Ada harga yang harus dibayar untuk sebuah pilihan. Naasnya, setiap hari dalam hidup, kita harus selalu membuat pilihan. Dalam ranah ruhiyah, pilihannya berarti memilih untuk berdekat-dekat dengan-Nya atau justru berjauh-jauh dengan-Nya. Dalam ranah menuju kesuksesan hidup, memilih untuk berdisiplin atau bermalas-malas. Dalam ranah memanfaatkan umur dan waktu yang tersedia, berarti bergegas-gegas untuk berkarya, atau menunda-nunda hingga tak satupun ada karya.
Semuanya pilihan. Dan semuanya ada harga yang harus dibayar. Beberapa orang menyebutnya dengan kata: pengorbanan.
Hidup hanya terbagi menjadi dua hal: bersabar atau bersyukur. Hidup hanya menampilkan dua jenis dalam hari-hari: ujian atau nikmat. Hebatnya, sebagai seorang muslim, kita sama-sama bisa merespons kedua bagian tersebut dengan lingkupan pahala yang selalu menyertai. Makanya, suatu kali Rasulullah dengan antusias bersabda, “Ajaban liamril mu’min!” Bagaimana tidak, jikalah ujian datang dan kita bersabar, ada pahala menanti. Bilalah nikmat sedang mengguyur, dan kita bersyukur, pahala juga menanti.
Subhanallah. Bahkan, saat kita lupa bersyukur pun, Allah dengan sangat-sangat lembut mengingatkan, “Lain syakartum laazidannakum, walain kafartum, inna ‘adzabi lasyadid: jikalah kalian bersukur, sungguh akan kutambah nikmat bagi kalian. Tapi, jikalah kalian kufur dengan nikmatku, sesungguhnya adzabku sangat pedih.” Kalimat yang tersusun sangat-sangat lembut. Kalau dibahasakan dengan bahasa keseharian kita, mungkin akan jadi, “Kalau kufur sama nikmatku, hayo…. inget ya, adzabku pedih lho….” Kalimatnya bukan, “Jikalah kalian kufur dengan nikmatku, sungguh adzabku sangat pedih!” tidak menggunakan redaksi yang sama dengan laazidannakum.
Wah, ini kenapa malah jadi kajian. Ehm. Gak papa ah.
Seumur hidup, kita akan melalui serentetan ujian. Sampai akhir hayat. Bener deh. Di sanalah, seumur hidup itu, kita belajar untuk merespons.
Saat ujian datang, misalnya. Kita akan belajar merespons apakah kita justru ngomel-ngomel pada-Nya, atau justru datang, bersimpuh, mohon petunjuk, bersabar, dan terus berbaik sangka pada-Nya.
Saat nikmat datang, misalnya lagi, kita akan belajar merespons apakah ia justru menambah keimanan, atau justru melenakan kita. Eits, banyak lho yang di lautan nikmat kemudian tenggelam dan karam. Bukannya menikmati pemandangan indah lautannya. Ya khan.
Seorang kawan, saat umur pernikahannya baru seminggu, istri yang dicintainya saat diboncengnya di jalan, terseruduk bus besar dan seketika nyawanya terangkat. Sang suami sedih, dengan tingkat sedih terdalam. Responsnya adalah, selama seminggu itu, ia meninggalkan shalat sebagai semacam bentuk ‘protes’-nya.
Saat ia berkisah, saya juga sedih dengan ujian yang menimpanya. tapi, saya lebih sedih dengan responsnya atas ujian itu.
Ah, saya mungkin jua takkan sekuat itu. Makanya, kita terus meminta-Nya untuk menjagai iman kita agar tak mudah tergerus. Agar respons-respons kita selalu sesuai dengan keinginan-Nya.





>_< *speechlesskarenaingetdosa*
hm
kakak…..