Mengandangkan Ide

Darimanakah kita mendapatkan ide? Dari mana saja. Saya tidak akan membahas tentang bagaimana cara mendapatkan ide. Saya hanya berpesan, gunakan semua indera yang kita punya secara maksimal. Maka kita akan kebanjiran ide. Ketika di jalan, ketika membaca, ketika silaturahim, ketika tidur, ketika makan, dan lain sebagainya. Jika kita terus kritis, maka akan banyak ide yang mampir. Insya Allah.

Oke. Ada satu hal penting dalam masalah ide ini. Jika tidak ingin ide yang mampir hilang begitu saja. Yaitu, persiapkan buku khusus, yang bisa kamu bawa ke mana saja. Sebaiknya buku saku. Jadikan buku tersebut sebagai tempat untuk mengandangkan ide yang kamu dapat. Kita menamai kegiatan ini dengan Mengandangkan Ide. Yah, ide pun perlu dikandangkan. Biar gak lari.

Yap. Sebagai seorang penulis. Ke mana-mana, sebaiknya selalu bawa dua hal. Buku, dan pena. Karena itu senjata kamu. Tentara saja, selalu bawa senapan. Karena memang tentara. Kalau tukang becak, selalu bawa becak. Nah, kalau penulis, ya bawa buku, dan juga pena. Untuk mencatat hal-hal seru, dan segera menuliskan ide yang kamu dapat, ketika ia tiba-tiba datang.

Bagaimanakah cara mengandangkan ide untuk menulis buku? Berikut ini bentuknya.

Ide buku: Agar Pacaran Tak Jadi Pilihan.

Buku berisi tentang tips-tips menghindari jebakan cinta di usia muda. Agar pacaran, tak jadi pelarian syahwat, yang letupannya memang sering bikin gawat. Buku tipis, sekitar 100 halaman.

Nah, itu bentuk ikatan sementara. Intinya adalah, ide kamu, sudah kamu kandangkan, dan diikat dengan menuliskannya. Nah, kalau nanti kamu sudah siap untuk menjadikannya naskah utuh sebuah buku, tinggal ngerjain deh. Karena konsep ide dasarnya dah ada, khan jadi lebih gampang untuk ngerjain naskahnya.

Cukup ini dulu, kapan-kapan, dilanjutkan lagi yah….

Iklan

3 comments

  1. Nice posts, pernah juga denger hal semcam ini dari seorang Trainer Trustco Jakarta, pak Buyung.
    Beliau selalu bawa pena n buku. Yang istimewa buku beliau bukanlah buku yang bagus semacam agenda git, tetapi buku beliau adalah setumpuk kertas yang sudah terpaki di halaman sebaliknya, dan menyisakan satu halaman kosong di sebalik kertas itu. Buku kemudian ditumpuk dan ‘dijilid’ menggunakan satu paper klip besar. 🙂

  2. Subhanallah.. evi jadi semakin semangat untuk menulis. Walaupun baru-baru aja mencoba belajar untuk menulis. Jazakallah khoir akhi atas catatannya yg memberikan banyak inspirasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s