Ekspresi Dua Cinta, untuk Shahabat Tercinta….

209_t-shirt_design_heart_black_white

Dua cinta. Tetapi, permulaannya mungkin membuat kita terkesan. Yah, dua cinta.

Kala itu, tengah terjadi debat begitu hebat, antara Abdurrahman bin Auf dengan Khalid bin Walid. Begitulah sejarah menjejak rekamnya. Dan, panas sengitnya telah merasuk ke dalam dua shahabat yang mulia ini. Khalid bahkan hingga mencela ibn Auf. sebegitu itu pula sebaliknya. Ini berkaitan dengan peristiwa Bani Jadzimah.

Demi mendengar itu, Rasulullah pun berpitam, “Tahan dirimu wahai Khalid, janganlah kau cela shahabat-shahabatku. Demi Allah, andaikan engkau memiliki emas sebesar gunung Uhud, lalu kau infakkan semuanya di jalan Allah, Demi Allah, itu takkan menyamai walau segenggam kurma maupun setengahnya!”

yah, ibn Auf memang pantas untuk tak dicaci apatah lagi dihina. Bayangkan saja, dua puluh satu tahun sang shahabat ini membersamai perjuangan Rasul. Dihina, dicaci, ditindas, berdarah, berpeluh, berlelah, dan tak mendustakan sang Nabi, kemudian hijrah ke Madinah dalam kepapaan, hingga kemudian menjadi pengusaha yang menginfakkan hartanya untuk kepentingan dakwah. yah, ibn Auf memang tak pantas dihina sedemikian rupa. Bandingkan saja dengan Khalid yang baru bergabung dalam barisan dakwah yang hanya berumur delapan bulan.

Tetapi, sang Nabi kita ini sunggulah terpuji. Sungguh. Benar-benar penyayang Sang Nabi kita ini. Cintanya pada shahabat-shahabatnya, ditempatkannya pada tempat yang sebegitu proporsional. Duh… saya jadi merinding sendiri.

“Janganlah lagi kalian cela Khalid,” kata Sang Nabi. “Sesungguhnya dia adalah salah satu pedang dari pedang Allah yang dihunuskannya kepada kaum musyrikin.”

Yah, Khalid, gelarnya yang disematnya itu, saifullah al-maslul, pun mengusik hebat dalam ruang pikir Roderick. Panglima Romawi dalam perang Yarmuk.

“Ceritakan padaku, mengapa kau digelari pedang Allah yang terhunus? Apakah tuhan telah menurunkan sebilah pedang kepadamu dari langit, hingga kau ayunkan ke arah manusia, dan kau pasti menghancurkannya?”

Ah, saya juga tertawa geli mendengar pertanyaan macam itu. Yah, Khalid, alangkah hebatnya daya gemarnya kepada seni perang. Dialah aktor di balik suksesnya pembalikan situasi pada perang Uhud. Hingga kita tak aneh mendengar, kala ia mengujar, “Sungguh, ribath dalam jihad lebih aku sukai daripada bermalam pertama dengan gadis perawan.”

Abdurrahman bin Auf, Khalid bin Walid, Sang Nabi mempunyai cara tersendiri untuk mengungkapkan cintanya kepada mereka berdua. Dan kedua shahabat ini pun, mempunyai ungkapan bahasa cinta yang mereka tunjukkan kepada agama ini dengan cara yang berbeda-beda.

Sepertinya, kita mengenang nama ibn Auf dengan rekam sejarahnya mengenai infak tak tanggung-tanggunya kepada jihad fi sabilillah dan sepertinya tak ada yang dapat menyamai jihad hartanya. Yah, ia memang ikut berdarah-darah dalam medan juang, tetapi ia mempunyai kekuatan lain yang tak dipunyai shahabat yang lain. Yaitu harta yang melimpah ruah, akan tetapi dimaksimalkan untuk kepentingan dakwah. Dan jika kita mengiang nama Khalid, kita teringat sosok panglima yang begitu gagah menyeruak barisan kaum kuffar di medan perang. Strateginya senantiasa jitu, ekspansi dan perluasan wilayah dakwah senantiasa berkibar dengan gagah.

mereka. mempunyai cara tersendiri untuk mengabdi kepada Rabbnya…

duh, gerimis hati saya ketika menulis note ini…..
saya berperan untuk islam di bagian mananya ya….

Iklan

15 comments

  1. wedew…
    buku tentang mother yak?
    secara, gue kan father aisy…
    entar malah gimana githu….
    doanya saja deh, semoga saya bisa mewujudkannya
    judule
    MOTHERNISASI…..
    wehehehhehehe….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s