Judge a Book by its Cover!

569221199997881

Nilailah sebuah buku hanya berdasarkan kavernya saja! Begitu kira-kira terjemahan bebasnya. Berlawanan pemahaman dengan jargon yang selama ini didengung-dengungkan? Tentu saja. Selama ini, hanya ada satu kata yang selalu mengiang-ngiang dibenak orang. Yaitu, “Don’t judge a book by its cover!” Sekali lagi, kita terjemahkan secara bebas ya. Yaitu, jangan menilai sebuah buku hanya berdasarkan kavernya saja. Tapi, lihat juga judulnya, isinya, temanya, diksi yang digunakan penulisnya, penerbit mana, dan jangan lupa pula siapa yang menulis; kapabel atau tidak di bidang yang ia tulis tersebut.

Tetapi, karena saya orangnya agak out of book saya justru merasa bahwa kita harus menilai sebuah buku yang telah dilempar ke pasar berdasarkan kavernya dulu. Ingat, saya menggunakan kata dulu, bukan saja. Artinya apa? Dengan melihat kaver sebuah buku terlebih dahulu, kita akan mengetahui seberapa berkualitas tidak nya buku tersebut.

Bayangin saja (cukup dibayangin yah, pake garuk-garuk kepala juga boleh kok, santai ajah lagi, baca artikel ini gak usah pake mrengut segala:) sebelum sebuah buku dilempar ke pasaran (sebetulnya pasar beneran, kalo pasaran mah, biasa dimainkan sama ponakan-ponakan gue) melalui sebuah seleksi yang amat sangat ketat. Mulai dari tema, siapa penulisnya, sampai layak jual tidak naskah tersebut. Nah, ketika dalam tahap penggarapan pun melaui proses yang amat sangat njelimet bin ruwet. Mulai dari editing (pemeriksaan huruf sampai dengan penyelarasan isi), layout, sampai dengan pembuatan kaver yang merepresntasikan isi buku. Dan kesemua proses itu, tentu saja, tidak selesai hanya dalam waktu satu sampai dua hari saja. Yah, kecuali tuh buku besarnya mirip dengan sapu tangan yang dilipat dan bisa dimasukkan ke dalam saku 🙂 yang ngerasa gak usah marah deh, karena saya yakin banget, tuh buku mungil bin kecil juga tidak selesai dalam waktu satu dua hari saja. Lha nyetaknya? Ngecek editan (proof reading). Dan tetek bengek lainnya?

Nah, menurut saya, hal terbesar ketika sebuah produk dilemparkan ke pasar adalah packaging-nya. Menarik tidak, eye catching tidak. Di sinilah peran desainer kaver benar-benar diuji. Mulai dari pemilihan warna, tipografi judul, keunikan, dan kekhasan dari penerbit yang bersangkutan (kayak main layangan saja, ada sangkutan segala).

Sekali lagi, coba bayangkan. Ada seseorang pergi ke toko buku. Nah di toko buku tersebut, banyak sekali deretan buku-buku yang setema –mulai dari motivasi, keluarga, sampai akhir jaman–. Nah, di antara sekian deretan buku tersebut, calon pembeli hanya mempunyai waktu sekitar 15 detik ketika memutuskan mau memegang sebuah buku yang terpajang. Itupun kalau ia mau memegangnya! Lha bagaimana jika tidak?

Yup. Setelah rapat redaksional yang berdebat habis-habis menentukan sebuah judul ketika naskah diolah, langkah selanjutnya memanglah menarik calon pembeli tersebut agar merasa terkesan dengan tampilan kaver. Tentu saja, disertai dengan penempatan judul yang menggelitik dan unik. Nah, di sinilah tugas sang desainer kaver mendisain sememikat mungkin. Ketika calon pembeli alias pembaca mau memegangnya, tugas kedua jatuh kepada editor yang membuat sinopsis untuk back kaver. Bayangkan saja, 15 detik, kalo dibuat sinopsis yang panjang dan bertele-tele hingga calon pembeli teler, tentu tidak efektif. Sudah kecil-kecil tulisannya, gak jelas kalimatnya. Bikin bete saja! Filosofinya, jangan menembak cicak dengan nuklir. Percuma, boros, gak efektif!

Jadi, sebetulnya saya ingin mengacungkan jempol untuk para disainer kaver yang telah mati-matian mempercantik tampilan buku. Sungguh, saya sangat salut bin heran ketika melihat persaingan kaver buku di Indonesia sedemikian pesat (khususnya penerbitan buku Islam). Luar biasa, variatif, serta artworking yang begitu kental. Berbeda sekali dengan garapan-garapan kaver jaman dulu. Seragam, hanya permainan vektor yang tidak nyeni sama sekali, itupun masih didukung sepenuhnya oleh judul yang kaku, lugu, nan wagu.

The first impression means everything! Kalimat ini seharusnya sedemikian menyadarkan para penerbit bahwa bahwa para pembeli buku di jaman kiwari ini tak hanya terpesona bin tertarik dengan content, tapi juga context. Bukan hanya tertarik pada isi, tapi juga pesona visualisasi kaver. Bahkan, tak jarang pula kita mendapati kasus di lapangan bahwa kaver buku diposisikan sebagai gerbang utama bagi calon pembeli untuk mengambil, kemudian menimang-nimangnya untuk dibeli ataukah tidak. Tapi paling tidak, satu masalah sudah selesai, yaitu masalah ketertarikan konsumen akan produk.

Saya, yang berkali-kali ikut pameran buku Islam, sering heran dengan fenomena kaver buku ini. Sungguh, peranan kaver yang menarik hati dan jiwa calon pembeli begitu amat besar ketika sebuah produk di display. Jika boleh memprosentasekan sekitar 70%. Dengan catatan, ia tidak mendapat rekomendasi siapapun untuk melirik buku tersebut. Ini berbeda kasus dengan seseorang yang mendapat rekomendasi temannya untuk mencari buku tertentu. Maka, ia akan langsung menghampiri tuh buku, membolak-baliknya apakah tuh buku beneran yang dikatakan temennya ataukah tidak. Sesudah mantab, langsung bayar. Tanpa ba-bi-bu lagi. Mau melirik, kalo tuh buku rekomendasi sudah kebeli, dan masih ada uang sisa. Begitu. Ini pengalaman lapangan, jadi, pliss deh ya, jangan dibantah. Plisss…..

Jadi, urutannya adalah kaver (tentu beserta judulnya), penulis (sekapabel dan seterkenal apa), kemudian back cover (semenarik, seunik, dan semenggelitik apa). That’s all! Setelah itu, barulah kemudian kekhasan isi dari sebuah penerbitan berbicara. Mengenai branding, model editan, gaya selingkung, dan sebagainya.

Sebagai hidangan penutup, saya biasanya melihat suatu kaver buku yang bagus artworking-nya. Tetapi, tak ada konsep. Hanya sekedar permainan warna dan tipografi doang –bikin gue garuk-garuk kepala malah. Lha iya, mau garuk-garuk sandal juga gak asik dunk–. Jadi, gak jelas maunya kemana tuh disain kaver. Disitulah artinya konsep (mungkin itu pula kali ya, satu-satunya majalah desain grafis di negeri ini bernama Concept, kayake desain tanpa konsep kok ya aneh banget gitu. Gue emang bukan orang desain, tetapi, sepertinya konsep adalah nyawa sebuah desain deh).

Begitu. Bagaimana menurut kamu?

(*Ditulisan selanjutnya, gue akan mengupas tuntas tentang sejarah kaver buku. Tunggu saja. Makanya, sering-sering ajah mampir ke Casofa Writhink Academy. Bikin kamu ngeh dunia perbukuan dan banjir karya. Dan jangan lupa, selalu hunting buku saya!:)

Iklan

8 comments

  1. oh sdh ganti ya. ga pake don’t lagi
    ia juga seh. emang ga hanya content yg penting. karena ya itu, posisi menetukan prestasi. halah!
    karena packaging juga bagian dari artibut produk.
    jadi sampean itu ya benul. eh bentoel, eh betul, karena sesuatu yang artistik itu menentukan prestise ndaknya sebuah produk.
    salut buat penata artistik, mksd saya yg bikin koper. eh cover!
    weleh2. barusan ngomong apa aq tadi.
    maap. saya tadi pingsan sambil meracau. he he

    1. 🙂 saya terpingkah pingkal nih ngebaca komen dari jeng indah (masih sodaraan gak ma jeng kellin? suka banget tuh gue ma jeng kellin, aseli! imut, unik, plus ngeselin abis!) 🙂 yup, posisi menentukan prestasi. dulu pas gue duduk di depan sering ranking satu, tapi, setelah duduk di belakang, malah juara umum. nah, betul itu. sip, sip. sepakat jeng indah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s