Buaian Nama

Tak tanggung-tanggung. James Cameron totalitas mengejar mimpinya. Berhenti dari seorang supir truk, kemudian langsung nyebur ke industri perfilman. Habis-habisan belajar, agar suatu saat, dia bisa membuat film bergenre futuristik macam Star Wars seperti yang barusan ia tonton sebelum ia memutuskan untuk berhenti dari seorang supir truk, di tahun 1877, saat usinya 22 tahun.

Seharusnya, setelah film Titanic garapannya yang spektakuler itu meledak di pasaran tahun 1997 itu, film Avatar yang baru-baru ini kita saksikan yang naskahnya sudah dipersiapkan sejak tahun 1994, dan tahun 1999 seharusnya sudah dilaunch ke publik itu, akan tetapi, karena teknologi yang belum mendukung ide kreatif-gilanya tentang kehidupan 2154 itu belum memadai, film pun ditunda, dan dipersiapkan makin matang. Dan hasilnya, tara! Avatar pun mengalahkan legenda film terlaris sepanjang masanya Titanic. Dan tara!-nya lagi, kedua-duanya sama-sama dibuat oleh James Cameron.

Tara!

Seringkali, nama besar begitu menggugupkan. Ketika ia hadir, diri terburu-buru berbanyak hal. Padahal, seringkali tidak matang nan maksimal. Semua perlu tatanan, penjagaan, dan tentu saja, cita rasa pengkhasan diri. Agar seliweran-seliweran kemudian tidak mengotori dan membuatnya makin keruh. Seperti pernah dikata orang-orang, “Merangkaki puncak, jauh lebih mudah daripada menahani badainya.”

****

Dalam Shifatush Shafwah, Qasim bin Muhammad mengisahkan demikian. Kami sering bepergian dengan Ibnul Mubarak. Dalam hatiku sering terbersit pikiran, apa sebenarnya keutamaan orang ini di atas kami sehingga orang sangat mengenalnya sedemikian ini. Jika dia shalat, kami pun shalat. Jika dia berpuasa, kami juga berpuasa. Jika dia berperang, kami pun berperang pula. Jika dia berhaji, kami pun juga berhaji. Hingga pertanyaanku tersebut terjawab pada suatu waktu.

Dalam sebuah perjalanan ke Syam, di malam hari, kami menikmati makan malam bersama. Tiba-tiba lampu padam. Salah seorang dari kami mengambil lampu itu dan keluar untuk menyalakannya lagi. Tak seberapa lama, dia kembali dengan lampu yang telah menyala. Terlihat olehku wajah Ibnul Mubarak, dan jenggotnya telah basah oleh air mata.

Saat itulah kukatakan pada diriku sendiri, “Oh, kiranya dengan khasyyah (rasa takut) inilah orang ini menjadi lebih utama daripada kami.”

Mungkin ketika lampu tadi padam, dia teringat dengan kegelapan yang terjadi di hari kiamat, begitu pikirku.

Di sebuah riwayat yang lain, masih tentang Ibnul Mubarak, Abdat Al-Mawarzi mengisahulangkan demikian. Kami bersama Abdullah bin Mubarak dalam sebuah ekspedisi perang ke negeri Romawi. Kami bertemu dengan musuh, dan ketika dua pasukan sudah saling berhadapan, salah seorang dari musuh keluar dan menantang perang tanding satu lawan satu.

Seseorang dari barisan kaum muslimin maju dan berperang tanding. Orang Romawi itu berhasil membunuhnya. Kemudian seseorang maju lagi dan sekali lagi orang Romawi itu berhasil membunuhnya.

Selama beberapa saat tidak ada prajurit Islam yang berani maju. Dan orang Romawi itu masih berjalan ke sana ke mari dengan jumawanya, masih menantang perang tanding kepada kami.

Tiba-tiba seseorang dari kaum muslimin maju. Setelah beberapa saat beradu senjata, orang Romawi itu terdesak, dan sang prajurit tersebut berhasil menikamnya hingga roboh dan tewas.

Orang-orang pun kemudian mengerumuni laki-laki yang berhasil mengalahkan orang Romawi itu. Dan aku, adalah yang termasuk mengerumuninya.

Orang itu menutupi wajahnya dengan sehelai kain sehingga tidak ada yang mengenalnya. Karena penasaran, saya pun kemudian memgang ujung kain penutup wajahnya dan saya tarik. Terbukalah wajah orang itu, dan ternyata dia adalah Abdullah bin Mubarak.

Seketika itu, Abdullah bin Mubarak berkata kepadaku, “Wahai Abu Amru, kenapa engkau membuka kedokku?”

****

Di sebagian kita, ada yang hingga merantas kaki untuk naik ke permukaan. Membawa bendera perlambang kejumawaan. Tapi itu tak semua. Tenang saja. Dan semoga kita, bukan bagian dari sebagian itu, dan bukan bagian dari yang setengah dari tak semua itu. Bagi kita, nama tidaklah membuai. Ia justru perlambang yang mengukuhkan. Bukan kemudian menghilangkan legenda petuah berribu-ribu hari lalu, “Apalah arti sebuah nama.” Karena bagaimanapun, nama ada doa. Dan sebegitu dahsyatnya doa, maka saat nama diri melambung tinggi, dia tidak membuai, serta tak menghalangi doa, yang terpanjat dari bumi ke langit. Tapi justru mempertegas kehakikatannya, di makna lain, yang berasal dari serumpun yang sama: dua’ dan da’wah; permohonan, dan pengajakan untuk kebaikan. Intinya tetap sama: kebaikan. Jika yang pertama adalah penyapaan, pengaduan, permohonan, dan pengakuan akan segala kelemahan diri, maka yang kedua adalah wilayah reaksi atas segala energi yang dipintai itu, husnayain: dua kebaikan yang sama-sama baik yang sama-sama asik dipilihi. Maka pada mereka yang tak terbuai oleh nama, justru mati-matian menutupi jati dirinya agar lebih banyak lagi dapat beramal di wilayah sirri. Bukan untuk lari, tapi membebaskan diri dari godaan-godaan hati yang kadang membebani.

Dalam Siyaru A’lamin Nubala’, Muhammad bin Isa mengisahindahkan demikian. Ibnul Mubarak sering pulang-pergi ke Tharsus. Biasanya dia singgah di Riqqah di daerah Khan. ada Seorang pemuda yang selalu mengunjunginya dan dipenuhinya semua kebutuhannya. Ia juga mendengar hadits dari Ibnul Mubarak. Suatu hari Ibnul Mubarak singgah di Riqqah, namun tidak mendapati pemuda itu lagi. Ia bergegas-gegas keluar bersama pasukan perang. Ketika pulang, ia menanyakan ihwal pemuda itu.

“Pemuda itu dipenjara karena terlilit hutang. Hutangnya mencapai 10.000 dirham,” jawab orang-orang.

Ibnul Mubarak minta ditunjukkan orang yang menghutangi pemuda itu. Dibayarnya sejumlah hutang pemuda itu dengan sebuah janji, dia tidak mengabarkan apa yang dilakukannya itu selama dia hidup. Pemuda itu pun dibebaskan.

Ibnul Mubarak melanjutkan perjalanan. Si pemuda itu menyusulnya dan berhasil menemuinya di tempat yang berjarak dua marhalah dari kota Riqqah.

“Hai pemuda, engkau ke mana saja, kok sekarang baru keliahatan,” kata Ibnul Mubarak.

Pemuda itu menajwab, “Wahai Abi Abdirrahman, saya ditahan karena hutang.”

“Lantas bagaimana kamu bebas?” tanya Ibnul Mubarak.

Pemuda itu menjawab, “Seseorang membayarkan hutang-hutangku. Dan aku tidak tahu siapakan gerangan dirinya.”

“Hamdallah!, pujilah Allah,” kata ibnul Mubarak.

Dan pemuda itu, tidak tahu siapa yang membebaskan dirinya dari lilitan hutang sampai Abdullah bin Mubarak meninggal dunia, pungkas cerita dari Muhammad bin Isa.

Iklan

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s