Muslim Inspiratif!

crop depan MI

Sejarah kembali berwarna cerah. Ada kupu-kupu beterbangan menebarkan semangat. Ada awan menaungi azzam yang menjiwa di dada para mujahid. Masa itu, kaum muslimin sedang membumihanguskan kepongahan bangsa Romawi yang tak mau bertauhid. Peperangan berlangsung cukup lama. Dan kaum muslimin kesulitan untuk menembus sebuah masalah yang selama ini membuat peperangan menjadi sangat lama. Masalah tersebut adalah adanya sebuah benteng yang sangat kokoh milik bangsa Romawi. Susah ditembus, susah pula ditaklukkan.

Tanpa dinyana apatah lagi diduga. Ditengah berkecamuknya perang yang menegang seluruh emosi kedua belah pasukan, ada sesosok mujahid yang dengan gigihnya berusaha melubangi benteng. Tak ada yang tahu siapa dia. Karena seluruh mukanya bertutupkan kain, dan hanya mata yang tampak di muka. Dengan usaha yang sangat keras hingga tak kan pernah ada kata ataupun suara yang mampu meluksikan usaha sang mujahid, dengan izin Allah, sang mujahid tersebut berhasil melubangi benteng dan menembusnya. Sontak saja, terpekiklah takbir ekstra keras dan membahana.

“Alla….hu Akba…r…!” beriringan, berbarengan dari seluruh pasukan.

Singkat cerita, pasukan Islam lainnya pun kemudian merangsek masuk ke dalam benteng mengikuti apa yang telah dilakukan oleh sang mujahid tadi. Maka, takluklah benteng Rowami yang terkenal kokoh dan sulit ditembus tersebut. Pada saat-saat itu, pekikatan takbir tak henti-hentinya mengiang dan menggaung di udara. Dengan begitu, semakin ciutlah nyali pasukan Romawi. Dan akhirnya, benteng tersebut dapat di taklukkan.

Tetapi, kisah ini dihadirkan bukan untuk mengelanai tentang tembusnya benteng. Bukan, tetapi kita akan mengelanai sang penginspirasi yang berhasil menembus benteng. Yah, dialah sang mujahid yang tak dikenal itu. Siapa dia?

Lalu, peperangan pun berakhir. Sang panglima, Maslamah bin Abdul Malik angkat bicara, “Siapa di antara kalian tadi yang telah melubangi benteng tersebut?”

Hening. Tak ada sesuarapun dari pasukan Islam yang mengaku. Sepi. Benar-benar sepi. Sang panglima pun mengulangi pertanyaannya untuk kali kedua. Tetapi, suasana pun tetap sama. Hening. Dan sepi. Tak ada yang bersuara apalagi mengaku. Lalu, diulangilah pertanyaan yang sama untuk kali ketiga. Dan keheningan pun kembali melanda.

Dengan sedikit geram, sang panglima kemudian berseru, “Saya bersumpah dengan nama Allah, tunjukkanlah raut wajahnya kepada saya! Saya bersumpah dengan nama Allah, perkenalkanlah dirinya kepada saya!”

Akan tetapi, suasana tetap hening. Dari pasukan Islam, tak satupun yang mengaku. Hingga akhirnya sang panglima pergi. Seraya diam membisu. Ada seraut kebingungan yang menggelayut di kepalanya.

Bingung, benar-benar bingung….

Malam pun beranjak naik. Pekat benar-benar menggelap seluruh jagad. Pasukan Islam pun khusyuk menikmati munajat. Karena memang, pasukan Islam adalah para rahib yang senantiasa khusyuk bermunajat di malam hari, tetapi bak singa ketika siang hari untuk membumihanguskan para pembela kemunkaran. Di saat itulah, sang mujahid yang melubangi benteng tadi menemui sang komandan. Dia pun angkat bicara, “Apakah tuan panglima ingin mengetahui siapa yang telah membuat lubang di benteng tadi?”

“Ya, tentu saja!” jawab sang panglima.

Antusias sekali panglima kita ini menanti jawaban dari sang mujahid tersebut.
Sang mujahid pun kemudian berkata, “Jika saya memberitahukannya kepada tuan, ada syaratnya. Yaitu, jangan pernah menanyakan kepadanya siapa nama aslinya, nama bapaknya, kakeknya, ataupun ibunya.”

Sang panglima pun kemudian menyepakati syarat tersebut. Lalu, sang mujahid tadi pun kemudian membuka kain yang membalut wajahnya kemudian berkata, “Sayalah sang pembuat lubang itu.”

Seketika itu, sang panglima menangis hebat. Yah, menangis! Ia begitu terharu. Bagaimana sang mujahid itu justru tak ingin dikenal namanya. Nasabnya, asal muasalnya. Sang panglima menangis, bagaimana sang mujahid tak ingin dikenang sosoknya. Ia pun merasa perih mengingat segala sepak terjang jihadnya selama ini. Ia merasa bukan apa-apa dibandingkan sosok mujahid pembuat lubang tersebut.

Kemudian, ia pun melantunkan sebuah doa, “Ya Allah, kumpulkanlah aku bersama si pembuat lubang itu….”

Dan sampai sekarang. Sang mujahid itu, tak pernah diketahui namanya, nasabnya, apalagi tempat ia berasal.

—–

Begitulah muslim inspiratif sobat. Hanya untuk Allahlah ia bekerja. Dengan begitu, efek yang kemudian datang karena segala tindak tanduknya hanyalah sebuah syi’ar otomatis bagi penduduk semesta.

Ia hanya mensemangat di setiap aktivitasnya. Kemudian mempadunya dengan kreatifitas dalam laksana, hingga menghasilkan karya yang tak berjeda. Karena memang, dia telah merenda ketekunan hingga ia menjadi ahli dibidangnya. Di samping itu, ia senantiasa mentarbiyah dirinya, baik ruhiyah, fikriyah, maupun jasadiyahnya.

Di saat yang sama, ia senantiasa berjibaku dengan kemandirian, agar tak ada siapapun yang berani menekannya dalam mendakwahkan agama. Karena hanya dengan begitulah, ia mampu melaksanakan sunnah-sunnah Nabi. Karena memang, hanya Rasulullah yang patut dijadikan teladan.

Dengan begitu, ia senantiasa memberanikan diri untuk berbakti pada Ilahi Rabbi. Karena hanya dengan begitulah, ia memperoleh optimisme hidup dan keyakinan bahwa Allahlah satu-satunya yang hak untuk disembah, dan satu-satunya yang mengatur segala apa yang ada.

Begitulah muslim inspiratif merajut sisi-sisi hidupnya. Menumbuhkembangkannya hingga menjadi taman kegagahan sebagai seorang muslim. Ada kebanggaan, ada kehormatan dan kemuliaan menjadi penegak panji-Nya.

Sejatinya, ia bahkan tak menginginkan dirinya dikenal oleh semesta. Sebenarnya, ia tak menginginkan dirinya dipuja penduduk dunia. Jikalau popularitas itu muncul justru untuk melapangkan tapak perjuangan menjadi lebih mudah dan mengena, itu justru tak apa.

Tetapi, jikalah cukup dikala sederhana saja tanpa dipuja semesta, itu juga tak apa. Karena, disetiap amaliahnya, ia hanya memiliki satu cita, Allah menerima semua yang telah ia laksana.

Dengan begitu, ridha dan rahmatnya adalah harapan-harapan yang terus ia upaya disetiap episode hidupnya.

Karena memang begitulah muslim inspiratif. Dan kuharap, kita sama-sama berusaha untuk menjadinya.

Iklan

5 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s