Berjuang dengan Tujuan

514351207158271

Dalam suatu perang, Ali bin Abi Thalib terlibat duel satu lawan satu. Ketika itu, Ali unggul dan dapat melumpuhkan musuhnya. Diletakkanlah pedang di leher musuh, tebasan siap diayunkan kali itu. Suasana, sedemikian mencekam.

Tiba-tiba, sang musuh meludahi muka Ali. Cuih!

Kali ini, emosi Ali betul-betul memuncak. Tetapi, anehnya, ia justru menarik pedangnya. Serta merta, sang musuh terheran-heran penuh takjub.

“Hei Ali, mengapa kau tak jadi membunuhku?” tanyanya.

“Jika aku membunuhmu, maka aku membunuhmu karena memuncaknya emosiku, dan bukan karena Allah. Dan aku, tidaklah mau mengotori perjuangan ini dengan nafsu yang menguasaiku!”

Dan sekali lagi, kita tertakjub dengan begitu dalamnya cinta Ali pada-Nya. Sepertinya, sudahlah menjadi rahasia para pejuang untuk senantiasa menjalani episode perjuangannya dengan tujuan. Yah, tujuan. Itulah yang membuat langkah perjuangan mereka tetap bening, jernih, dan mencahaya.

Sepeti bila kita mengaca pada Ibnu Mas‘ud. Pada suatu hari, dia keluar rumah, dan ia mendapati orang-orang mengikutinya. Dengan penuh keheranan, ia bertanya kepada mereka, “Apakah kalian ada keperluan?”

Mereka menjawab, “Tidak, tapi kami hanya ingin berjalan bersama Anda!”

“Duh… kalian ini, pulanglah, karena tindakan kalian itu mencerminkan kehinaan bagi yang mengikuti dan fitnah bagi yang diikuti!”

Setelah itu, ia berkata lagi, “Andaikata kalian mengerti apa yang kumengerti tentang diriku, niscaya kalian akan menaburi kepalaku dengan tanah!”

Begitulah, selalu saja, agar menjaga keterbeningan perjuangan ini, kita ingin sekali menjaga ruang-ruang nurani agar tak terkotori. Bersih dari segala kerak yang dapat menggerogoti medan-medan aksi. Karena bagaimanapun, hanya kita dan Dia yang tahu, seberapa bebal sebetulnya nurani kita. Ah, alangkah tak herannya ketika dikatakan kepada Imam Ahmad, “Semoga Allah membalas jasa-jasamu kepada Islam dengan balasan lebih baik….”

Maka beliau langsung menukas, “Justru semoga Allah membalas jasa Islam kepadaku dengan balasan yang lebih baik. Siapalah aku? Apalah aku?”

Di sini, kita belajar dari mereka, bahwa mereka adalah orang-orang yang senantiasa takut terhadap perasaan bangga kepada diri sendiri. Sampai-sampai Abu ‘Ubaidah pernah berkata, “Aku hanyalah seorang Quraisy biasa. Jika ada seseorang dari kalian, entah ia berkulit merah maupun berkulit hitam, namun ia melebihi diriku dalam ketakwaan, maka sungguh aku suka menjadi kulitnya saja….”

Duhai, betapa selama ini kita terlalu bersering diri untuk membanggakan diri. Betapa selama ini kita terlalu sering mengurai segala amaliyah-amaliyah kita kepada khalayak, dan bukan untuk pembelajaran bagi yang lain, tetapi, justru hanyak untuk membanggakan diri. Sok suci, sok putih, sok paling bertaqwa. Padahal, untuk membangun tangga cinta kepada-Nya, kita butuh kebeningan nurani….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s