Genera-sheed = generasi nasyid

574091202057761

Nasyiduna naarun alath thughati….!
Nasyid kami adalah neraka bagi para thagut!

Apa kabar belantika nasyid kita? Jujur. Saya cukup berlega riang dengan munculnya nasyiders/munsyid baru di negeri ini. Dengan berbagai macam cirri khas mereka masing-masing. Ada yang ber-genre haroki, pop, romantic, bahkan ada yang rap segala. Anyway, dengan statusnya sebagai hiburan alternatif, peran nasyid cukup membantu dalam perluasan dakwah dan perbaikan kondisi ummat. Ini bisa dilihat dengan makin bertambahnya para pendengar nasyid di negeri ini.

Dahulu, di zaman nasyid hanya didominasi oleh Izzatul Islam, Raihan dan Snada, bersenandung dengan lirik mereka di kelas dan dipentas sekolah terasa aneh dan menggelikan (saya termasuk yang mengalaminya. Disaat teman-teman sekelas saya menyanyikan In The End-nya Linkin Park, saya malah mendendangkan nasyid Arab Barudati, maklum, sejak Aliyah saya dan tiga ikhwan yang lain membentuk tim nasyid Shout Asy-Syabab yang alhamdulillah sampai sekarang diteruskan oleh adik-adik angkatan di OSIS sekolah, eits, waktu redaksi majalah An-Nida mengadakan Talk Show di Kudus, tim nasyid saya yang ikut memeriahkan acara lho…). Tetapi sekarang, bangsa ini sudah mulai akrab dengan istilah ’nasyid’.

Akan tetapi, dengan cukup banyaknya nasyiders di Indonesia. Mengapa belum ada yang ’menajamkan taring’-nya dengan membuat video klip yang mampu menembus televisi?

Saya dan Sobat Muslim tentu sudah bosan melihat berbagai macam video klip musik yang kebanyakan sarat dengan nuansa pornografi-nya. Bayangkan, bila nasyid mampu memberikan warna tersendiri dengan nuansa Islam yang kental di video klipnya. Tentu nasyid tidak akan menjadi sejenis barang yang keberadaannya tidak digubris, hilangnya juga tak dicari. Iya khan? Sejauh ini, di Indonesia, hanya Opick saja yang keliatan wara-wiri. Bahkan, masuk tiga besar pula dalam Ampuh-nya MTV. Tetapi, 19 video klip musik lainnya tetap menyajikan lirik dan klip yang tidak islami. Jadi, 1 ngelawan 19, ya jelas gak cukuplah.

Sejarahnya, video musik adalah media untuk alat promosi album baru seorang penyanyi ataupun grup musik. Seiring dengan perkembangan teknologi informasi yang diwakili televisi, video musik juga berkembang pesat. Jadi, selain menyanyi yang mau promo album itu recording langsung atau tidak langsung lewat program khusus. Mereka juga membuat rekaman sendiri di luar stasiun televisi. Inilah yang kemudian dikenal dengan nama video musik. Penayangan video musik moden ini biasanya masuk kategori iklan. Jadi, setiap saat bisa disisipkan pada acara/program lain selain acara musik.

Kemudian disadari bahwa promosi melalui stasiun televisi saja tidak cukup. Teknologi makin maju hingga muncul temuan home video. Maksudnya, seseorang dapat memainkan video musik sendiri dirumah tanpa terikat jadwal tayangan televisi. Kapan saja kita dapat menikmati musisi/penyanyi favorit setiap saat dengan perangkat home video tersebut. Jadi, pada level ini sebuah industri rekaman mempunyai banyak format untuk dijual kepada penggemarnya. Selain piringan hitam, ada kaset audio (audio tape) ditambah kaset video (video tape).

Awal tahun 80-an video musik memulai jaman keemasan dengan hitsnya Thriller oleh penyanyi Michael Jackson. Yang disutradarai oleh John Landis. Dimana-mana orang pada rame ngomongin Thriller pada video musiknya, bukan pada musik/penyanyi itu sendiri. Dengan kata lain. Pembuatan video musik Thriller berhasil mempengaruhi penjualan album hingga jutaan kopi. Itulah gambaran tentang begitu berpengaruhnya video musik pada perkembangan industri musik pada umumnya. Nah, sekedar review, video musik King Of Pop Michael Jackson tersebut berkisah tentang sekumpulan mayat hidup bergentayangan dari kuburan hingga pusat kota. Untuk ukuran waktu itu, klip semacam ini memang keren banget…

Pada kasus yang hampir sama, sutradara Alan Parker membuat film musik bersama Pink Floyd, sebuah grup band beraliran rock. Sebuah masterpiece pun lahirlah, The Wall. Judul ini sama dengan judul album kaset (audio) dari group Pink Floyd. Pada karyanya ini, sutradara Alan Parker berkomentar, “Saya seperti membuat potongan-potongan cerpen untuk dijadikan novel. Kalau boleh dibilang, inilah video klip musik digabung menjadi sebuah film panjang.”

The Wall adalah salah satu referensi wajib bagi para videomaker sekarang ini. Sekali lagi, bukti bahwa aspek sinematografis menjadi sangat penting.

Barangkali, hal ini yang membuat Michael Jackson juga sangat memperhatikan aspek sinematik pada video musik yang akan dibuatnya. Sutrada terkenal John Landis terkenal lewat film horror Warewolf American in London. Dengan make-up dan artistic yang mendapat piala Oscar dan film musical yang sangat dahsyat sepanjang sejarah Hollywood The Blues Brothers. Karena John Landis pula, maka video musik pada saat itu sangat memperhatikan aspek-aspek sinamtik, seolah kita seperti menonton film pendek dengan musik/lagu favorit.

Begitulah sejarahnya. Saya mempunyai dua harapan. Kita mempunyai stasiun TV Islami sendiri sehingga bangsa Indonesia dapat menikmatinya setiap hari. Sehingga, kita bisa menyaksikan video klip nasyid mulai menjamur. Atau yang kedua, jikalau belum mampu untuk mempunyai stasiun TV islami sendiri, 20 video klip musiknya Ampuh MTV, dipenuhi oleh video klip nasyiders kita. He…he…

Itulah nasyid, yang sarat akan semangat. Nasehat. Pesan ruhiyah yang dahsyat. Karena nasyid merupakan sebentuk kebenaran yang dikemas penuh dengan warna-warna keindahan. Agar para pendengar mampu menerimanya juga dengan hati yang penuh warna. Nasyid merupakan cara cerdas berdakwah. Dengarkanlah nasyid. Bersemangatlah dengannya. Agar hati itu mempunyai sisi warna tersendiri. Dan rasakan beat rohaninya. Tetapi, jangan sampai hapalan nasyid kamu ngalahin hapalan qur’an kamu.

Lantunan indah syeikh-syeikh timur tengah yang hafizh ini memang membuat hati bergetar. Menggemuruh. Lantunannya menandakan akan ketenangan. Kalau kesukaan saya sih Musyari Rasyid Al-Afasy. Maklumlah, selain lantunannya pas dengan saya, saya juga mempunyai sejarah sendiri waktu di ma’had tahfizh mengapa saya begitu mencintai beliau. Sobat boleh memilihnya sendiri. Karena dengan begitu kita mendengar firman-Nya yang mulia. Yah. Bagi saya. Ini adalah terapi termanjur.

Bukankah mendengar saja mendapat pahala? Dan bukankah ketika ingin bercakap-cakap dengan Rabb, kita di anjurkan membaca Al-Qur’an. Sedangkan jika ingin sebaliknya agar mendengarkan lantunan Al-Qur’an. Ah… indahnya….. nikmatilah hidangan terindah dari Allah tersebut.

– fachmy casofa –

Iklan

5 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s