Disainer Kaver Dapet Royalti, Mau?

757251214352717

Para pambaca yang budiman, tapi gak pake sudjatmiko gitu loh. Jadi begini nih, sang penulis yang ngelola nih blog dan sudah berkarya dua buku ini dan mau tiga malahan (bentar lagi), punya uneg-uneg yang bikin kepala seseg plus dada mampet. Hik…. Hik….. dengarkan keluh kesahku ya….

Uneg-unegnya begini. Minta tolong perhatiannya sebentar ya. Jangan pada ribut. Itu yang belakang juga jangan pada nyikut-nyikut. Kasihan temennya yang lagi mbaca blog ini.

Oke oke, kembali ke topik hidayat permasalahanku.

Sudah jamak diketahui, kalo setiap penulis (kayak gue ini nih) itu mendapatkan royalti (bagi yang memilih royalti) dari setiap karyanya. Iya khan? Bahkan, ada juga penerjemah yang naskah hasil terjemahannya tidak dibeli putus, tapi juga royalti.

Nah, yang jadi masalah bagi gue adalah, kenapa desainer kaver tidak mendapatkan pilihan itu? Apa karena ia bersifat jasa, atau bagaimana?
Bukankah desainer kaver bertugas nan berperan amat sangat susah bin penting dalam pembuatan sebuah buku? Kalo gak percaya, baca lagi artikel-artikel gue yang sudah-sudah di blog ini. Bagi yang sudah mbaca, mbaca lagi juga boleh kok. Gak dilarang. Bener deh. Apalagi setelah mbaca ngirimin gue pisang goreng misalnya. Asal bukan kucing goreng ajah, apalagi kucing garong.

Oke oke, kembali ke topik malam. Halah, emange berita.

Ya tentu saja, jika bersifat royalti, nominal persennya tidak sama dengan yang diterima penulisnya. Lha yang ngedisain logo Coca-Cola ajah dapet royalti je. Jadi, bagaimana sodara-sodara? Gimana neh?

Sebelum saya menjadi penulis, sedikit banyak, saya nyemplung (aslinya sih kecemplung, ada yang ndorong dari belakang gitu, sekarang mah, penikmat saja, mo ngebanyakin buku ajah dulu) ke dunia disain. Jadi, tahu bener betapa sulitnya memikirkan desain kaver yang saik, woke, menjual, dan representatif sama isi buku. Nah lho, masak usaha sedemikian keras nan sulitnya hanya mendapatkan secuplik fulus. Padahal juga, tidak semua orang mampu menghasilkan desain kaver yang berkualitas. Butuh talenta gede n skill yang ciamik. Nah lho? Tambah ribet kan.

Dengan begitu, desain kaver dunia persilatan buku kita tak akan asal-asalan lagi. Tanpa konsep, garing, dan juga jayus (Reni Jayusman? Bukan!). dengan begitu akan lebih kompetitif. Iya dunk, mending diserahin ke disainer kaver yang bermutu daripada tukang setting pinggir jalan yang mendisain tanpa konsep itu. Dengan begitu pula, dunia persialatan buku makin rame, variatif, dan bermutu.

Wah, kayaknya perlu buwat perkumpulan TDW neh. Bukan penulis buku Marketing Revolution itu. Tapi perkumpulan Tukang DesuWain. Yah, minimal tukang ngedisain punya paguyuban lah. Masak kalah sama tukang becak. Ngobrolin apa kek yang bermutu untuk kemajuan industri kreatif kita ini. Begitu Brur!

Afwan banget kalo artikel kali ini agak aneh. Yah, namanya juga uneg-uneg. Pastilah aneh. Kalo gak aneh, gak jadi uneg-uneg. Paling jadi uged-uged (bahasa solo-nya set). Artikel ini bukan kebijakannya pak SBY yang mesti diiyakan seluruh pejabat dan rakyat.

Kalo punya pendapat lain, monggo dilontarkan. Agar kepalaku tak lagi mumet, dan dadaku tak lagi seseg (kaosnya kekecilan kali…).

Gimana-gimana-n gimana??

Iklan

10 comments

  1. setujuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu saya yg bermahsab apa Andi S Budiman,Djoko Hartanto dan Arief Budiman,dan Aris Tantono juga bilangnya gitu…….

  2. tidak setuju!!!! Ya kalo designnya maksimal and bikin best seller, kalo gak???? Kalo designer minta royalti, lama-lama setter, produksi, pemasaran, bahkan gudang yang ngangkut-ngangkut juga minta royalti. Ya jangan disamakan design coca cola dengan design buku dong….

  3. weleh… itu namanya orang kagak professional. Lha wong yang pasang tarif jual lepas itu kan designer sendiri. Sekali design dibayar sekian, dan penerbit oke-oke ajah… lha koq setelah itu tidak maksimal??? Alasannya minta royalti??? whats…??? apa ini??? Okelah ide kang fachmy, tapi saya kira harus dibatasi dengan sebuah surat perjanjian. perjanjiannya, kalo buku bestseller dan jadi abadi, maka designer bisa dapat royalti. Kalo tidak…. jangan harap dech…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s