Sergapan Kehormatan

Jangan malu makan dan berpakaian sederhana
Jangan pula memimpikan hidup yang nyaman
Selalulah menyibukkan diri walau tak punya pekerjaan
Selalulah bersikap pantas nan waspada di tiap situasi
Dan janganlah pernah membelanjakan lebih dari pendapatan
Istirahat itu setelah mati

– Yamaga Soko, dalam buku panduan untuk para Samurai –

Seribu tiga ratus tiga puluh tiga masehi. Murakami Yoshiteru dan Sang Pangeran, yakni Morinaga, terkepung. Tak ada jalan lain untuk keluar. Celah-celah yang menjadikan kemungkinan untuk melenggang keluar tertutup rapat penuh sekat. Barisan pasukan berada di mana-mana. Kedua orang yang terkepung di dalam sebuah rumah itu, bersiasat mencari jalan untuk meloloskan diri dari kepungan.

“Tak ada jalan lain, ini harus kulakukan,” batin Murakami. Sejenak kemudian, ia memandangi Sang Pangeran, kemudian mengangguk penuh kemantapan. Di situasi itu, anggukan khas Jepang itu menjadi tiga makna: penghormatan, menjalankan rencana meloloskan diri dari kepungan, sekaligus perpisahan.

Murakami menyambar obor yang berada di pojok ruangan. Sang samurai ini kemudian melompati kekayuan penyangga rumah. Ia menuju atap. Sesampai di sana, ia memandangi pasukan yang mengepung di luar. Tatapan matanya tajam sekali. Obor yang ia bawa tadi, kemudian ia gunakan untuk membakar pojok-pojok atap.

“Aku lah Morinaga! Saksikanlah bagaimana seharusnya ksatria sejati mati!” serunya dari atas.
Sejurus kemudian, Murakami yang mengaku menjadi Morinaga, Sang Pangeran yang bersamanya tadi itu, mencabut pedang panjang khas para samurai yang terselip di samping kiri badannya. Pangkal pedang ia pegang dengan kedua tangannya, dan diarahkan tepat di bawah ulu hatinya.

Srat!

Wajahnya pucat pasi. Ia merasai sakit tak terperi. Sepertiga dari ujung pedang berada di dalam tubuhnya. Api mulai merambat ke ujung atap, tepat di tempat ia berdiri menantang pasukan musuh itu. Ia mulai kehabisan oksigen. Darahnya mulai habis. Suasana menjadi semakin semrawut. Ia mulai limbung. Tapi Murakami mati-matian menjaga diri agar kelihatan tegar.

Murakami merobek perutnya, kemudian menyayat sebagian usus perutnya, lalu dilemparkannya ke arah pasukan yang mengepung. Tentu saja, musuh terbengong-bengong sekaligus kaget luar biasa. Sekian detik kemudian, setelah para musuh melihat aksi dramatik Murakami, mereka melihatnya tertarik gravitasi dari atas atap menuju dasar rumah. Dengan kobaran api yang menyala-nyala sejak tadi.

Itulah rencananya. Murakami mengaku sebagai Morinaga, kemudian naik ke atap, melakukan aksi seppuku. Dengan begitu, musuh akan terfokus untuk memerhatikannya saja, dan Sang Pangeran mendapatkan celah sedikit untuk lari dari kepungan. Murakami adalah seorang samurai, dan keselamatan daimyo-nya, adalah nomor satu dan tak bisa ditawar-tawar. Maka ia melakukan aksi itu. Karena bagi para samurai, adalah sebuah aib untuk kalah dalam pertempuran. Walau terlihat kejam, itulah jiwa ksatria yang ditanam kepada para samurai melalui seppuku: kehormatan, harga diri, disiplin, dan rasa malu.

Bagi para samurai, lebih baik mati daripada hidup terhina, karena memang itulah filosofi mereka, yaitu bushido: jalan para ksatria. Dengan tujuh kode etik yang selalu membayangi di setiap ayunan langkah. Gi, mati untuk kebenaran; yu, berani dan ksatria; jin, murah hati dan mencintai sesama; re, santun dan bertindak benar; makoto, tulus tanpa pamrih; meiyo, menjaga kehormatan, martabat dan kemulian; serta chugo, mengabdi dengan loyal.

Legenda rasa malu dan penjagaan kehormatan itu, terus menjiwai hingga sekian masa setelahnya. Ketika skandal Recruits Cosmos meruak, sekretaris pribadi Perdana Menteri Takeshita, juga ber-seppuku. Toyota yang menarik empat juta produk mobil mereka di sekarang ini karena kesalahan produksi, juga terjiwai semangat penjagaan kehormatan ini. Walau kritik membadai mereka di sana-sini dengan ulahnya tersebut.

Tetapi, inilah malu. Keajaiban yang hadir ketika menjagainya betul-betul adalah, terwujudnya kehormatan, martabat, dan kemuliaan. Maka tak heran, salah seorang sastrawan bangsa Arab, pernah mengujar demikian, “Hidupnya wajah adalah dengan malu. Sebagaimana tumbuhan, yang hidup dengan air.”

*****

“Malu,” kata Al-Jahiz, “Adalah instrumen kewibawaan. Malu adalah menundukkan pandangan dan menahan omongan lantara karena bersikap santun kepada seseorang. Malu adalah kebiasaan yang terpuji, selama bukan karena kebodohan dan bukan pula karena kelemahan.”

“Malu,” versi Dzun Nun Al-Mishri, “Adalah adanya rasa takut yang disertai dengan rasa hormat di dalam hati atas apa yang telah engkau lakukan pada Rabbmu. Cinta membuat seseorang berbicara, namun malu membuatnya diam. Sedangkan rasa takut, membuatnya gelisah.”

“Malu adalah pakaian taqwa yang terringan,” kata Ma‘bad Al-Juhani, “Tidaklah seorang hamba itu takut sampai ia malu. Dan tidaklah orang-orang yang bertaqwa itu masuk ke dalam kategori taqwa melainkan dari pintu malu.”

Tetapi malu, berbeda dengan tak tahu malu. Itu tentu. Lisan arab biasa menyebut tak tahu malu dengan waqahah. Sedangkan tersipu malu, bisa dilisankan dengan khajal. Jika malu meninggikan derajat akhlaq, tak tahu malu justru sebaliknya. Ia menenggelamkan jiwa dalam kadar terburuk. “Tidaklah Allah menghukum hati dengan sesuatu yang lebih berat daripada dicabutnya rasa malu darinya,” tutur Malik bin Dinar.

Maka rahasia itu terletak di peti ini: malu. “Kutinggalkan perbuatan dosa selama 40 tahun karena rasa malu, setelah itu, wara’ pun menyelimutiku,” kata Abu Uqbah Al-Jarrah bin Abdillah Al-Hakami. Karena malu, adalah awalan untuk permulaan kemuliaan. “Awal dari muraqabah yang baik,” tutur Abu Hamid Al-Ghazali, “Adalah tampaknya rasa malu. Jika seseorang malu dan meninggalkan sebagian peruatan (yang buruk), maka itu tidak lain karena kilatan cahaya akal pada dirinya sehingga dia mampu melihat sebagian perubatan yang buruk dan bertentangan dengan yang baik. Maka jadilah ia malu melakukan hal-hal yang buruk, tidak dengan yang baik. Malu untuk melakukan sesuatu yang buruk itu adalah hadiah dari Allah, dan pertanda yang baik akan lurusnya akhlak dan jernihnya hati.”

Setiap kita, terfitrahi dengan malu. Adalah Adam dan Hawa, sama-sama merah pipinya, ketika auratnya tersingkap setelah melanggar larangan di surga. Dedaunan di dekat mereka, menjadi sambitan pertama yang terraih, untuk menutupinya.

“…Lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang berada) di surga…”
(Thaha [20]: 121)

Dari hadits yang terriwayatkan secara mursal, dengan sanad shahih, kata Imam Hakim, yang termaktub di Musnad-nya Imam Ahmad, tergamblangkan dengan terang mengenai kefitrahan malu ini.

“Sesungguhnya,” kata Nabi saw sebagaimana tertuang dalam Musnad tersebut, “Adam as adalah seorang yang berperawakan jangkung seperti pohon kurma yang tinggi dan berambut lebat. Ketika peristiwa itu terjadi, auratnya tampak. Adam belum pernah melihatnya sebelum itu. Adam segera berlari, namun kepalanya ditahan oleh ujung sebatang pohon surga.

‘Lepaskan aku,’ pinta Adam.

‘Tidak, aku tidak akan melepaskanmu,’ jawab pohon itu.

Tak lama kemudian, Rabbnya menyeru kepadanya, ‘Apakah kamu hendak lari dariku?’

‘Bukan duhai Rabbku, hanya saja aku malu padamu,’ jawab Adam.

Kemudian Allah menimpali, ‘Semestinya, seorang mukmin itu malu kepada Rabbnya berkenaan dengan dosa yang dilakukannya.’

Bermula dari situ, Adam kemudian tahu jalan keluar dari masalahnya. Adam tahu, bahwa jalan keluarnya adalah memohon ampun, dan bertaubat kepada-Nya.”

Inilah kefitrahan. Semoga kita tak mengotorinya. Hingga ia serasa muda selalu. Tanpa cela, tanpa cacat. Tak mudah memang. Karena penjagaan sepanjang hayat adalah taruhannya. Inilah kefitrahan, sebagaimana Sang Nabi, telah pernah menyabdai pemimpin kabilah Abdil Qais: Asyjaj Bani Ashr.

“Sesungguhnya, pada dirimu terdapat dua hal yang dicintai oleh Allah,” kata Nabi.

“Apa dua hal itu?” tanya Asyjaj penuh selidik.

“Sikap santun dan sifat malu,” jawab Nabi mencerahkan.

“Apakah hal ini bersifat pembawaan sejak dahulu, ataukah baru ada belakangan ini saja?” tanya Asyjaj lagi.

“Bahkan ia bersifat pembawaan sejak dahulu…” jawab Nabi menenangkan.

Asyjaj pun bertahmid penuh syukur. “Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menciptakanku atas dua hal yang dicintai-Nya.”

Akan tetapi, dalam perjalanan hidup, selalu ada rintang aral yang memacetkan jalan lurus kehidupan. Kemudian malu itu memudar helai demi helai. Maka kemudian, kita pun mengupayakannya hadir lagi. Kefitrahan, harus kita kembalikan ke tempatnya berada. Ke kampung halamannya.

“Malu itu,” kata Al-Munawi dalam At-Tauqif ala Muhimmatit Ta‘arif, “Ada dua macam, yaitu: nafsani dan imani. Malu nafsani, berarti malu yang dicipta Allah di dalam diri setiap manusia. Contohnya adalah malu jika aurat tersingkap, dan bersetubuh di depan umum. Sedangkan malu imani adalah malu yang menghalangi seorang muslim dari perbuatan yang diharamkan karena takut kepada Allah.”

Sergapan kehormatan, seringkali menghadirkan aksi-aksi yang sulit untuk dipahami, tentu saja, bagi mereka yang tak mengerti etika kehormatan. Dan bagi yang menjagai benar, justru tak ingin lepas dari sergapan itu.

Iklan

3 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s