Sentuhan Harga Diri

Perfection is everywhere
If only we choose to recognise it

– Okakura, The Art of Tea –

Sebagaimana riwayat Bukhari dari Ibnu Abbas, Abu Sufyan pernah bercerita perihal dirinya sendiri. Begini dia berkisah.

Heraclius menyuruh seseorang untuk menemuiku, ketika aku bersama rombongan kafilah dagang orang-orang Quraisy di Syam. Saat itu sedang diadakan gencatan senjata antara Rasulullah dengan orang-orang kafir Quraisy. Maka rombongan kafilah pun memenuhi undangan Heraclius. Saat itu, Heraclius berada di Illiya. Heraclius mempersilakan rombongan kafilah untuk menemuinya. Saat itu para pembesar Romawi berada di sekeliling Heraclius.

Heraclius kemudian memanggil seorang penerjemah, dan dengan perantara penerjemah itu, Heraclius bertanya, “Siapa di antara kalian yang nasabnya paling dekat dengan orang yang mengaku sebagai Nabi itu?”

“Saya yang paling dekat,” jawabku.

“Dekatkan orang itu kepadaku,” pinta Heraclius. “Dan dekatkan juga sahabat-sahabatnya. Suruh mereka berdiri di belakangnya,” pintanya lagi.

Kemudian Heraclius berkata kepada penerjemahnya, “Katakan kepada mereka bahwa aku akan menanyai orang ini. Jika dia mendustaiku katakanlah dia telah berdusta.”

“Demi Allah, waktu itu, jikalah bukan karena malu kalau mereka nantinya memperbincangkan kedustaanku, pastilah kudustai saja Heraclius.”

Dalam Fahtul Bari, Ibnu Hajar menerangkan demikian, “Dalam hadits dipergunakan ungkapan ‘kalau mereka mendustakanku’ bukannya dengan ‘Kalau mereka mendustakanku’, hal ini, menunjukkan bahwa Abu Sufyan telah yakin, orang-orang takkan mendustakannya sekiranya dirinya berdusta. Sebab mereka sama-sama memusuhi Nabi. Abu Sufyan pun tak hendak berdusta karena dia malu, jika orang-orang memperbincangkannya sebagai pendusta sepulangnya mereka dari hadapan Heraclius. Sehingga, bagi orang yang mendengar ucapannya, ia akan dicap sebagai pendusta sepulangnya mereka dari hadapan Heraclius. Sehingga, bagi orang yang mendengar ucapannya, ia akan dicap sebagia pendusta.”

Lebih jelasnya, mari menikmati tuturan dari Ibnu Ishaq mengenai kelengkapan riwayat ini, “Demi Allah, kalaupun aku berdusta, mereka tidak akan membantahku,” kata Abu Sufyan, “Tetapi, aku adalah seorang tokoh terpandang yang pantang berdusta. Aku tahu, seringan-ringan resiko jika aku berdusta, mereka akan terus mengingatnya dan membicarakan kedustaanku di kemudian hari. Karenanya, aku tidak berdusta kepada Heraclius.”

Inilah kefithrahan sebagaimana telah saya singgung di Sergapan Kehormatan. Dan orang-orang yang berstatus sosial lebih tinggi, mengerti benar tentang arti ini. Karena menyangkut harga diri, serta kehormatan. Dan orang Arab, mempunyai sejarah penjagaan kehormatan ini dengan sangat apik. Maka lari dari medan pertempuran, dan tunggang langgang ketakutan ketika berhadapan dengan lawan, adalah aib bagi para pria yang menjaga martabat klan, ataupun laqab dan nasabnya.

Yang lucu, tentu kisah seorang dari Bani Jusyam. Mulanya, Rasulullah mengutus Abu Musa Al-Asy‘ari bersama Abu Amir memimpin pasukan ke Authas. Seseorang dari Bani Jusyam melesatkan anak panahnya, dan mengenai lutut Abu Amir. Abu Musa kemudian mengejar pemanah tersebut, dan berhasil berada di jarak dekat dengannya. Akan tetapi, saat pemanah tersebut melihat Abu Musa, ia justru terbirit-birit dan melangkahkan kaki seribu. Abu Musa tak tinggal diam, ia kemudian mengejarnya, dan meneriakinya, “Hei! Apakah kamu tidak punya malu? Bukankah kamu orang Arab. Kenapa kamu tidak bertahan dan melawanku saja?”

Merasa terhina harga dirinya, pemanah tersebut pun berhenti dari larinya, dan berbalik menghadapi Abu Musa. Dan kemudian, Abu Musa dan dan dia berhadap-hadapan, mubarazah. Perang tanding. Dan kemenangan kemudian berada dipihak Abu Musa setelah melalui dua sabetan pedang.

****

“Malu adalah tangga pertama bagi orang-orang yang mempunyai ketinggian ruhani,” kata Abul Fida’ Isma’il Al-Harawi, “Dia lahir dari pengagungan yang disertai dengan rasa cinta,” lanjutnya. “Maksudnya adalah,” jelas Ibnul Qayyim dengan perkataan Al-Harawi tersebut, “Malu adalah keadaan yang dihasilkan oleh persenyawaan antara pengagungan dan cinta. Jika keduanya telah bersatu, maka akan lahirlah malu.”

Analoginya tentu sederhana. Jikalah kita merasa hina manakala berbuat buruk kepada orang yang telah berbuat baik kepada kita, dan merasa malu untuk membalas kebaikan yang diberikannya dengan keburukan, lantas, mengapa kita tidak malu kepada Rabb yang telah memberi segala-gala.
Dari lisan Yusuf bin Al-Husain, terucap ulang perkataan Dzun Nun, “Allah mempunyai hamba-hamba yang meninggalkan dosa lantaran malu kepada kemurahan-Nya setelah mereka meninggalkan dosa disebabkan takut kepada hukuman-Nya. Sekiranya Dia berfirman kepadamu, ‘Kerjakan apa saja sesukamu. Aku tidak akan menghukummu karena dosamu.’ Mestinya, kemurahan-Nya tersebut jsutru membuatmu semakin malu. Dan pasti, engkau akan meninggalkan maksiat kepadanya, jika engkau adalah seorang yang merdeka nan mulia dan seorang hamba yang mengerti akan etika berterima kasih.”

Mari belajar untuk meninggikan kemulian, kemartabatan, dan kehormatan. Sebagai hamba, sebagai manusia. Latihan paling dasarnya, adalah menjagai malu, agar senantiasa bersemi di tingkah laku. Mudahkah melakukannya. Tentu saja tidak. Makanya, mari belajar. Karena tertutur dalam Madarijus Salikin, bahwa Yahya bin Mu‘adz mewejangi, “Barangsiapa malu kepada Allah saat dia taat, niscaya Allah akan malu kepadanya saat dia berbuat dosa.”

Mereka yang tersentuh rasa malu dalam hidupnya, adalah mereka yang menjagai harga diri. Tersentuh olehnya, berarti celupan madu segenggam di air hangat kehidupan. Dan silakan untuk menyeruputnya di setiap nafas kehidupan. Begitulah, kita sentiasa melenakan hal-hal sederhana, yang justru dalam meninggikan derajat kita sebagai hamba-Nya.

Sebagaimana dikata Okakura dalam The Art of Tea-nya, bahwa kekuatan dari penyajian dan kebiasaan minum teh, serta budaya yang mengikutinya, adalah dari kesederhanaannya, bukan dari kompleksitas rerupa yang kelihatan mewah. Inilah bagaimana alurnya: menjagai akhlakul karimah, hingga maut menjemput, dan tanpa sadar, kita terbiasai dengan akhlak indah itu. Atau lebih mudahnya, kita menggunakan bahasa yang masyhur dan biasa kita kenal: khusnul khatimah. Semoga kita tidak malu dengan perkataan Okakura yang bahkan tidak mengerti tentang aturan akhlak islami itu yah, “He only who has lived with the beautiful can die beautifully.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s