127 Hours

Sejak trailernya dimunculin, saya sudah tidak sabar untuk menonton film ini. Saya selalu suka film-film inspiratif tentang kehidupan seperti ini. Dengan menonton film-film semacam ini, saya pasti bisa mendapatkan pencerahan dalam kehidupan. Pasti ada kata-kata motivasi, ada spirit untuk tak pernah menyerah, dan untuk menghargai kehidupan. Apalagi, waktu ngerti kalo sutradaranya Danny Boyle yang Slumdog Millionaire. Duh, jaminan pastinya! Coba lihat sejenak trailer seru ini.

Dan ternyata memang sangat-sangat memuaskan. Pembukaannya saja sudah sangat kreatif nih film. Dengan peran tunggal, James Franco yang jadi Green Goblin di Spiderman itu, sangat-sangat menjiwai. Saat jiwa petualangnya sedang berkobar, bagaimana ia berteriak-teriak penuh sensasi. Menolong para pendaki yang tersesat. Seru lah sebagai seorang petualang yang cinta mati sama pegunungan.

Hingga peristiwa naas itu menimpanya. Ia terpeleset, dan bongkahan batu menjepit tangannya hingga gak bisa dilepaskan lagi. Lima hari dia terjepit. Lima hari pula ia berjuang bagaimana caranya agar tangannya bisa lolos dari jepitan batu itu. Di hari-hari ia menjalani kenaasannya itulah Aron Carlston, tokoh sentral ini, ingat dengan keluarganya, orang-orang terkasihnya, dan juga dua pendaki yang baru saja ditolongnya.

Ia hampir saja menyerah. Tapi ia berkata kepada diri sendiri, “Kamu jangan menyerah.”

Hingga akhirnya ia memutuskan untuk mengamputasi tangannya sendiri yang memang sudah mati rasa. Pilihan yang sangat sulit. Dengan kondisi tubuh yang sudah tidak bugar lagi. Kehabisan air, hingga ia harus minum dari air kencingnya sendiri, dan ruangan sempit yang membuatnya bisa hampir gila. Tapi Aron tidak menyerah. Ia tak mau berhenti sampai di sini. Ia ingin menemui Rana, kekasihnya, Ibunya, keluarganya, dan orang-orang terkasihnya.

Setelah diamputasi sendiri tangannya, ia pun masih harus naik lagi ke permukaan. Mencari air. Ia masih harus berpayah-payah lagi untuk pulang. Ah, sungguh benar-benar sebuah jalan panjang untuk menemui orang-orang terkasih…

Oke, itu dari segi film. Yang lebih gila lagi adalah, ini adalah kisah nyata! Uh. What a great! Aron Carlston, pada April 2003, melakukan perjalanan sebagaimana divisualkan dengan sangat apik di film ini. Mengendarai mobilnya, sendirian menuju Utah. Karena jalan raya habis, ia kemudian mengeluarkan sepedanya yang ada di mobil, kemudian bersepeda ria melewati pegunungan sejauh yang ia mampu. Dengan headphone yang selalu menyertainya, ia bernyanyi-nyanyi di sepanjang jalan.

Selain headphone dan pemutar musik, ia juga selalu membawa kamera digital dan handycam untuk mendokumentasikan setiap hal-hal seru yang ia dapat. Setelah terjatuh dari sepeda, ia kemudian berhenti (dan saat terjatuh dari sepeda pun ia tertawa girang! Beuh, benar-benar petualang nih orang). Ia kemudian meneruskan perjalanannya dengan jalan kaki. Kali ini ia menuju Blue John Canyon. Hal ini sudah sering ia lakukan, bahkan saking seringnya, ia sampai hapal rutenya. Ia pun benar-benar menikmati sensasi di pegunungan dengan melihat tempat-tempat yang asik, dan bebatuan yang ia sentuh dengan penuh perasaan menikmati setiap lekukan indah bebatuan yang artistik itu. Hingga tiba-tiba ia terpeleset dan sebuah bongkahan batu ikut jatuh bersamanya dan kemudian tangannya pun terjepit.

Paling parah dari Aron adalah, ia tidak bilang kalo sedang mendaki, dan ia hanya membawa bekal air satu botol saja. Jadi, harapan satu-satunya agar ia bisa selamat adalah dirinya sendiri. Itulah mengapa kemudian ia memutuskan untuk mengamputasi tangannya, karena setelah usaha ekstra kerasnya untuk mendorong batu yang menjepit tangannya itu tidak berhasil.

Ini adalah gambar nyata Aron (bukan di film) saat sudah terjebak selama 48 jam. Lihat tangannya yang terjepit batu dan tidak bisa dilepaskan itu. Oiya, pemilihan karakter yang pas. James Franco, saya kira benar-benar mirip denan Aron di kehidupan nyata.

Dan hanya dengan alat ini dia mengamputasi tangannya. Uh… 😦 Betapa menyakitkannya….

Lihat bagaimana Aron menjelaskan sendiri proses amputasinya di video ini:

Setelah semua peristiwa naas yang menimpanya itu, ia kemudian mendokumentasikannya dalam bukunya yang sangat-sangat fenomenal: Between a Rock and a Hard Place.

Serunya lagi, apakah Aron berhenti mendaki setelah peristiwa itu? Ternyata tidak. Ia terus menikmati petualangannya menaklukkan alam. Bedanya, setiap kali ia pergi, ia selalu bilang ke keluarganya.

Ah, pelajaran hidup yang sangat berharga kawan. Wajib nonton nih film. Poster filmnya keren abis. Cara penyajian Danny Boyle, sang sutradara dalam film ini, sangat-sangat unik, kreatif, dan berbeda dengan film-film yang sudah pernah kita tonton. Benar-benar keren sekali. Yang lebih keren lagi, tentu banyak pelajaran hidup yang kita dapat.Β  So, pastikan untuk tidak melewatkan film yang satu ini yah… πŸ˜‰

Iklan

31 comments

  1. Salah satu film favoritku ditahun 2010 terangkai dari moment getir saat pemain utamanya terjebak ditempat yang sangat sempit dan menyakitkan, judul yang saya maksud adalah Buried yang dibintangi oleh Ryan Reynold dan 127 Hours yang dibintangi oleh James Franco. Uniknya, keduanya memiliki kelas pada phobia yang sama yaitu claustrophobia. Khusus judul yang terakhir, dan memang menjelang film berakhir, adegannya bikin saya ngilu. Untung saja Dido mengalun indah bersama komposer asal india, A.R. Rahman.

      1. lhoh, kenapa suka banget sama Buried sih mas Budi. kalo suka sama 127 hours, masih bisa saya nalar lah. kalo buried, dari sisi apanya? pesan moralnya ataukah sinematografinya yang aduhai? πŸ™‚

      2. Bagiku sama-sama bagus mas, cuman kalo Buried itu pas dulu nonton pernah menyadarkan aku bahwa salah satu ketakutan manusia itu ternyata mati, selain itu, Buried juga menyentil pemerintah amerika tentang kebijakan perang di irak, tujuan asli dari invasinya dan ketidakpedulian mereka terhadap nasib Paul, lagian film ini juga bagus dari sisi kreatif karena bisa memanfaatkan keterbatasan.

      3. wah, jadi pengen nonton. ada nih yang baru, Source Code juga kreatif menurut saya. Walaupun itu kategori film yang hanyak cukup saya tonton satu kali saja. Atau In Time, idenya luar biasa, tapi eksekusinya, duh duh duh, kurang meriah. padahal Seyfield idola gue, maen…. πŸ˜†

      4. Tapi itu menurut saya sih mas, soalnya ada teman saya mangkel setelah nonton film Buried, khususnya endingnya itu. haha. Kalo film baru yang hanya bersetting disatu tempat saja, coba deh tonton Devil yang hanya di dalam lift, atau Carnage yang hanya di dalam ruang tamu saja. πŸ™‚

      5. wowh, Devilnya syamalan pas ngambek karena dikritik soal Last Airbender itu yha. belum nonton sih. cuman gue gak suka horor. soalnya, versi gue kurang seru kalo horor, ah setan, panteslah bisa gitu. tapi kalo action real khan bisa dinalar, oh gitu yha…. πŸ™‚

        carnage? wah, baru denger. πŸ˜€

  2. 127 hours memang mangstab gila gan. adventure banget. gw jadi pengen beli jam suunto n pisau victorinox habis liat film ini. mangstaaaab. hanya satu kata : mangstab

      1. suunto core = jam yg dipake aron raldston
        victorinox = pisau lipat yg ketinggalan waktu si aron raldston mau berangkat adventure

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s