Dua Kutub Anugerah

Kawanku di Padang menterjagakanku
Mengirim salam yang hatinya terpenuh-sembilu
Kami tergoyang-goyang Richter saudaraku, katanya terpilu

Anyir, kau jejakkan ratap di di jalur hatiku kawan, kataku
Tak apa, walau kini senyumku anyir, senyumku masih terukir
Balasan atas ratapku itu, justru membingungku

Kawanku, ikutkah akalmu tergoyang-goyangkan
Hingga tak berlurus lagi kini
Selidikku tercampur heran

Dia tersenyum, dengan air mata yang terkulum
Dan aku pun makin tak mengerti

Kita hanya bisa belajar dua hal, kawanku
Kami, di sini, dilatih-Nya kesabaran
Dan engkau, di sana, dilatih-Nya kepedulian
Itulah mengapa Dia mengukhuwah kita
Inilah dua kutub anugerah terindah tuk kita

Lututku lemas, aku tersungkur mendengar jawabnya
Kutahniahkan takbir, dan basah air mata untuknya…

Fachmy Casofa
26 Oktober 2009

Iklan

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s