Mc Kaver

729821216063673

Selain sebagai gerbang pertama untuk menarik pembeli sebelum memutuskan membeli dan kemudian membaca sebuah buku, kaver juga berfungsi sebagai pelindung berderet-deret kertas dan teks yang terselip rapi di dalamnya. Nah, tidak asik rasanya kalau enggan menjelajah ke belantara sejarah dimana sang pahlawan pelindung ini mengisah.

Mula-mulanya, kaver buku memang hanya berfungsi sebagai peletakan judul dan pelengkap penjilidan saja. Tak lebih. Jadi, jangan tanya elemen seninya. Selain tak ada, juga tak digubris. Tetapi, angin segar mulai menghilangkan kedahagaan dunia persilatan buku pada abad ke-19 di negaranya David Beckham sana. Pada masa-masa itulah, kaver buku benar-benar mulai dipikirkan menjadi bagian tersendiri dari sebuah buku. Bukan melulu apalagi megue-gue untuk urusan peletakan sebuah judul. Di masa itu, yang menjadi penghangat pembicaraan adalah hadirnya The Yellow Book, an Illustrated Quarterly, Volume One, April 1894. Besutan sang desainer Aubrey Beardsley dan juga Oscar Wilde.

Tahun 1900-an ke atas, kaver buku mulai dianggap sebagai sesuatu yang jamak. Di awal-awalnya, hanya ada beberapa saja yang menambahkan sinopsis untuk back-cover. Jelas banget, medan belakang buku ini belum jadi ajang promosi sekaligus informasi untuk membengkakkan penjualan.

Persaingan pun dirasa sudah cukup berat pada masa menjelang perang dunia pertama. Oleh itulah, para penerbit menggaduhkan dunia persilatan buku dengan menggandeng desainer khusus. Namanya juga khusus, jadi tugasnya ya membuat kaver buku. Bukan untuk bersih-bersih perusahaan, menyiapkan minuman untuk karyawan, dan bukan pula untuk mengelap kaca depan kantor. Bukan, bukan itu. Mengapa terasa perlu tuh desainer dihadirkan? Alasannya sederhana Brur, karena kaver buku akan meningkatkan daya jual dan nilai tambah bagi sebuah buku, maka penggarapan serius di lahan ini mutlak diupayakan. Tanpa kompromi, kompro bakso, dan lain sebagainya.

Tetapi ngalam (malang maksudnya, ngikut-ngikut arek Surabaya tuh, sukanya membalik kata), pusaran kegembiraan terhenti sejenak. Disebabkan oleh apa? Tentu saja oleh Perang Dunia I. Kemudian, pusaran kegembiraan itu baru menampakkan keriangannya setelah tahun 1920-an hingga 1930-an. Di masa-masa ini, terjadi perkembangan hebat nan dahsyat dalam dunia periklanan juga studi mengenai marketing. Iya dunk, dianggap dahsyat karena masa-masa sebelumnya tidak seganas di periode itu. Dan tentu saja, perbandingannya tahun itu, bukan dengan perkembangan di tahun sekarang. Di masa ini, angka penjualan bagi produk-produk dengan disain ciamik nan menarik menginspirasi dunia persilatan buku untuk mengemas produk mereka secara menarik pula. Nah, pada saat yang bersamaan pelbagai macam genre pun mulai hadir nan mampir di benak para pembaca. Tersegmentasi dan mulai terfokuskan bidang garapnya oleh pihak penerbit.

Nah, di masa ini, citra visual juga sudah mulai dikenal luas oleh penduduk bumi. Hal ini diakibatkan dengan ditemukannya film (entah siapa yang menghilangkannya, dan yang nemu pasti girang banget tuh). Walhasil, pembaca pun mulai termanjakan dengan sajian visualisasi yang apik nan menarik dari para pendekar visual. Efeknya pun, pembaca mulai menikmati visual sebaik menikmati teks yang bergelayutan ditiap lembar buku. Seiring waktu berlalu, sejalan waktu yang menapak, ditemukannya teknik separasi warna yang mempengaruhi kualitas visual pun menambah baik penambilan sebuah buku.

Menjelang tahun 1940-an, dunia persilatan buku terhebohkan. Bukan karena kehadiran goyang ngebor, bukan, toh dia juga belum lahir tuh kayaknya tahun itu. Tetapi, karena hadirnya penerbit unik nan menarik, yaitu Penguin Books. Penerbit ini berhasil menciptakan citra produk melalui desain sederhana sampul buku-bukunya, termasuk penciptaan simbol pinguin dan pemilihan jenis paperback yang ngebikin harganya jauh lebih murah dibandingin sama buku-buku penerbit lain yang umumnya dicetak dengan hardback. Kreatifitas Penguin ini memang menghebohkan bin menggetarkan dunia persilatan buku. Terang saja, di masa itu, Penguin Books sudah membuat terobosan-terobosan yang cool abis. Apa itu? Penguin Books membuat ciri khas warna di setiap genre buku yang diterbitkannya: biru gelap untuk biografi, jingga untuk buku fiksi, serta hijau untuk buku tentang kriminalitas dan misteri. Hmmm, untuk masa itu, kreatifitas macam ini, patut diacungi seribu jempol. Kalo jempol kamu kurang, dipersilakan banget untuk meminjam juga jempol temennya.

Sudah jamak diketahui, yang sukses bakalan diikut jejaknya sama yang belum sukses. Begitu pula dengan Penguin Books. Di era tahun 1960-an sampai 1970-an, terjadi lonjakan buku-buku paperback. Tetapi, sudah jamak pula diketahui, yang trendsetter mah selalu tetap leading. Sebegitu itu pula dengan Penguin Books. Buku-buku garapannya tetap memakai karakter khas untuk setiap jenis buku, namun elemen visual dengan gambar-gambar menarik tampak lebih dominan dibandingkan dengan elemen visual huruf pada awal berdirinya Penguin. Hal ini didukung dengan penemuan teknologi pencetakan berwarna yang murah, airbrushing serta lettraset pun ikut mendorong perkembangan ini. Ditambah lagi pemakaian komputer yang memungkinkan disainer bereksplorasi secapek-capeknya.

Begitulah sejarah yang sempat mengkemah di lembaran-lembaran memori saya. Terjudulkan dengan titel Mc Kaver, apa hubungannya? Yah, jujur saja, itu terinspirasi oleh tokoh cerdik bernama Mc Gyver. Yang seharusnya secerdik itu pula, kaver buku sekarang harus mampu menghipnotis calon pembeli agar tak sekedar mampir untuk menimang-nimang sebuah buku, tapi juga kemudian membelinya dan membawanya pulang dengan perasaan penuh keriangan, “Ini nih buku yang gue cari-cari, judulnya saik, layoutannya rapi, kavernya keren, isinya pun mantabs! Gak percuma ngeluarin gocek segini.”

Demikian secuplik kisah yang mengklumit dipersapaan kita kali ini. Semoga bisa bermanfaat bagi tiap penduduk semesta yang mengakui sebagai penikmat dunia literasi.

Iklan

6 comments

  1. wah, abang satu ini infoya selalu up to date,,, lengkap lho dari mulai sejarah sampai perjuangan kaver buku didunia persilatan (kaya film mak lampir aja)…intinya te o pe ge ge te lah,,,sukses yha bro!!!!

    1. 🙂
      wahahahaha. pernah mbayangin mak lampir baca buku tidak? yang dibaca buku paan ya?
      pastinya sih bukan buku-buku komputer.
      lalu, buku apa ya?
      hayo, yang ngaku mak lampir ngaku aja deh, kasih tau dunk temen-temen ini….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s