Bidadari Berebutan

Kemenanganmu bertahtakan kenikmatan terabadi, manakala kau tahu di mana tujuan dari kampung akhiratmu. Surgakah, atau nerakakah. Maka, berkacalah dari riwayat yang dituturkan oleh Anas bin Malik.

Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah dan berkata, “Ya Rasulullah, saya berkulit hitam, berwajah jelek dan tidak berharta. Jika aku berperang melawan musuh dan mati, apakah aku akan masuk surga?”

Nabi menjawab, “Ya.”

Kemudian ia maju menyerang musuh hingga gugur. Lalu dia dihadapkan kepada Rasulullah dalam keadaan terbunuh. Beliau kemudian bersabda, “Allah telah memperelok wajahmu, mengharumkan baumu serta melipatgandakan hartamu.” Kemudian beliau melanjutkan, “Aku melihat dua bidadari yang menjadi istrinya berebutan untuk melepaskan jubah yang dipakainya. Lalu mereka berdua masuk ke tengah-tengah kulit dan jubahnya.”

Kemenanganmu bertahtakan kenikmatan terabadi, manakala kau tahu pilihan-pilihan apa yang seharusnya kau buat dalam hidup ini. menaati-Nya kah atau mendurhakai-Nya kah? Maka, di sini, mari kita mengaca diri dari riwayat yang tersampaikan oleh Abu Hurairah.

Beberapa orang telah bercerita kepadaku tentang seorang laki-laki yang masuk surga padahal dia tidak pernah menjalankan shalat sekali pun. Karena merasa tidak mengenalnya, orang-orang yang diberitahu Abu Hurairah itu bertanya, “Siapa dia?” Dia menjawab, “Ashram Bani Abdul Asyhal, Amr bin Tsabit bin Waqsy.” Aku telah bertanya kepada Mahmud bin Lubaid, “Bagaimana kisah Ashram sebenarnya?”

Mahmud menjawab, “Dulu, dia termasuk salah satu orang yang menolak Islam dari kaumnya. Tetapi, pada Perang Uhud dia merasa yakin dan masuk Islam. Ia langsung mengambil pedangnya dan bergegas pergi ke tengah-tengah orang banyak dan menyerang musuh hingga terluka parah dan tidak mampu bergerak. Tatkala orang-orang Bani Abdul Asyhal mencari orang-orang mereka yang terbunuh di medan perang, mereka menemukannya. Mereka berseru, ‘Demi Allah, bukankah itu Ashram? Apa yang telah mendorongnya ke sini? Saat kita meninggalkannya, dia masih menolak agama ini.’ Mereka menanyainya, ‘Amr, apa yang mendorongmu kemari? Apakah karena kasihan kepada kaummu ataukah karena ingin masuk Islam?’

Ashram menjawab, ‘Karena ingin masuk Islam. Aku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Aku masuk Islam. Aku mengambil pedang dan bergegas pergi untuk ikut berperang bersama Rasulullah. Aku menyerang musuh hingga aku terluka seperti ini.’ Tak lama kemudian, dia mati dalam papahan mereka. Mereka kemudian melaporkan kejadian ini kepada Rasulullah. Beliau bersabda, “Sungguh, dia termasuk penghuni surga.” Duhai, alangkah beruntungnya Ashram.

Kemenanganmu bertahtakan kenikmatan terabadi, manakala kau tahu kita tak pernah ada apa-apanya dibandingkan oleh-Nya. Lalu, hendak memilih jalan apakah kita? Kesombongan dan kearogansiankah? Kepongahan dan kesewenangan-wenangankah? Jalan kita adalah jalan kemenangan yang tertuntun kemuliaan, maka, pilihan hidup kita adalah menjaga kemuliaan.

Kita mengaca dari riwayat yang tertutur indah oleh Abdurrahman bin Jubair bin Nufair mengatakan bahwa ayahnya bercerita: Setelah Qubrus ditaklukkan dan penduduknya tercerai-berai, mereka semua menangis. Aku melihat Abu Darda duduk sendirian seraya menangis.

Aku pun menanyainya, “Apa yang membuatmu menangis di hari ketika Allah memuliakan Islam dan pemeluknya?”

Dia menjawab, “Jubair, alangkah hinanya manusia di hadapan Allah saat mereka melanggar perintahnya. Sebelumnya mereka adalah bangsa yang kuat dan punya kekuasaan. Namun, ketika mereka telah melanggar perintah Allah, mereka pun berubah menjadi seperti apa yang kamu lihat sekarang ini.” Sungguh, kita kecil dan tiada berarti…

Kemenanganmu bertahtakan kenikmatan terabadi, manakala kau tahu bahwa yang terbaik adalah, manakala kau menyerahkan yang terbaik pada-Nya. Mari mengaca kepada kisah Abu Thalhah. Dia adalah orang Anshar yang paling banyak memiliki kebun kurma. Harta yang paling dicintainya adalah kebun kurmanya di Barha’ yang persis ada di depan Masjid. Rasulullah biasa memasukinya dan meminum airnya yang segar. Ketika turun ayat, “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menanfkahkan sebagian harta yang kamu cinta.” (Ali ‘Imran [3]: 92)

Maka, Abu Thalhah bergegas menghadap Rasulullah dan berkata, “Allah telah berfirman (ayat di atas), sementara harta yang paling aku cintai adalah kebun kurmaku di Burha’. Aku menyedekahkannya karena mengharapkan kebaikan-Nya dan simpanan-Nya di sisi Allah. Wahai Rasulullah, pergunakanlah ia seperti yang diperintahkan oleh Allah kepada engkau.”

Rasulullah menjawab, “Bagus, bagus! Itu adalah harta yang menguntungkan. Itu adalah harta yang menguntungkan. Aku telah mendengar apa yang kamu katakan. Menurutku, sedekahkan ia kepada karib kerabatmu.”

“Aku akan melakukannya ya Rasulullah. Kemudian, ia membagi-bagikannya kepada karib kerabatnya dan sepupu-sepupunya.”

Memberi yang terbaik, tentu balasannya lebih baik. Maka, jika Allah sendiri yang akan memberikan gantinya, tentu tak usah merisau diri bukan? Seperti Abdurrahman bin Auf, ia dikepung dunia dari segala penjuru. Tetapi, semua itu tidak menjadikannya lalai dan sombong. Justru dialah yang memanfaatkkannya dalam menaati Allah dan mengharapkan ridha-Nya. Salah satu riwayat ini memberi bukti.

Suatu hari, Rasulullah bermaksud mengirim suatu pasukan. Maka beliau menyeru kepada para sahabat, “Bersedekahlah! Aku ingin mengirim suatu pasukan!”

Maka, Abdurrahman bin Auf langsung pulang ke rumahnya dan cepat-cepat kembali seraya berkata, “Ya Rasulullah, aku punya uang 4.000. Dua ribu aku utangkan kepada Allah dan dua ribu aku sisakan untuk keluargaku. Maka Rasulullah berdoa, ‘Semoga Allah memberkahi apa yang telah engkau sedekahkan dan apa yang telah engkau sisakan’.”

Bahkan, pada perang Tabuk tahun 9 hijriyah, Abdurrahman berada di barisan terdepan sahabat yang bersedekah. Dia menyedekahkan 200 ons emas hingga Umar bin Khaththab berkata kepada Nabi, “Sungguh, Abdurrahman telah berbuat dosa! Dia tidak meninggalkan sedikit pun harta untuk keluarganya.”

Rasulullah kemudian bertanya kepada Abdurrahman, “Apakah kamu menyisakan untuk keluargamu, Abdurrahman?”

Dia menjawab, “Ya, aku menyisakan untuk mereka lebih banyak dari yang aku sedekahkan.”

Nabi pun mengulang pertanyaannya. Dan dia tetap menjawab, “Ya.”

Rasulullah kemudian bertanya lagi, “Berapa?”

Dia menjawab, “Rezeki, kebaikan, dan pahala yang dijanjikan oelh Allah dan Rasul-Nya.”

Wuih…. orang-orang mengagumkan, selalu berpikir mengagumkan. Ah.. kita belajar banyak dari amal nyata sahabat-sahabat Nabi tercinta itu kawan. Inilah bekal kemenangan kita: cara berpikir dan aksi yang mengagumkan. Itulah kemenangan. Kemenangan yang akan mengabadikan kita di jannah-Nya. Tempat segala nikmat meruah. Tempat segala damai melimpah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s