Ku Tetap Berdiri Melawan Hari

“The Future belongs to those who believe in their beauty dreams.”
(F.D .Rosevelt)

Suatu waktu, tentor mimpi saya menuliskan kalimat dahsyatnya seperti biasa, “Mari bermimpi dan terus bekerja keras. Hidup ini akan terlalu membosankan jika diisi bangun pagi yang terpaksa karena harus masuk kerja setiap pagi, menjalankan tugas demi gaji semata lalu pulang kelelahan dan istirahat panjang di rumah saking capeknya. Lalu tidur dengan banyak pikiran karena merasa tertekan di tempat kerja. Besoknya berulang. Terus-menerus seumur hidup. Betapa celakanya!”

Seketika itu pula. Saya langsung tercekat. Ah. Hidup yang seperti itu, tak lain dan tak lebih seperti robot sajah. Tidak ada gayeng-gayengnya sama sekali. Malah seperti kaos yang akan saya buat: Being an Employee is Like Modern Slavery. Benar-benar celaka!

Hidup harus punya mimpi. Punya tujuan. Dan komitmen untuk melakukan apapun yang diperlukan untuk mencapai tujuan.” Kata tentor mimpi saya itu suatu ketika yang lain. Kemudian dilanjutkan, “memilih apa yang orang lain tidak pilih, memimpikan apa yang orang lain tidak impikan dan melakukan apa yang orang lain tidak lakukan.” Katanya memastikan dan meneguhkan.

Ah, saya makin limbung tak karuan. Saya harus tetap tegar berdiri melawan hari-hari yang datang silih berganti. Kadang ramah. Kadang malah sering menimbulkan duri. Eh, ketika saya mulai tak karuan, malah disambung dengan tentor mimpi saya itu yang mengutip kekalimat ini:

“Anda harus menemukan sesuatu yang sangat Anda cintai untuk mampu mengambil resiko, melompati rintangan dan tembok yang akan selalu diletakkan untuk menghalangi jalan Anda. Jika Anda tidak mempunyai perasaan membara seperti itu, maka Anda akan terhenti pada rintangan besar pertama.” – George Lucas

Okay. Cukup sudah. Aku akan tetap tegak berdiri. Melawan hari. Mengalahkannya. Menjelmakan mimpi-mimpi menjadi nyata. Ah, kelihatannya klise dan wagunya memang gak karuan. Tapi saya tahu. Para juara memang biasanya orang-orang wagu.

Oiya. tentor mimpiku itu bernama mas Arief Budiman, dari Petakumpet. Gak ada acara resmi-resmian pengangkatan. Wong kuangkat tanpa meminta persetujuan dari beliau kok.

Iklan

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s