Ksatria Kejujuran

Kau bicara kehormatan padaku

Sejuah mana kau hormati diriku

Kau bicara kejujuran padaku

Sejauh apa kau jujur padaku

Kau bicara cinta padaku

Sebanyak apa kau wujudkan cinta itu

Pada tindakan nyata untukku

Yang kutahu, dirimu hanyalah munafik

Yang pandai bicara saja

-Deezna Valeria-

Peran-peran kecil yang berserakan, untuk sebuah kejelasan. Umair melakukannya dengan sangat baik. Maka ia, ksatria. Ah, janganlah dulu membayangkan pedang yang berkelabatan, debu jingkatan kuda yang beterbangan, dan dentingan perisai yang meresonasi. Bukan ksatria yang seperti itu. Ini, tentang anak yang belumlah berumur seberapa, yang tengah menunjukkan kebenaran. Hei, jika lawanmu adalah orang yang tak kau kenal, tentu keberanianmu justru meluap tinggi. Tapi jika ia yang seatap, ia yang berperan dalam kehidupanmu sehari-hari, tentu rikuh dan pakewuh justru menyelimuti keberanian yang dengan payah kau usung. Langit memujinya. Rasulullah mengusap dan membenarkannya. Untuk sebuah kemunafikan yang biasa hadir di antara rerentetan tampilan fisik yang sama. Tapi kemunafikan, selalu menunjukkan belangnya, bukan lewat penampilan, tapi laku dan tutur kata.

Suatu waktu, Rasulullah duduk bersama para sahabat beliau di masjid untuk mengajar, mendidik, dan membersihkan hati mereka. Di antara sekian hadirin, terdapat seorang pemuda belia berusia sekitar tiga belas tahun, namanya Umair bin Sa’ad. Hatinya telah sarat dengan hikmah dan iman.

Ia pergi meninggalkan majelis, dan menemui ayah tirinya, yang telah biasa ia samakan sebagai pamannya, yakni suami dari ibunya yang telah berumur enam puluh tahun. Nama ayahnya tersebut adalah Al-Jallas bin Suwaid.

Umair bin Sa’ad berkata, “Paman! Aku mendengar Rasulullah menceritakan kepada kami tentang hari kiamat, seolah-olah aku melihatnya dengan kepalaku sendiri!” Tertakjub benar Umair dengan halaqah indah Sang Nabi barusan.

“Umair,” tanggapan Al-Jallas, “Demi Allah, kalau Muhammad itu benar, maka kami memang lebih buruk dari keledai!”

Kontan, rona muka Umair bin Sa’ad berubah. Tubuhnya bergetar mendengar kalimat itu. Ia marah. Gemuruh jiwanya meletup dipenuhi larva tak terima atas kekata ayah tirinya.

“Paman, demi Allah,” ia sebegitu marahnya, “Sesungguhnya engkau sebelumnya adalah orang yang paling aku cintai dari semua orang. Dan demi Allah, mulai hari ini, engkau menjadi orang yang paling aku benci melebihi siapa pun. Paman, aku berada di antara dua pilihan saja, mengkhianati Allah dan Rasul-Nya, dengan tidak menceritakan hal ini kepada beliau, atau memutus hubunganku dneganmu, dan yang sudah biarlah berlalu, dan aku tetap akan memberitahukan ucapanmu itu kepada Rasulullah.”

Al-Jallas bin Suwaid justru mengejek, “Engkau hanya anak kecil ingusan yang tidak akan dipercaya oleh siapa pun, silakan bicara sesukamu.”

Umair pun kembali ke majelis Nabi, dan duduk di hadapannya, seraya berkata, “Ya Rasulallah, Al-Jallas bin Suwaid telah mengkhianati Allah dan Rasulnya, sementara ia adalah pamanku. Aku telah berlepas diri darinya kepada Allah, kemudian kepadamu. Sehingga, aku sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi dengannya.”

Rasulullah kemudian bertanya, “Apa yang dia katakan?” Umair kemudian memberitahukan rerentet kisah yang barusan terjadi kepada beliau. Rasulullah segera mengumpulkan para sahabat dan meminta saran mereka berkaitan dengan ucapan tersebut. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah. Ia hanya anak kecil, jangan dipercaya. Ia belum lagi nalar. Ia hanya asal menukil ucapan saja untuk menyudutkan pamannya itu. Al-Jallas bin Suwaid biasa shalat bersama kami. Ia sudah tua renta, dan terbilang cerdas.”

Rasulullah terdiam. Dan tidak berani mempercayai ucapan anak remaja itu. Mengalirlah air mata Umair, hingga tubuhnya bergetar, dan ia menoleh ke langit seraya berdoa, “Ya Allah, kalau aku jujur, benarkanlah ucapanku itu. Dan bila aku berdusta, dustakanlah ucapanku itu.”

Belumlah Umair beranjak dari majelis itu, turunlah Jibril dari atas tujuh lapis langit membawa wahyu:

“Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam.” (At-Taubah [9]: 74)

Akhirnya, Rasulullah memanggil Al-Jallas dan menanyakannya tentang ucapan tersebut. Al-Jallas bersumpah atas nama Allah bahwa ia tidak pernah mengucapkannya. Beliau bersabda, “Tapi Allah telah berfirman, “Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam.” (At-Taubah [9]: 74)”

Engkau wahai Jallas, telah kafir terhadap Allah. Segeralah bertaubat, karena Allah menegaskan, “Maka jika mereka bertaubat, itu adalah lebih baik bagi mereka.” (At-Taubah [9]: 64)

Lalu Rasulullah memanggil Umair bin Sa’ad, mengusap tangannya seraya bersabda, “Allah telah membenarkan ucapanmu.”

Pernahkah kau menyaksikan kawan, saat Allah dan Rasul-Nya, membela langsung kepada seorang remaja. Tentu indah sekali saat itu. Saat akhirnya kebenaran terkuakkan, dan yang munafik terjerembabkan. Tentulah indah saat itu. Saat si kecil, yang tak digubris kehadirannya, adalah ksatria, yang langsung mendapatkan jawaban dari langit, atas panjatan doanya.

Tentulah indah saat ini. Manakala Umair-Umair baru, bertebaran di negeri ini. Menjadi ksatria. Cukup satu label saja: ksatria kejujuran. Di saat negeri yang seperti ini, terpontang-panting dengan kehadiran orang-orang yang mengaku besar, dan terhiasi dengan aksi-aksi memuakkan, yang dihari-hari, seolah kita ingin berlari saja dari televisi, dan jelas-jelas mereka kalah dengan ksatria-nya anak yang berumur tiga belas tahunan saja…

“Orang yang berkata jujur akan mendapatkan 3 hal, yaitu: kepercayaan, cinta, dan kehormatan.” (HR. Muslim)

Iklan

4 comments

  1. Jujur. Harganya memang mahal. Tapi hadiahnya: “Orang yang berkata jujur akan mendapatkan 3 hal, yaitu: kepercayaan, cinta, dan kehormatan.” (HR. Muslim)
    Langkah pertama dan yang paling sulit: jujur pada diri sendiri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s