Dalam Dekapan Ukhuwah -sebuah resensi-

kaver buku Dalam Dekapan Ukhuwah

Jangan melakukan hal yang dapat mengganggu nuranimu

Tak ada yang bisa melarikan diri dari keadilan

-Feng Menglong, Yushi Mingyan

Sumpah itu bernama Sumpah Persaudaraan Taman Persik. Para pelakunya adalah Liu Bei, Guan Yu, dan Zhang Fei. Mereka bertiga tidak terlahir dari satu rahim. Tapi mereka tersatukan dalam ikatan satu visi hidup. Dalam Romance of the Three Kingdom-nya Luo Guan Zhong, inilah alasan dari Zhang Fei tentang sumpah itu, “Pohon Persik di belakang rumahku sedang bermekaran dan bunganya indah sekali. Besok kita akan mempersembahkan kurban untuk bersumpah sebagai saudara di hadapan langit dan bumi, serta memohon pertolongan langit agar kita berhasil dalam tugas untuk menumpas pemberontak dan mendamaikan negara.”

Liu Bei dan Guan Yu segera mengangguki rencana tersebut. Maka lahirlah sumpah mereka yang melegenda itu, “Kami bertiga: Liu Bei, Guan Yu dan Zhang Fei, walaupun berbeda keluarga, tapi memiliki satu hati dan bersumpah untuk saling mengangkat saudara dan membantu sesama sampai akhir. Kami bersumpah untuk saling membantu sesama di masa susah dan menikmati kesenangan bersama di masa-masa yang bahagia. Kami bersumpah untuk melayani negara dan rakyat. Kami tidak dilahirkan di saat yang sama, tetapi kami bersedia mati di saat yang sama. Semoga langit, Yang Mahakuasa, bumi dan semua hal yang menghasilkan mendengar sumpah kami. Jika kami melupakan sumpah ini dan kebaikan serta kebenaran, maka biarlah langit dan bumi menyiksa kami.”

Awal-awalnya, ketiga orang ini tak mengira bahwa mereka akan menjadi sedemikian akrabnya dalam ikatan persaudaraan. Liu Bei, merupakan keturunan dari pangeran Sheng dari Zhong Shan yang ayahnya adalah Kaisar Jing, yang merupakan kaisar keempat dari Dinasti Han, yang memerintah dari tahun 157 SM hingga 141 SM. Ayah Liu Bei adalah Liu Hong, seorang pejabat negara, yang seperti pada umumnya saat itu, jikalah pejabat negara terlalu jujur dan idealis, ia akan tersingkir. Ayahnya kemudian mati muda, dan meninggalkan Liu Bei beserta ibunya dalam kemiskinan. Liu Bei harus menjalani hari-harinya dengan menjual sandal dari jerami untuk berhidup.

Zhang Fei, Liu Bei, Guan Yu

Saat berumur 28 tahun, Liu Bei melihat sebuah pengumuman pencarian tentara untuk negara, dikarenakan adanya pemberontakan dari kelompok Jubah Kuning. Di sanalah kemudian ia bertemu Zhang Fei, sosok bermata besar, dan aumannya seperti singa. Setelah saling berkenalan, mereka akhirnya memutuskan untuk pergi ke penginapan untuk merayakan pertemanan. Di sana, mereka berdua bertemu dengan Guan Yu. Sosok bertubuh besar, gagah, keras perangainya, bermata seperti Phoenix, dan beralis seperti sutera. Sosok-sosok unik, biasanya memang mempunyai kemampuan di atas rata-rata orang biasa. Maka kita mendapati dalam film Red Cliff, yang memang mengisahkan tentang ini, kita mendapati Guan Yu dalam sebuah pertempuran di Xinye, ia mempunyai kesempatan untuk membunuh musuh utamanya, yaitu Cao Cao, tapi urung melakukannya, karena Cao Cao dalam keadaan lengah. Sikap ksatria telah ditunjukkanya. “Guan Yu tidak bisa menusuk orang dari belakang,” puji Cao Cao saat itu.

film 71 Into the Fire

Maka inilah perpaduan yang sangat indah dalam persaudaraan. Liu Bei yang leadership dan jiwa kebijaksanaan serta pengayomannya sangat bagus. Bertemu dengan Zhang Fei dan Guan Yu yang sangat ksatria. Mereka berdua sangat mahir di medan laga, dan sangat menjunjung tinggi nilai kebenaran. Dalam film yang diangkat dari kisah nyata, 71 Into the Fire, yang mengisahkan tujuh puluh satu pelajar Korea Selatan yang harus melawan serbuan pasukan komunis Korea Utara itu, menunjukkan kepemimpinan seorang Oh Jung Beom. Dia seorang pelajar yang harus ikut terjun ke medan perang, dan harus memimpin temen-temannya yang juga pelajar. Ia tak biasa, dan merasa tak bisa. Tapi, “Pimpin dengan hatimu, jika kamu memiliki hati yang murni dan niat yang baik, semua orang akan mengikutimu,” kata Jenderal Dae Wi Nim kepadanya saat ia ingin melepas beban itu. Pemimpin seperti ini, maka orang-orang hebat dengan bakat hebat, akan mengikutinya dengan sendirinya. Kap Jo, berandal sekolahan yang bergabung dalam pasukan itu yang awal-awalnya selalu menolak perintahnya, akhirnya pun tunduk di bawah perintahnya, dan berlaga dengan hebatnya di sisinya hingga hanya mereka berdua yang tersisa dan harus melawan ratusan pasukan komunis. Sangat-sangat heroik dan penuh kebersamaan. Akhirnya, dari ketujuhpuluh satu pasukan tentara itu, tak tersisa satu pun yang masih menghembus nafas.

Mungkin itulah rahasia dari kepemimpinan Liu Bei. Memimpin dengan hati. Kebersamaan. Untuk kemashlahatan. Bahkan ketika seorang komandan melapor kepadanya, “Yang Mulia, para pengungsi ini memperlambat kita. Untuk mengurangi kerugian pasukan, kita sebaiknya meninggalkan mereka!” Liu Bei seketika itu langsung berang, “Apa?” katanya, “Mereka ini semua rakyat Han. Mereka di sini mengikuti kita karena Cao Cao menganiaya mereka. Jika kita tidak bisa menawarkan perlindungan kepada mereka, lalu apa artinya kita berperang?” Maka bisa dimaklumi, ketika dalam menutup penggambaran hangatnya persaudaraan ini, Luo Guan Zhong menuliskannya sebagai: persaudaraan sepanjang jaman demi menciptakan kedamaian di singasana naga.

film Red Cliff

Legenda Sumpah Persaudaraan Taman Persik ini pun masih menjadi acuan bagi mereka yang ingin melakukan ikatan persaudaraan yang bukan berasas nasab dan darah. Jika membaca kompilasi kisah Yushi Mingyan yang disusun oleh Feng Menglong, cendekiawan serta sastrawan tercakap dan terpopuler di masanya, maka ketika membaca kisah tentang Qian Poliu, ia pun diajak untuk melakukan sumpah tersebut oleh Zhong bersaudara, yaitu Zhong Ming dan Zhong Liang.

Suatu waktu, seorang kawan yang jelita karena hafalan qur’annya utuh, keluar dari kamarnya malam-malam. Duduk paling jenak, kemudian menatapi langit dan bebintang yang sedemikian menawan. Ia tersenyum sebentar, kemudian melarikkan bebait ini:

Bintang… Engkau tak pernah berkecil hati dengan keadaanmu

Engkau selalu berusaha bersinar semampumu

Bintang… Kesederhanaanmu itulah yang membuat bulan tak indah tanpa hadirmu

Langit gelap tanpa secercah sinarmu

Yah. Sederhana, menemani, tapi membuat indah berharmoni. Bukan memburukkan, bukan mencelakakan. Nah, dalam dekapan ukhuwah, di batasan terendahnya, kita menjaga saudara-saudara dari gangguan tangan dan lisan. Lalu, di saat mengambil cinta dari langit dan kemudian menebarnya di bumi, kita perlu mengokoh akar iman. Agar tegar menjulang. Mekar berbinar. Tapi jangan sibuk untuk menguatkan akar. Merimbunlah, dan berbuahlah, agar banyak yang berteduh, kemudian memetik buahnya. Dalam dekapan ukhuwah, kita mencontoh makna persahabatan dari permohonan-permohonan Nabi Musa agar dihadirkan Harun di sisinya untuk menghadap Fir’aun yang terlewat durja. Lalu kita tidak tersibuk memikir musibah. Ah, kesulitan hanyalah sisipan dalam buku kehidupan. Pusatkan perhatianmu pada bahasan utamanya, bukan pada sisipannya. Karena keajaiban-Nya menghampiri kita, kadangkala bukan karena ikhtiar-ikhtiar, tapi saat kita menunjukkan kesungguhan untuk berikhtiarlah yang kadang menjadi pemantiknya. Maka bekerja saja, keajaiban akan menyapa dari arah paling tak terduga.

Dalam dekapan ukhuwah, kita sadar-sesadarnya, bahwa menjalin hubungan adalah keterampilan yang dapat dipelajari. Bukan bakat bawaan, yang kita sering berkelit dengannya. Kita sesadar-sadarnya pula, bahwa merasa diri paling baik adalah kegersangan terkering dalam tanah kehidupan, karena di sanalah kita akan mempalu semua pribadi-pribadi yang kita rasa mengecewakan. Padahal, di sanalah masalahnya, saat kita menjadi palu, semua hal akan serasa paku yang perlu kita hantam keras. Atau Dalam dekapan ukhuwah, kita bukanlah sang landak yang menyikutkan duri sana-sini. Sehingga, saat sang saudara mengungkap resahnya, kita hadir bukan untuk berkata, “Ah, cobaan yang menimpaiku, lebih besar darimu.” Bukan. Bukan seperti itu. Tapi kita memberikannya ketenangan. Kita hadir untuk menguatkan. Kita datang untuk melesatkannya. Menjagai ketaatan pada-Nya.

Dalam dekapan ukhuwah, sifat-sifat keteladanan harus terhadirkan, walau di saat-saat tersulit untuk benar-benar melakukannya. Maka dalam dekapan ini, kita memberikan kesetiaan pada yang datang untuk mengkhianat. Merangkulinya dengan kebajikan saat ia sering mengabai kehadiran dan janji-janji. Menghadirkan pengorbanan tertulus, saat ia justru selalu berbakhil. Mensenyuminya dengan kasih sayang, saat permusuhan selalu ia upayakan. Membalasnya dengan pujian saat gunjingan justru ia sebarkan. Maka di sini, kita menebar keadilan. Amarah-amarah yang tak pernah terluapkan. Kebencian yang harus diredam hingga lebam. Saling berrangkulan untuk terciptanya persatuan. Mendekap erat penebar pertengkaran. Saling menyembunyikan kejelekan. Mensyiarkan kebajikan. Menghadirkan kelembutan. Berriang-riang dalam pergaulan, untuk menghangatkan kehidupan, dalam dekapan ukhuwah, hingga kita benar-benar rindu pada menara cahaya…

Dalam dekapan ukhuwah, ijinkan saya untuk merangkul kalian karena Allah. Maukah antum merangkuliku juga?

 

——————————-

Judul: Dalam Dekapan Ukhuwah
Penulis: Salim A. Fillah
Harga: Rp. 60.000,-
Hal: 472 hlm

——————————–

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s