Mengganti Kata Kegagalan

Saya sering menertawakan diri sendiri saat merencanakan sesuatu kemudian belum berhasil mewujudkannya. Biasanya saya menggunakan timeline untuk membuat rencana itu. Tanggal, hari, bulan, tahun-nya sudah ditentukan semua. Tapi saat hari terakhir dan semua itu belum terwujud atau terlaksana, bahkan dalam bahasa orang-orang masuk kategeri: Gatot Subroto alias Gagal Total Banget, saya justru menertawai diri sendiri. Tidak dengan bersedih, tapi asli tertawa. Biasanya mengatakan, “You’re so stupid, huh?”

Iya, sok-sokan pake bahasa inggris beneran. Ya biar kalo nanti ke luar negeri khan gak kagok. Masak pake bahasa arab mulu, khan bosen tho ya. Nah, beberapa waktu terakhir ini, saya sering mengeliminasi kata KEGAGALAN. Itu sudah tidak saya pake lagi. Saya menggantinya dengan Kebodohan. Sebetulnya versi saya sih: Kecupuan. Siapapun manusia di bumi ini, saya yakin dia pasti gak seneng dengan kata GAGAL. Itu manusiawi sih. Nah, walaupun saya superhero, saya juga manusiawi jugah (ih apa sih *_*), saya pun tidak seneng dengan kata itu. Saya kemudian menggantinya dengan kata Cupu. “Eh, ternyata saya ini cupu luar biasa. Masih butuh banyak belajar. Ya sudahlah, gak usah nangis, ayok belajar lagi. Yang rajin. Jangan bolos.” begitu paling tidak bisikan-bisikan kata hati saya. Tidak ada kok orang yang gagal di dunia ini.

Gagal adalah jika memang sudah benar-benar tak bisa lagi untuk meraihnya atau diperbaiki. Padahal, saat kita mencharge semangat untuk meraihnya lagi, mencharge nyali untuk memperbaikinya lagi, kita belajar sambil jalan untuk menujunya itu, maka kita sedang tidak gagal. Kita sedang belajar. Dan saat seseorang sedang belajar, maka dia sedang bodoh. Saat kita belajar huruf A-Z, kita sedang bodoh dalam urusan itu. Saat kita sudah bisa, kita tidak belajar itu lagi, kita kemudian belajar merangkai kata menjadi kalimat. Maka kita bodoh dalam urusan merangkai kata menjadi kalimat. Begitu seterusnya.

Di tahun 2011 ini, semoga kita tetap mau belajar. Membahas alur kehidupan kita agar menjadi lebih gantheng. Sungguh, sejak awal mulanya kita hadir di dunia ini adalah pemenang. Dan di antara sekian juta-miliar penduduk bumi ini, mengapa Allah memilih kita menjadi muslim, misalnya, mungkin salah satu hikmahnya karena Dia tahu, kita tak pernah menyerah untuk belajar. Semakin arif memahami dunia ini. Semakin ingin berdekat-dekat dengan-Nya.

Ah, bagaimanapun itu hanya buah pikiran saya untuk menuju hidup yang lebih gantheng. Bagaiman kawan-kawan, punyakah opini yang lain?

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s