebaker, “bagi yang mengalami keguncangan jiwa atau mengalami depresi, bergegaslah menulis. Menulislah secara sangat bebas tanpa memedulikan struktur kalimat dan tata bahasa. Niscaya, Anda akan terbebaskan dari segala deraan batin.”

Ada banyak cara agar aksara-aksara itu berubah bunga-bunga, kemudian mengharumi alur kehidupan menjadi taman kebahagiaan. Setiap orang mempunyai caranya sendiri-sendiri. Tetapi, semoga beberapa di bawah ini, bisa menjadi bibit yang suatu saat nanti merekah dengan indah.

 

Menyapa Jiwa Sedari Dini

“Menulis dapat menghasilkan perubahan pada sistim imunitas dan harmonal dalam merespons beban stress, dan meningkatkan hubungan serta kemampuan kita dalam menghadapi stress,” kata Joshua M. Smyth, psikolog di Syracuse University. Empat tahun lalu, Veronica Chapa mengalami depresi berat. Dia patah hati. Kecewa dengan mantan pacarnya dan merasa heran mengapa dia bisa memiliki lelaki macam Joni yang tak pernah punya perhatian sedikit pun kepada dirinya. Tidak mau melakukan kesalahan untuk yang kedua kalinya, Veronica mengikuti sebuah terapi. Harapannya, dengan terapi tersebut, dia dapat mengenal dirinya sehingga tidak salah lagi dalam mengambil keputusan. Maka ikutlah dia dalam sebuah kelompok terapi menulis. Karena latar belakangnya adalah penulis di bidang marketing, Veronica yang saat itu berumur 29 tahun ini, merasa terapi ini pastilah tak begitu sulit untuk diikuti. Tetapi ternyata, dugaan Veronica meleset. “Saya tahu saya hanya tinggal menulis pada kertas kosong yang disediakan,” katanya, “tapi kok rasanya sulit sekali ya menulis tentang diri sendiri,” terangnya jujur.

Pemimpin dari terapi ini, Michele Weldon, seorang penulis berjudul Writing to Save Yourlife, memiliki solusi sederhana untuk Veronica. “Tulislah surat untuk diri sendiri.” Veronica pun kemudian menemukan kunci dari kesulitannya tersebut. Lalu mulailah Veronica menangis beberapa menit setelah menulis dua kata di kertasnya yang berbunyi: Dear Veronica. “Sekali dua kata itu tertuliskan,” katanya, “langsung terbukalah kepenatan, kekecewaan, serta kegelisahan yang saya alami. Semuanya seolah mengalir dan terurai keluar tanpa bisa ditahan.”

Kita sering menyapa mereka yang di luar, tetapi tidak jiwa terdalam. Padahal, ia lebih membutuhkan kenyamanan, ketenteraman, sentuhan kebahagiaan, dan sapaan-sapaan kasih sayang yang menghangatkan. Ia yang membersamai kita di hari-hari. Ia yang menemani kita di tiap waktu. Ia butuh sapaan. Berdialog dengannya, adalah salah satu cara terbaik untuk memulai lagi hubungan apik itu. Jika malu bersuara, tulis saja. Biarkan di tiap kata mengalir sapaan terjujur dan terindah yang pernah kita keluarkan. Sedikit demi sedikit, ia akan membasahi jiwa terdalam yang lama tak kita singgahi itu. “Begitu banyak orang merasa tidak bisa dan kesulitan memulai semuanya,” kata Natalie Goldberg, penulis Writing Down the Bones. Tapi sulit, bukan berarti tidak mungkin.

 

Mulailah dengan Sederhana Saja

Tak perlu beralasan tak ada sarana. Ketiadaan laptop, personal computer, ataupun mesin ketik, bukanlah hambatan. Mulailah dengan sederhana saja. Tuhan telah membekali tangan yang sedemikian menawan. Peganglah pena. Rasakan kata yang datang dari jiwa, mengalir melewati tangan, kemudian pena, lalu meliuk berderai mentera kertas yang putih bersih itu. Rasakan seperti para petani menikmati semilir angin di gubugnya sembari mununggui padi untuk menjaganya dari gangguan beburung di udara dhuha yang bersahaja. Rasakan seperti seorang pemahat tengah mencipta mahakarya. Rasakan seperti seorang pelukis menggoresi kanvasnya dengan warna-warna. Mulailah dengan sederhana saja.

“Mulailah secara sederhana,” kata Sandra Lee Schubert, “belilah sebuah buku harian atau buku catatan yang tidak terlalu mahal dan pilihlah sebuah pena favorit. Buatlah sebuah waktu keramat untuk diri Anda saat di mana Anda tidak mau diganggu. Tulislah apa yang ada di benak Anda. Apakah Anda tengah bergelut dengan masalah yang sulit dan rasa sakit? Mulailah dari sini. Uraikan masalah dan rasa sakit itu, siapa dan apa yang terlibat, mengapa hal ini bisa menjadi masalah bagi Anda, dan apa yang Anda rasakan ketika isu ini ada pada diri Anda.” Sederhana saja. Mulailah dengan menterakan kekata dari keadaan jiwa yang tengah kita rasa. Lakukan sesering mungkin. Jika memungkinkan, setiap hari. Maka itu akan menjadi catatan harian. Menurut Sandra, catatan harian adalah alat yang digunakan dalam jangka panjang untuk penyembuhan dan pertumbuhan personal. Ini tidak membutuhkan kecakapan dan uang. Catatan harian dapat menjadi teman seumur hidup. Gunakan dengan baik, dan ini akan membalas Anda dengan kebahagiaan, pemenuhan, dan hidup yang lebih sehat. Beginilah, cara-cara sederhana namun membahagia jiwa dengan luar biasa.

 

Engkau Tengah Mentera Sejarahmu Sendiri

Tak berbahagiakah engkau, saat justru dari tanganmu sendirilah sejarah menjadi alurmu? Tak riangkah engkau, saat justru peradaban tengah engkau sumbangi dengan goresan kekata yang tengah engkau upayakan? Pada abad ke-13, buku-buku di seluruh perpustakaan Baghdad, Irak, dibakar. Dari sanalah kemudian muncul gagasan yang melegenda itu, bahwa bila kita ingin mengubah suatu peradaban manusia, bakarlah semua buku dan gantilah dengan yang baru. Karena buku adalah salah satu tiang peradaban. Tulisan-tulisan menjadi nyawa peradaban yang tervital. Titik terakhir tertinggi peradaban adalah tulisan. Setinggi apapun peradaban, jikalah belum meninggalkan warisan berbentuk tulis, belumlah menjadi peradaban yang makmur dan berkepribadian luhur. Melalui tulisan, generasi takkan hilang, tetapi justru mati satu tumbuh seribu. Jika para ilmuwan yang telah meninggal beratus-ratus tahun yang lalu tidak mentransformasikan ilmunya lewat tulisan, maka takkan pernah sejarah mengenang nama Al-Ghazali, Albert Enstein, Al-Farabi, dan nama-nama lain yang agung itu.

Tak tertangkap pula kegemilangan Majapahit, jikalah Empu Prapanca tidak menuliskan kisahnya dalam lembaran-lembaran daun lontar dan pahatan prasasti. Tak ada sejarah tanpa adanya tulisan. Manusia pribadi, berada dalam eksistensi mitos, karena cerita dari mulut ke mulut yang beruntun dan turun temurun. Manusia sejarah, berada dalam eksistensi sejarah karena adanya tulisan, yang ia dikenang darinya turun temurun pula. Jika setiap pribadi dalam suatu bangsa mengerti betapa berharganya kemampuan menulis, tentulah bangsa itu akan menjadi besar dan berperadaban luhur. Kita bisa mengatakan dengan, negara maju adalah negara yang tingkat membaca dan menulisnya tinggi. Sedangkan negera terbelakang adalah kesebalikannya. Dan jika peradaban itu kita ibaratkan panggung, maka mereka yang menulis itu adalah aktor sejarahnya.

Maka dalam lintasan sejarah, kita mendapati nama-nama berikut terkenang hingga sekarang. Walau sunyi mengkawani setiap hari. Walau besi-besi menjeruji kebebasan. Semasa ditahan dalam penjara Glodok tahun 1934, Hatta merampungkan Krisis Ekonomi dan Kapitalisme. Awalnya ia tidak yakin bisa rampung, karena tidak boleh memasukkan kertas ke dalam bui. Yang boleh masuk hanyalah buku dan pensil. Semasa dibuang ke Digul, Hatta pun semakin kerap lagi menulis. Simaklah kata-katanya ketika berada di Boven, Digul, Papua, pada tahun 1934. “Buku adalah temanku. Buku-buku menjadi temanku dan pastilah (penjara) ini merupakan tempat tenang untuk belajar. Selama aku memiliki buku, aku dapat tinggal di mana saja.” Selain menulis, Hatta juga getol membaca dalam penjara. Maka saat ia bebas, tak tampak raut keputusasaan sebagaimana yang dialami tahanan lainnya. Jiwanya tetap sehat. Ia tidak mengalami gangguan psikis. Bahkan terus berusaha memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Hebat nian bukan pengaruh baca tulis?

Ada nama lain lagi, yaitu Mumia Abu-Jamal. Wartawan berras afro-amerika ini divonis mati pada tahun 1982 dengan tuduhan pembunuhan atas seorang polisi. Bertahun-tahun ia menjalani kehidupannya berada di balik jeruji besi, meski bukti yang mendukung bahwa ia tak bersalah telah ditemukan. Pantaslah kemudian bila Mumia menjadi lambang gerakan antirasialisme di Amerika. Selama meringkuk di penjara Pennsylvania, Abu-Jamal menghasilkan sekumpulan tulisan yang kemudian dibukukan dalam dua buah buku: Live From Death Row, dan All Things Censored. Kerennya lagi, tulisannya itu disetarakan dengan tulisan Maritn Luther King Jr sewaktu dalam penjara: Letter From Birmingham Jail.

Penulis feminis Nawal El-Saadawi asal Mesir, juga dipenjara pada tahun 1981 karena mengkritik pemerintahan Anwar Sadat. Uniknya, walaupun di dalam sel, Saadawi terus berkarya. Meski hanya dengan kertas toilet dan pensil alis, Saadawi diam-diam tetap menulis dengan ketekunan luar biasa. Sekeluarnya dari penjara, tulisan itu menghasilkan esai berjudul Memoar dari Penjara Perempuan. Dalam buku itu, dia mengisahkan bahwa ketimpangan sosial-ekonomi dan gender merupakan penyebab masuknya perempuan tersebut ke dalam sel penjara.

Menulis adalah jalan asketis. Ia memerlukan niat dan kesungguhan yang tiada tara untuk mencapai dalam tahap terampil melakukannya. Jalan pengabdian diri yang total. Tak peduli orang-orang menganggap apa karyanya. Entah itu picisan, murahan, dan lain sebagainya. Tapi ia terus menulis. Ia tunaikan jalan itu hingga selesai tanpa memedulikan orang yang mencibirnya. Ia terus menulis untuk terus membahagia jiwa, serta menata dunia yang lebih baik untuk dihuni bagi semua.

Iklan

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s