Trip to Banten

Tak akan pernah menyangka saya bisa nyampe Banten. Ujung banget dari pulau Jawa. Kalo liat di peta, gile… jauh bener dari Solo. Heuheuheu. Karena saya tahu bakalan lama di kereta, saya bawa Nibiru. Ini pertama kalinya baca Nibiru. Dan langsung bisa mecahin bahasa Kedhalu. Wahahhaa. Keren banget deh gue.

Sesampai di Gambir. Saya dan teman yang menjadi guide, bingung. Kita sama-sama baru pertama ini di Jakarta. Hahaha. Gila gak tuh. Tanya petugas, disarankan naik kereta listrik ke Stasiun Kota. Oke, sesampai di sana, nyari kereta menuju Cilegon. Eh, kagak ada. Bingung, nanya mas-mas yang di depan stasiun, disuruh naik angkot jurusan Senen, terus di sana, nyari bus jurusan Cilegon. Eh, nyampe Senen, busnya tinggal satu, dan harus menunggu lama karena busnya AC-nya mati. Apes deh. Nunggu setengah jam-an, bis terpaksa jalan tanpa AC. Beuh. Waktu itu sudah maghrib. Suasana sudah sedemikian mencekam. Saya dan teman belum makan. Kami kelaparan. Didukung suasana Jakarta yang penuh ancaman kayak gitu, beuh… bikin kapok balik ke situ deh. Bus kemudian jalan, eh, di tengah jalan diturunin untuk dioper, naik bus jurusan Terminal Bayangan Cilegon. Huah…capcay deh. Akhirnya sampai di tempat tujuan (alhamdulillah), dengan perut penuh kelaparan dan ngantuk berat. Thanks buwat Imam dan Fatah yang udah njemput pake taksi (akhirnya saya bisa naik taksi jugah), dan pecel ayam serta es jus jeruknya. Melegakan kecapekan kami malam itu. Kami kemudian tidur untuk persiapa bedah buku paginya.

Tak dinyana, bedah bukunya rame. Heuheuheu. Saya berkali-kali ngerjain Fatah, sang fotografer. Hahahaha.

Ustadz Ahmad, pemateri kedua.

Banyak khan pesertanya? Sampai belakang lho. Karena di sini banyak akhwat yang hadir, saya kemudian mempromosikan diri saya sendiri. Hahaha… Mumpung banyak yang cakep (halah).

Pulangnya, banyak kejadian tidak seru. Waktu dari Gerbang Tol Kebun Jeruk, saya naik bus jurusan Senen. Padahal tujuannya Gambir. Wakakaka. Kejauhan. Di dalam bus menuju senen, eh, seluruh penumpang dipalak sama preman. Ealah. Saya terpaksa ngasih uang lima ratus saja. Gile, tanmpangnya serem-serem. Habis mabok kayaknya. Sampai Senen, tanya ibu-ibuk, disaranin naek Taksi. Akhirnya naik Taksi, ketemu supir asal Tegal. Kuajak ngobrol, eh dia malah cerita kalo hobinya adalah maen perempuan. Ealah. Sudah tua padahal. Gak kasihan yah sama keluarganya. Heuheu. Tapi bapaknya baik hati juga (mungkin melihat mukaku yang melas dan bingung soal Jakarta kali yha), di anter sampe dalam Gambir. Hore! Sampai Gambir, senangnya bukan maen. Berarti ke Solo, aman! Tinggal nunggu bus ArgoLawu deh… Tapi sambil menunggu sejam-an, kita foto-foto dulu… (ndeso yo ben)

Monasnya Dibawa pulang, taruh di kamar, pasti seru.

Kereta kilat (bohong ding).

Saya dapat parcel Sate Bandeng dari panitia. Baru denger. Enak gak yah? Nyobaik dulu ah…

Eniwei, thanks buwat panitia yang baiknya minta ampun. Alhamdulillah, mereka seneng karena acaranya sukses.

Dan saya juga sukses mengerjai Fatah dan peserta-peserta lainnya. 😉

Semoga kapan-kapan di tempat lain bisa sukses jugah.

Iklan

6 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s