Jalan Pewaris Nabi

Suatu waktu, kita akan mengerti. Semakin dalam mempelajari ilmu agama ini, kita akan tersadarkan, bahwa begitu banyak yang harus kita pelajari lagi. Maka ayat ke delapan puluh lima dari surah Al-Isra’, “Tidaklah kamu diberi ilmu pengetahuan kecuali sedikit,” akan membuat kita menganggukkan kepala. Kita rasai betul kebenarannya.

Janji-Nya, ketika kita menseriusi mempelajari ilmu-ilmu syar‘i, akan diangkatlah dalam derajat yang mulia. Derajat untuk mendekapi kebenaran, dan memahkotai kemuliaan. Karena di sana, terletak rahasia untuk menebar inspirasi ke mana-mana. Karena memang, tabiat ilmu selalu berkembang: ketika diamalkan, dan juga ketika diajarkan. Menjadi tabiatnya pula, dia akan menjadi berkurang manakala dipetieskan. Entah karena pelit, malas, atau bisa juga takut tersaingi. Terserah sesiapa saja yang mencari-cari alasan untuk tak membaginya. Nah, rahasia inspirasi selalu di situ kan. Ada yang menyebar, kemudian kita memungutnya. Kita menyebarnya, ada lelain kita yang kemudian bertindak sama. Itulah mata rantai pahala yang sulit sekali untuk memutusnya.

Ilmu adalah harta, tapi kita tak takut orang lain mencurinya. Ia ringan dibawa, di mana kita berada. Dan saat kita mengerti bahwa mendekapinya adalah kemanisan-kemanisan, maka berusaha memperdalam untuk terus mereguknya akan lebih kita utamakan dari sekedar membiarkan nurani tergiring syahwat. Ilmu pula, yang selalu menjadi pondasi terdasar dari kokohnya peradaban. Benarlah ketika para ulama itu mengatakan, “Kullu ‘izzin lam yu’kad faila dzullin mashiruhu: setiap kemuliaan yang tidak diperkuat dan diberi asas atas dasar ilmu, maka kepada kehinaanlah tempat kembalinya.” Sebuah kalimat peringatan yang menyentil kita habis-habisan.

Cobalah sejenak melihati segala anugerah ini. Seorang hamba, ketika ia berilmu, ia akan dimudahkan oleh Allah dalam upayanya meniti jalan ke surga. Para malaikat pun meletakkan sayapnya untuk menaungi jalannya, karena ridha dengan apa yang tengah ia cari. Bahkan, seorang yang pemilik ilmu, akan dimintakan ampunan untuknya oleh penghuni langit dan juga bumi, hingga ikan di air pun turut memohonkan ampun untuknya. Dan alangkah nikmatnya, orang-orang yang berilmu itu, meskipun telah terkubur jasadnya, ia tetap terkucuri pahala dari mereka yang mereguki ilmu darinya dan memanfaatkannya. Aih… alangkah indahnya di hari hitung nanti, kita terkaget-kaget, manakala kita tak merasa mempunyai catatan amal sebanyak itu, tiba-tiba terserahi sebegitu banyak catatan kebajikan yang terhadirkan.

Belajar di waktu muda ibarat mengukir di atas batu. Tapi itulah hebatnya. Sulit memang, tapi lekatannya justru akan sulit terhapuskan. Maka nikmatilah betul-betul masa mudamu dengan mereguki ilmu sebanyak-banyaknya, sedalam-dalamnya. Karena para nabi, memang tak mewariskan dinar atau dirham. Akan tetapi, hanyalah ilmu yang mereka wariskan. Dan sesiapa yang bersemangat mengambilnya, ia telah mendapatkan bagian yang amat banyak nan besar. Dan inilah jalan pewaris nabi. Jalan untuk terus mereguki ilmu. Berhaus-hauslah di sini. Berdahaga-dahagalah selalu. Karena tak ada istilah kembung dalam masalah ilmu.

Ilmu akan memputik, berkembang, kemudian tumbuh mempohon tinggi nan rindang serta berakar kuat, manakala diusung oleh mereka yang memiliki kemauan dan semangat dada yang membara-bara, serta berbasuhkan kesabaran dalam merengkuhinya. Lebih utama lagi, manakala kekuatan tubuh sedang dalam masa-masa emasnya. Dan kesemua syarat itu, terwujudi dalam satu tubuh: pemuda. Di sanalah berkumpulnya kekuatan jasmani, lancarnya konsentrasi dan daya pikir, sedikitnya kesibukan hingga bebas untuk melanglangbuana, serta tak adanya tanggungjawab hidup dan kepemimpinan sebagai seorang ayah, ataupun ibu.

Seseorang, hanya akan mampu mengoptimalkan segenap yang ada pada dirinya ketika masih muda saja. Sederhananya begini. Bisa saja, seseorang belajar pada masa tuanya. Namun, pada beberapa momen tertentu, ia pasti akan tersandung dalam kesulitan-kesulitan yang kita yakin bahwa pada masa mudanya, ia pasti bisa melakukannya lebih baik dan maksimal. Contohnya dalam menghafal Al-Qur’an. Seseorang yang usianya sudah lanjut, bisa saja ia menghafal satu halaman perharinya. Namun, dapat kita pastikan ia juga akan lupa dalam waktu yang cepat pula. Atau, tentang seseorang yang sudah lanjut usia, dan ingin sekali belajar membaca Al-Qur’an secara benar. Makhrajnya pas, tajwidnya sesuai, dan alunan suaranya merindukan. Akan tetapi, ia akan kesulitan memperbaikinya, karena lisan yang sudah tak berfungsi normal lagi. Nah, tentu masa-masa optimal telah terlewatkan bukan. Sebelum terlambat, mari memaksimalkan.

Sungguh anugerah yang perlu disyukuri. Jaman ini, telah memudahi langkah kita untuk mereguki ilmu dari berbagai sarana. Akan tetapi, perlu diingat. Karena itu berarti kita tak lagi menemui alasan untuk tak meregukinya. “Mencari ilmu adalah kewajiban,” kata Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, “ia merupakan penawar bagi hati yang sakit. Terpenting lagi, bagi setiap hamba adalah harus mengenal agamanya. Sebab mengenal agama dan mengamalkannya adalah penyebab masuknya seseorang ke dalam surga. Sebaliknya, kebodohan mengenai agama dan menyia-nyiakannya menjadi penyebab masuknya seseorang ke dalam neraka,” pungkasnya mewanti-wanti kita.

Sifat dari ilmu syar‘i yang utama itu, otomatis tidak bisa kita jadikan sampingan dalam mereguknya. Oleh itulah, peregukannya harus menjadi prioritas, dan harus menyita sebagian besar waktu kita. Setelah dapat, teruslah untuk menjagainya. Menjagai ilmu, berarti melesatarikannya untuk terus bermanfaat. Ali bin Abi Thalib, dengan sangat apik menerangkan tentang ini, “Ilmu menyeru pemiliknya untuk mengamalkannya. Jika ia mengamalkannya, maka ia menjawab seruan itu. Jika tidak, maka ilmu tersebut telah pergi menjauh darinya.”

Coba sejenak untuk menekuri kondisi jaman ini. Kita mendapati, banyak mata jiwa yang tertutup oleh lena dunia. Mempelajari ilmu syar‘i hanya menjadi buruan dari sedikit sekali kalangan generasi muda. Bahkan tak jarang, kata-kata miring, memojokkan, dan memberikan label yang aneh-aneh menghampiri mereka. Tabiat generasi muda yang inginnya selalu ikut-ikutan saja, memaksa generasi kita untuk tidak berkeyakinan teguh dengan ajaran agamanya sendiri. Persis, sebagaimana, “Manusia itu,” kata Ibnu Taimiyah, “seperti sekelompok merpati: saling mengikuti, satu sama lain.”

Hanya dengan mempelajari ilmu syar‘i sajalah, arus jaman yang sedemikian deras, mampu menjagai diri agar tetap lurus menatap ke langit. Padahal, “Ilmu itu,” kata Ibnul Qayyim, “lebih dibutuhkan daripada makan, minum, dan udara.” Memanglah begitu. Kebutuhan kita akan ilmu, jelas-jelas menempati prioritas, dan terang-terang membuat hidup kita menjadi lempang. Karena dengan ilmu, kita menjadi sedemikian berbeda. Bukan hanya dari segi kearifan dalam hidup, tapi juga dalam status makhluk. Dalam versi pepatah arab, “Kalau bukan karena ilmu, maka manusia seperti binatang ternak.” Tersimpulkan apa? Begini. Sesiapa yang tak melandasi segala gerak dan ucapnya dengan ilmu, maka ia sebagaimana yang telah tersinggung oleh pepatah di atas. Sederhana sekali bukan…

Dalam surah Al-Baqarah 79, lafazh rabbaniyyin berarti ulama muallimin fuqaha dalam urusan din. Mereka itu, yang mempelajari ilmu-ilmu dari dasar atau pokok ilmu sampai ilmu yang besar atau penjabaran darinya. Di sinilah kita kemudian mengerti, wajib bagi sesiapapun mukmin, untuk mempelajari ilmu syari’at, yang di sana tak mungkin lah kita bisa menunaikan kewajiban, atau mengetahui yang syubhat dan haram, kecuali setelah kita mempelajarinya. Nah, ilmu semacam inilah, yang kemudian dibebankan kepada kita, dengan sabda shahih ini, “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah)

Terkisahkan secara apik, tentang seorang ahli ibadah yang tentu saja tekun beribadah. Suatu hari, ia membunuh seekor tikus tanpa sengaja. Ia pun menyesal. Sangat menyesal. Sebagai penebus kesalahannya, ia kemudian menggantungkan tikus tersebut di lehernya sewaktu beribadah. Dengan harapan, dengan cara seperti itulah dosa-dosanya terampuni atas ketidaksengajaannya membunuh tikus tersebut. Hal itu terus ia lakukan hingga kewafatan menjemputnya. Ketika dihadapkan Allah, ternyata semua amalannya tertolak disebabkan najis yang selalu ia bawa ketika beribadah, disebabkan tikus yang ia gantungkan di leher tadi.

Begitulah amal tanpa ilmu. Caranya mengelabui, senantiasa menjeruji segala pahala yang seharusnya kita terima. Di sinilah, kita harus mengazzam diri, untuk terus meniti jalan pewaris nabi. Agar tak seperti ahli ibadah yang merasa menebus dosa, tapi justru melumbungkan dosa pada catatannya…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s