Mengikat Makna Update: Harta Karun di Tahun 2009


“Sekedar menulis pun sudah surga.” Natalie Goldberg.

Pertama kali buku ini sampai ke tangan. Dada langsung tergetar tak karuan. Ini adalah buku yang kuidam-idamkan sejak lama kedatangannya. Pertama kali buku ini hendak keluar ke pasaran, bang Hernowo sudah men-tag saya di catatan facebooknya. Duh, jadi makin ngebet deh memiliki buku ini. Karena saya memang termasuk orang yang sudah merasakan manfaat dari buku Mengikat Makna yang pertama. Bahkan, nafsu baca saya makin gede salah satunya berkat pencerahan yang terdapat dalam buku beliau yang berjudul Andaikan Buku itu Sepotong Pizza. Sebuah buku yang memantik daya gugah baca saya sedemikian besar. Dan sejak saat itulah juga, istilah ‘buku bergizi’ saya kenal.

Sebagai seorang penulis, saya cukup tersentak dengan sajian halaman pertama buku ini. Oh, bagaimana tidak, ilustrasi yang terdapat di dalamnya benar-benar sesuai dengan apa yang saya rasakan. Apalagi pada bagian gambar: menulis mendatangkan stress, tak berdaya ketika membaca dan menulis, sulit membaca karena sibuk, dan bingung menentukan bahan bacaan. Hahaha… benar-benar gue banget! Alasan-alasan itu selalu berkutat di kepala. Dan selalu saja, saya seolah membenarkan juga. Ahh… benar-benar menyedihkan…

Tetapi, setelah membuka lembaran selanjutnya, raut sumringah wajah segera hadir. Ilustrasi yang terdapat di halaman selanjutnya itu justru memberi tahu, bahwa kesemua hal itu akan segera musnah setelah menelaah habis buku ini. Hmm… sangat-sangat menarik. Kuacungkan sepuluh jempol untuk Mas Hartono sebagai ilustrator. Karena berkat coretan indah nan menggelitik dari tangan beliaulah buku ini begitu amat sangat segar dan nyaman untuk dibaca. Jujur, dibandingkan Mengikat Makna yang pertama, layout-an buku ini lebih bersih dan nyaman. Dan ilustrasi yang terdapat di buku ini juga sangat-sangat hebat.

Buku ini, bagi saya adalah seperti menemukan sumur ilmu yang penuh airnya, setelah melakukan perjalanan panjang di gurun selama bertahun-tahun. Bagaimana tidak, dengan begitu baik hatinya bang Her meringkaskan gagasan-gagasan dan ide banyak orang, kemudian diramukan dengan pemahaman beliau setelah melalui pengalaman-pengalaman yang kaya, menjadi satu gagasan penting, yaitu tentang mengikat makna. Ini seperti harta karun saja bagiku. Dan secara berulang-ulang, beliau selalu menekankan tentang mengikat makna, sebuah kata lain untuk memadukan kegiatan membaca dan menulis.

Sebagaimana kata beliau, menulis memerlukan membaca, dan membaca memerlukan menulis. Dua sisi yang tak boleh dipisahkan. Bahkan, berkali-kali, beliau menekankan tentang kegiatan membaca. Beliau mengibaratkan di bab 12 sebagai kunci surga. Analoginya pun sangat menarik. Kegiatan menulis tanpa membaca, ibarat memiliki tanaman, tetapi tanaman itu tidak pernah dapat disirami dengan air. Tanaman itu pun hidup di sebuah lahan atau lingkungan yang sangat gersang. Dan membaca, adalah bagaikan air bagi tanaman tersebut. Dan tanaman itu sendiri adalah tulisannya.

Hal-hal apa saja yang membuat saya tertakjub-takjub dengan buku ini?

Secara garis besar, setiap halaman buku ini memang menyajikan kerenyahan kalimat tapi padat gagasan. Itulah kekuatan gaya penulisan beliau. Tak perlu mengernyitkan dahi untuk menelaah buku ini. Cukup sajikan saja secangkir kopi atau teh di meja, diselingi sesekali menggigit wafer atau biskuit, dijamin, kenikmatan membaca buku ini akan makin terasa, dan gagasan-gagasan cerdas akan segera terhadirkan. Di antara sekian banyak manfaat yang terhadirkan, ada beberapa poin yang langsung menghentak ruang kesadaran saya. Sehingga, perlu beberapa kali saya membetulkan posisi duduk, karena saking terkagumnya.

Yang pertama adalah gagasan beliau tentang tentang RUANG PRIVAT dan RUANG PUBLIK. Dua buah ruang yang harus kita punya dalam menulis. Saya, sebagai seorang penulis buku, tahu betul bagaimana gagasan ini akan langsung bermanfaat bagi proses kepenulisan saya ke depannya. Ruang privat, adalah menulis sebebas-bebasnya untuk diri sendiri. Sudah, tumpah ruahkan saja apa yang ada dipikiranmu, apa yang engkau pahami, tuliskan, tanpa pernah memedulikan urusan kaidah bahasa, editing, teori menulis, dan sebagainya. Itulah Ruang privat. Itulah mengikat makna. Setelah kau membaca, kau ikat di ruang privat. Tapi itu belum selesai, itu baru separuh jalan, sebagaimana penjelasan beliau. Karena, jika kau ingin menyampaikan tulisan tersebut untuk orang lain, kau bagi, maka kau baru harus mengeditnya agar ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan. Itulah ruang publik. Dan ini adalah ide yang sangat menarik. Mengapa? Karena kebanyakan kita langsung menulis di wilayah RUANG PUBLIK. Sehingga, kita jadi kehilangan semangat dan juga gairah, karena kita tidak melalui proses mengikat makna sebelumnya. Dan itu akan terasa sangat sulit sekali dalam melakukan proses menulis, karena kita tak punya proses ikat makna untuk mematangkan pemahaman.

Yang kedua adalah adanya tabel: Apa yang Ingin Kubaca, dan tabel: Apa yang Ingin Kuikat. Tabel ini benar-benar menyentak saya. Saya langsung berpikir, wah iya juga yah. Kalau tiap hari disempetin ajah melakukan ini beberapa menit saja, pasti kemampuan menulisku akan melesat, dan ikatan ilmuku makin banyak. Dan saat itu, saya langusng berkata penuh kegirangan, “Ini sangat keren!”

Yang ketiga, adalah pernyataan beliau tentang membaca dan menikmati buku-buku adalah seperangkat kasih sayang Tuhan yang diberikan kepadanya. Dan sebagai wujud syukurnya, beliau pun membaginya kepada yang memerlukan. Untuk itulah mengikat makna terhadirkan. Allahumma…. Saya sebagai seorang penulis, benar-benar tersentak dengan pernyataan ini. Selama ini, pernahkah kita menganggap aktivitas membaca dan menulis sebagai sebuah nikmat sehingga kita harus mensyukurinya? Ini benar-benar pernyataan yang langsung menusuk ulu hati saya. Dan saya sangat berterima kasih untuk itu.

Itulah beberapa poin utama yang mampu merubah aktivitas baca-tulis saya setelah membaca buku ini. Sejatinya, kedahysatan buku ini lebih mengagumkan dari apa yang terpaparkan di sini. Sungguh tidak akan mengecewakan ketika Anda sendiri tidak enggan untuk menelaah buku ini. Ada banyak sajian gagasan cerdas yang meriuhi disetiap halamannya. Maka benarlah, ketika salah seorang endorser buku ini, yaitu Riris K. Toha yang mengatakan, “Hernowo tak hanya bicara tentang keterampilan baca-tulis; lebih dari itu, dia terutama berbicara tentang sebuah kehidupan yang bermakna.”

Maka, tak salah sepertinya buku ini jika saya sebut sebagai harta karun di tahun 2009.

————————————————
Judul: Mengikat Makna Update
Penulis: Hernowo
Penerbit: Kaifa, Bandung
Cetakan: Pertama, Oktober 2009
————————————————

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s