Parade Keajaiban

Rib’iy bin Amir ketika menghadap Rustum, dengan tegar mengatakan, “Kami diutus untuk memerdekakan manusia dari penghambaan menusia terhadap Rabb-nya manusia. Membebaskan manusia dari penjara kesempitan dunia menuju keluasan akhirat. Dan pembebasan manusia dari kezhaliman dan kekejaman menuju perdamaian dan keadilan Islam.”

Dan keajaiban telah di mulai. Dalam rentang waktu sejarah Islam. Kekuatan Iman selalu menampilkan kisah-kisah keajaiban. Cahaya iman yang sejelas mentari selalu meninggalkan berderet-deret peti yang berisi kekaguman dan keinginan untuk mengikuti saat keajaiban tersebut. Karena memang, saat-saat kejayaan adalah saat iman meninggi. Dan saat keruntuhan juga saat iman melemah. Ketika ruhiyah sedang fit. Segala penjuru akan terisi keberkahan dari langit. Pertolongan-Nya akan selalu mengejawantah menjadi kemenangan. Dan kita bisa mempermudah untuk memahaminya ketika melihat sejarah perang Badar. Yang sedikit namun ber-‘taring’ mengalahkan yang besar namun ompong dan ringkih. Ruhiyah musuh di bawah nol!

Aura iman memang bukan hanya menerangi. Tapi juga menggerakkan. Dan ia bukan milik suatu zaman. Maka, ia menebar inspirasi tak kenal henti. Namun, ia akan tetap memancar manakala di bawa oleh pribadi yang unggul. Yang mengerti akan hakekatnya. Dan ia adalah inspirasi. Seperti halilintar. Dan yang lain hanya bisa terbengong-bengong. Simaklah keagungan pahlawan besar Islam lainya. Oleh itulah kita mendapati mengapa Khalid bin Walid lebih menyukai ribath daripada gadis cantik di malam pengantin. Keluarga Yasir yang mampu bertahan di tengah terpaan siksa yang demikian berat. Atau Utsman yang menginfakkan seluruh hartanya dalam sebuah perang. Serta Umar sang khalifah yang mengangkat sendiri gandum untuk perempuan miskin di gelapnya malam. Tak lupa pula Bilal yang bertahan dengan “Ahad…ahad…ahad….!”

Shalahuddin Al-Ayyubi. Pahlawan perang Salib tersebut tidak membantai pasukan Salib ketika beliau berhasil membuka Palestina. Padahal, sebelumnya pasukan Salib merebut kota tersebut dengan menyembelih semua penduduknya. Shalahuddin pula yang mengobati sendiri musuhnya, Richard the Lion Heart. Musuh utamanya yang saat itu terbujur sakit.

Muzhaffar Quthz, peneriak lantang “Wa Islamah….!!!” Pahlawan perang Ain Jalut. Yang manakala kehilangan kudanya saat bertempur. Ia menolak saat seorang tentara menawarkan kudanya sebagai ganti. “Saya tidak mau memberatkan Anda dalam berjihad,” katanya pada si tentara. “Tapi, kalau tuan tidak berkuda, tuan bisa terbunuh dengan mudah oleh musuh.” Jawab tentaranya dengan pendar penuh khawatir. Dengan tersenyum, Quthz menjawab, “Kalau saja saya terbunuh, maka saya telah pergi ke surga….”

Para pejuang itu tahu. Bahwa jalan yang mereka tempuh adalah jalan terjal membatu. Dan mereka tahu tidak akan mudah melaluinya, sebagaimana mereka juga tahu dengan jelas akan semua gambaran keindahan jannah-Nya.

Siapa sih si empuya nama. Yang pasukan Israel saja terkencing-kencing ketika mendengarnya? Izzudin Al-Qossam. “Saya sangat percaya bahwa genderang jihad yang telah saya tabuh ini mendapat tempat di hati kaum muslimin. Gema jihad ini akan di sambut sejak pertama kali dikumandangkan.” Pekik khutbahnya suatu kali. Dan rakyat Palestina pun terbangun dari tidur panjangnya. Tak lupa pula Imad Aqil. Yang mayatnya saja masih membuat ngeper pasukan Israel. Yang ketika dikepung di sebuah rumah, dengan tegar dan seorang diri mengatakan, “Sudah saatnya bagiku untuk memperoleh syahid.” Dan tubuh mulianya pun di berondong lebih dari 70 tembakan. Dan ruhnya tersenyum penuh kemenangan di sambut bidadari bermata jeli.

Ikutlah dalam parade keajaiban itu. Keajaiban itu telah mengantar jiwa-jiwa menuju langit. Meninggalkan keteladanan yang harus segera dijawab oleh anak cucu pemegang tongkat kebangkitan selanjutnya. Teruskanlah parade kemuliaan Islam. Dan pembuktian bukanlah dengan kata-kata sampai berbusa. Terangkan zaman yang semakin menua ini dengan keajaiban imanmu. Dan jangan menunggu lecutan halilintar. Tapi, ciptakanlah halilintarmu sendiri. Demi kebangkitan ini. Mungkin hari ini kita adalah debu. Tapi ketahuilah, ialah yang membuat bata terbentuk. Mungkin seruan sekarang ini dalam benak, adalah kesia-siaan. Tapi ketahuilah, esok, ia akan berubah menjadi hempasan keras dan sebuah bangunan kejayaan!

——————
Allahumma…. hamba membutuhiMu selalu….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s