Saya baru saja selesai menonton Space Battleship Yamato, film yang saya tonton karena rekomendasi majalah Babyboss.
Bagus. Efek visualnya memang tidak se-wow James Cameron atau George Lucas. Tapi, efeknya rapi dan asyik ditonton. Uniknya, nonton film ini serasa nostalgia Crows Zero. Yang maen di situ pada maen di sini. Kayak nonton Gantz II: Perfect Answer juga.
Setelah menonton, saya berpikir, bahwa seharusnya, para pemimpin memang tidak berbagi kecemasan. Seorang pemimpin harusnya berbagi harapan. Walau harapan itu hanyak setitik. Tapi, jika masih memungkinkan, ia harus mengajak seluruh yang dipimpinnya untuk mengejar harapan itu.
Entah mengapa, ketika bergabung dengan sebuah komunitas atau organisasi, sejak jaman sekolah hingga kuliah sampe sekarang, saya jarang sekali menjadi anggota. Selalu kebagian kalau tidak kadep ya kadiv, atau sekjen. Selama itu pula saya belajar bahwa, pemimpin harusnya memang tidak berbagi kecemasan.
Walau ada masalah apapun mendera, simpan saja, selesaikanlah dengan caramu sendiri. Jangan membeberkannya ke anak buah. Mereka hanya akan ikut cemas dan organisasi menjadi tak berjalan baik lagi.
Berbagilah harapan. Ajaklah anak buah untuk bersama-sama merengkuhnya. Milikilah mimpi bersama. Mungkin, seperti Thariq bin Ziyad. Saat ia membakar kapal, ia tidak sedang membagi kecemasan. Ia sedang membagi harapan. Akhirnya, seluruh pasukan sukses membebaskan ketidakadilan di tanah Spanyol.
Seorang kawan berbijak tutur mengingatkan saya, “Sebaiknya ente memang harus mengurangi kegiatan di tahun 2012 ini. Terlalu banyak. Sehingga tak ada yang fokus. Nanti semuanya jadi berantakan. Satu, tapi dibeneri hingga selesai.”
Saya memang tidak seharusnya bersikap untuk berbagi kecemasan kepada semua yang saya pimpin. Saya harusnya berbagi harapan. Walau kita selalu punya kehidupan pribadi, tapi bagaimanapun pemimpinlah yang memegang kendali. Ia tempat harapan berada. Dan harusnya, ia membagi harapan itu kepada semua yang dipimpinnya.
Di titik ini, saya sadar bahwa saya salah. Dan saya harus membenahinya.
Benar-benar membenahinya.
in tansurullaha yanshurkum wa yutsabbit aqdamakum.





ooo…
berarti pas cerita sm gue kemarin, dikau lg khilaf ya pah?
sebenarnya kemarin saya sedang gantheng sih
janganlah memfitnah diri sendiri!
sesungguhnya fitnah itu lebih kejam daripada tidak memfitnah.
memfitnah diri sendiri adalah salah satu bentuk penghargaan atas diri sendiri. jika kita tak mau memfitnah diri sendiri, bagaimana orang lain mau memfitnah kita?
#eeee…..aaaaa….
pemimpin harusnya positive thinking selalu dlm setiap kondisi
dan situasi