Biarkan Seluruh Semesta Merasai Manfaatnya

Tak seperti kebanyakan penulis di zamannya, Jane Austen memang menentang arus. Kebanyakan, penulis di zamannya itu menyeruakkan tema tentang petualangan dan imaji yang liar. Sebut saja yang mengusung tema itu seperti Daniel Defoe, Samuel Richardson, atau Henry Fielding. Tapi Jane tidak, ia justru menampilkan tema yang unik: dengan settingan yang selalu bangsawan, ia mengisah gadis muda yang mencari jati diri. Dan itu sangat menggemparkan, bagaimana tidak, sosok wanita di zaman dahulu, adalah kasta kedua dalam kehidupan sosial. Tema yang diangkat Jane, sangat tidak lazim.

Seperti karya tulisnya, kisah cintanya pun tak jauh berbeda. Di usia 23 tahun, ia dinikahkan oleh orangtuanya dengan Harris Bigg Whither, seorang bangsawan kaya dari Hampshire. Akan tetapi, tepat satu hari sebelum pelaksanaan sumpah nikah dilaksanakan, ia membatalkan. Kontan saja, seluruh manusia yang mengerti tentang acara ini tergemparkan. Jane sosok setia sepertinya, maklum, sebelumnya, ia pernah menjalin cinta kasih dengan seseorang, tapi dia meninggal duluan, di usia yang masih muda. Dan sepertinya, ia ingin menjaga cinta suci versinya itu, dengan tidak menikahi seorang pria pun.

Sense and Sensibility, novel pertamanya, terbit. Tapi pasar belum beraksi apa-apa atas karyanya itu. Hingga dua tahun kemudian, naskah Pride and Prejudice, sebuah novel yang telah difilmkan dan diperankan oleh Keira Knightly ini, pun ketika ditawarkan ke penerbit, semuanya tak menggubris. Naskah Jane tertolak dengan sukses. Bahkan, sang ayah, yang mengerti benar tentang kemauan besar anaknya ini, ikut membantunya menghubungi penerbit-penerbit di London, tapi, sepertinya, gayung belum juga bersambut. Tapi Jane, terus menulis. Bahkan lebih bersemangat menulis.

Hingga suatu kali, Richard Crosby, membeli novelnya yang Northanger Abbey. Tapi, tak jua kunjung terbit. Hingga akhirnya, perlu delapan tahun karyanya akhirnya terterbitkan, itu pun setelah ia tak mencantumkan nama aslinya dalam novel. Tapi, karena banyak memuji karyanya, akhirnya ia pun mulai menggunakan nama asli. Secara beruntun, akhirnya karyanya pun membanjiri pasar. Ia mulai tersohor. Ia mulai banyak penggemar. Bahkan, tak tanggung-tanggung, Pangeran Regent, yang kemudian menjadi Raja George IV, adalah penggemar beratnya.

Kita belajar dari Jane tentang tak kenal lelah berkarya. Jika ada di suatu hari dalam hitungan hari-hari kita, kita mengingini karya kita diterbitkan menjadi buku, dan naskah sudah kita siapkan sedemikian cantik dan memesona, tapi gayung belum juga bersambut, penerbit belum ada yang mau membuka matanya sekali saja untuk melirik karya kita, berhentikan kita dari cita itu? Jangan. Tidak. Sekali-kali jangan, sekali-kali juga tidak. Jika kau laki-laki, malulah pada Jane. Jika kau perempuan, berkacalah pada Jane. Ini bukan masalah jender kawan, ini adalah tentang mengaca rasa malu. Karena itulah yang akan membawa kita ke jalan lain yang labih baik. Jika mimpimu tak kau pegang erat, lalu siapa yang akan dengan senang hati memegang eratnya? Teruslah berkarya, lalu tunggu keajaiban. Karena jika kau berhenti, kau akan ketinggalan kereta keajaiban yang mampir di terminal masa depanmu. Berkaryalah, dan biarkan seluruh semesta merasai manfaatnya.

Semoga perbincangan kita kali ini menginspirasi!

Iklan

4 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s