Pemimpin Tak Berbagi Kecemasan

26 Jan

 

Saya baru saja selesai menonton Space Battleship Yamato, film yang saya tonton karena rekomendasi majalah Babyboss.

Bagus. Efek visualnya memang tidak se-wow James Cameron atau George Lucas. Tapi, efeknya rapi dan asyik ditonton. Uniknya, nonton film ini serasa nostalgia Crows Zero. Yang maen di situ pada maen di sini. Kayak nonton Gantz II: Perfect Answer juga.

Setelah menonton, saya berpikir, bahwa seharusnya, para pemimpin memang tidak berbagi kecemasan. Seorang pemimpin harusnya berbagi harapan. Walau harapan itu hanyak setitik. Tapi, jika masih memungkinkan, ia harus mengajak seluruh yang dipimpinnya untuk mengejar harapan itu.

Entah mengapa, ketika bergabung dengan sebuah komunitas atau organisasi, sejak jaman sekolah hingga kuliah sampe sekarang, saya jarang sekali menjadi anggota. Selalu kebagian kalau tidak kadep ya kadiv, atau sekjen. Selama itu pula saya belajar bahwa, pemimpin harusnya memang tidak berbagi kecemasan.

Walau ada masalah apapun mendera, simpan saja, selesaikanlah dengan caramu sendiri. Jangan membeberkannya ke anak buah. Mereka hanya akan ikut cemas dan organisasi menjadi tak berjalan baik lagi.

Berbagilah harapan. Ajaklah anak buah untuk bersama-sama merengkuhnya. Milikilah mimpi bersama. Mungkin, seperti Thariq bin Ziyad. Saat ia membakar kapal, ia tidak sedang membagi kecemasan. Ia sedang membagi harapan. Akhirnya, seluruh pasukan sukses membebaskan ketidakadilan di tanah Spanyol.

Seorang kawan berbijak tutur mengingatkan saya, “Sebaiknya ente memang harus mengurangi kegiatan di tahun 2012 ini. Terlalu banyak. Sehingga tak ada yang fokus. Nanti semuanya jadi berantakan. Satu, tapi dibeneri hingga selesai.”

Saya memang tidak seharusnya bersikap untuk berbagi kecemasan kepada semua yang saya pimpin. Saya harusnya berbagi harapan. Walau kita selalu punya kehidupan pribadi, tapi bagaimanapun pemimpinlah yang memegang kendali. Ia tempat harapan berada. Dan harusnya, ia membagi harapan itu kepada semua yang dipimpinnya.

Di titik ini, saya sadar bahwa saya salah. Dan saya harus membenahinya.

Benar-benar membenahinya.

in tansurullaha yanshurkum wa yutsabbit aqdamakum.

 

 

 

Pilihan dan Respons

24 Jan

Ada harga yang harus dibayar untuk sebuah pilihan. Naasnya, setiap hari dalam hidup, kita harus selalu membuat pilihan. Dalam ranah ruhiyah, pilihannya berarti memilih untuk berdekat-dekat dengan-Nya atau justru berjauh-jauh dengan-Nya. Dalam ranah menuju kesuksesan hidup, memilih untuk berdisiplin atau bermalas-malas. Dalam ranah memanfaatkan umur dan waktu yang tersedia, berarti bergegas-gegas untuk berkarya, atau menunda-nunda hingga tak satupun ada karya.

Semuanya pilihan. Dan semuanya ada harga yang harus dibayar. Beberapa orang menyebutnya dengan kata: pengorbanan.

Hidup hanya terbagi menjadi dua hal: bersabar atau bersyukur. Hidup hanya menampilkan dua jenis dalam hari-hari: ujian atau nikmat. Hebatnya, sebagai seorang muslim, kita sama-sama bisa merespons kedua bagian tersebut dengan lingkupan pahala yang selalu menyertai. Makanya, suatu kali Rasulullah dengan antusias bersabda, “Ajaban liamril mu’min!” Bagaimana tidak, jikalah ujian datang dan kita bersabar, ada pahala menanti. Bilalah nikmat sedang mengguyur, dan kita bersyukur, pahala juga menanti.

Subhanallah. Bahkan, saat kita lupa bersyukur pun, Allah dengan sangat-sangat lembut mengingatkan, “Lain syakartum laazidannakum, walain kafartum, inna ‘adzabi lasyadid: jikalah kalian bersukur, sungguh akan kutambah nikmat bagi kalian. Tapi, jikalah kalian kufur dengan nikmatku, sesungguhnya adzabku sangat pedih.” Kalimat yang tersusun sangat-sangat lembut. Kalau dibahasakan dengan bahasa keseharian kita, mungkin akan jadi, “Kalau kufur sama nikmatku, hayo…. inget ya, adzabku pedih lho….” Kalimatnya bukan, “Jikalah kalian kufur dengan nikmatku, sungguh adzabku sangat pedih!” tidak menggunakan redaksi yang sama dengan laazidannakum.

Wah, ini kenapa malah jadi kajian. Ehm. Gak papa ah.

Seumur hidup, kita akan melalui serentetan ujian. Sampai akhir hayat. Bener deh. Di sanalah, seumur hidup itu, kita belajar untuk merespons.

Saat ujian datang, misalnya. Kita akan belajar merespons apakah kita justru ngomel-ngomel pada-Nya, atau justru datang, bersimpuh, mohon petunjuk, bersabar, dan terus berbaik sangka pada-Nya.

Saat nikmat datang, misalnya lagi, kita akan belajar merespons apakah ia justru menambah keimanan, atau justru melenakan kita. Eits, banyak lho yang di lautan nikmat kemudian tenggelam dan karam. Bukannya menikmati pemandangan indah lautannya. Ya khan.

Seorang kawan, saat umur pernikahannya baru seminggu, istri yang dicintainya saat diboncengnya di jalan, terseruduk bus besar dan seketika nyawanya terangkat. Sang suami sedih, dengan tingkat sedih terdalam. Responsnya adalah, selama seminggu itu, ia meninggalkan shalat sebagai semacam bentuk ‘protes’-nya.

Saat ia berkisah, saya juga sedih dengan ujian yang menimpanya. tapi, saya lebih sedih dengan responsnya atas ujian itu.

Ah, saya mungkin jua takkan sekuat itu. Makanya, kita terus meminta-Nya untuk menjagai iman kita agar tak mudah tergerus. Agar respons-respons kita selalu sesuai dengan keinginan-Nya.

*sebuah postingan atas perbincangan sore kemarin kita. dan untuk masbro-masbro saya yang tengah galau tingkat maksimal, keep cemungudh menjalani hidup, kak! Mari berbaik sangka pada-Nya saja ;)

Doa Orang-Orang yang Kita Sayangi

19 Jan

Saya selalu sadar, bahwa keberhasilan-keberhasilan kita saat ini; kegembiraan-kegembiraan kita saat ini; keceriaan-keceriaan kita detik ini, bisa jadi dan sangat besar kemungkinannya adalah asupan doa dari orang-orang yang begitu sayang dan peduli pada kita.

Bisa jadi itu ayah dan ibunda, adik-adik, kakak-kakak, paman, orang-orang shalih yang pernah kita temui, hingga teman-teman, dan…. ehm, ‘teman dekat’.

Oleh itulah, saya harus membalas kebaikan mereka semua. Dengan cara yang sama. Mendoakan mereka.

Akan tetapi, tentu saja, circle tersering yang mendoakan saya adalah keluarga.

Setiap hari, saya selalu berusaha keras untuk tak lupa mendoakan agar kehidupan dunia dan akhirat kami hasanah. Terlebih lagi untuk ayahanda dan ibunda.

Dalam berdoa, jawaban Allah selalu tiga: ya, nanti dulu, atau Aku punya jawaban yang lebih baik. Kita hanya bisa berbaik sangka saja. Ya khan.

Dan episode paling membahagiakan tentu saja saat doa dikabulkan di depan mata kita.

Setiap kali melihat adik-adik merasakan suatu kebahagian atas harapan-harapan mereka, misalnya, saya selalu terenyuh. Entah mengapa. Di episode itu, saya menjadi manusia tercengeng sedunia. Heuheuheu. Dalam hati selalu terbersit, “Makasih ya Allah.” Tapi, setiap mereka merasakan kepahitan, saya sedih, dan merasa menjadi makhluk paling sedih di bumi ini. “Apa usaha dan doa saya kurang, ya.” Begitu haru saya.

Lhoh, malah curhat. Ah, ganti. Saya malah pengen nangis. Heuheu.

Bagaimanapun, doa tetaplah harus kita lantunkan untuk orang-orang yang kita sayangi. Ia pengetuk pintu langit paling mujarab.

Seperti sms dari seseorang di sana yang membuat saya langsung bangkit dari duduk.

“Doakan saja saya dan keluarga ya. Itu lebih dari cukup. ;)

Iyah. Hal hebat apa lagi yang bisa kita beri untuk orang-orang yang kita sayangi selain doa?

Karena saya kemudian berjanji untuk melakukannya. Maka sekarang daftar doa saya bertambah: keluarga saya, dan keluarganya. Tentu, diikuti doa untuk kaum muslimin seluruhnya. Parahnya, kalau pas bagian mendoakan keluarga dia. Saya jadi keingetan. Dan bikin mingsek-mingsek.

Yah, mari kita saling mendoakan. Walau kita tak saling kenal. Bukankah malaikat akan berkata, “Dan untukmu juga yang seperti itu,” bagi setiap doa kita untuk saudara-saudara kita; doa yang diam-diam kita panjat untuk orang-orang yang kita sayangi…

Jangan lupa doakan saya juga, yah… ;)

Tag:,

Manifesto

18 Jan

Saya suka sekali dengan manifesto ini. Sudah berbulan-bulan saya jadikan wallpaper. Saya posting ya. Kali aja kamu tertarik kemudian masang juga di wallpaper kamu ngegantiin foto-foto aku yang kamu save as dan dijadiin wallpaper itu.

Tuh poster persembahan dari Holstee. Keren, yak!

Tag:, ,

Tawangmangu

17 Jan

Kebahagiaan itu, kalau kita bisa berkumpul dengan keluarga dengan riangnya seperti ini.

 

 

Mengenang (1)

12 Jan

Hal paling mengharukan adalah mengenang. Bagi nenek-nenek, hal paling menyenangkan adalah menginang. Heuheuheuheu. Ehm.

Pagi ini, secara tidak sengaja saya membuka (entah gimana caranya ngebuka kok tidak sengaja. Heuheuheuheu. Ehm) sebuah buku favorit saya. Favorit banget. Saking favoritnya, di halaman pertama saya tuliskan begini:

“Suatu saat, aku akan berdampingan dengan penulis ini sebagai pembicara!”

Itu adalah mimpi saya waktu tahun 2006. Waktu masih belajar menulis. Waktu masih lucu-lucunya. Waktu masih unyu-unyunya. Waktu masih gantheng. Waktu masih belum punya pasangan. Waktu belum punya buku. Waktu masih bermimpi banget, “Duh, pasti asyik ya bisa nulis dan jadi penulis. Bisa berkarya dan punya buku. Bisa naruh buku sendiri di rak buku.”

Yang mengharukan adalah, di bawah tulisan tersebut, adik saya menulis dengan sangat rempong sekali kalimat:

“Wuahahahaha. Khayalan itu setinggi-tingginya… Seindah-indahnya…. Mimpi jangan tinggi-tinggi. Tapi saya salut dengan perjuanganmu, kak. Lanjutkan!”

Lho, itu kalimat menghina atau menyemangati sih?

Waktu itu. Saya yang belum menghasilkan satu buku pun. Langsung panas. Emosi. Semua makanan di dapur saya makan.

Tapi, itu dulu. Sampai sekarang, saya memang belum pernah sepanggung dengan beliau menjadi pembicara.

Eh, sebenarnya pernah sih ada satu kesempatan.

“Mas Fachmy, ngasih training kepenulisan ya. Acaranya dari pagi sampe sore. Nanti ada dua pemateri kok. Jadi tenang saja. Untuk mas Fachmy cuman tiga jam saja.”

“Oh. Kalo boleh tau, siapa pemateri kedua?”

Takutnya, kalo yang ngasih materi adalah penulis kelas dewa, ya gue bisa nyiapain materi kelas dewa juga. Heuheuheu. Ehm.

“Ini, si **********.”

Gue langsung tepar. MasyaAllah. Ternyata dia. Penulis favorit gue ituh. Waktu itu langsung saya jingkrak-jingkrak berteriak, “Dream comes true!”

Sampe hari H tiba. Ternyata, beliaunya tidak bisa hadir karena ada acara mendadak di lain tempat yang superpenting pula.

Wah, gak jadi deh. Tapi saya gak sedih karena gak jadi sepanggung. Suatu hari itu akan terwujud. Dan kalo sudah terwujud. Nanti saya kasih kabar. Mehehehe. Sejak itu saya sadar, langkah-langkah kecil berani, keputusan-keputusan kecil yang diambil dengan sepenuh hati, akan menghadirkan kejutan-kejutan besar. Jika tidak melangkah dan tidak mengambil keputusan berani, tidak akan pernah sampai di tempat yang diinginkan.

You don’t have to feel like a waste of space
You’re original, cannot be replaced
If you only knew what the future holds
After a hurricane comes a rainbow

Raisha

9 Jan

Siap

Grak!

Hore!

 

 

Saatnya Menemui Orangtuanya

4 Jan
Aku: Aku tidak pantas untukmu.
Kau: Kenapa?
Aku: Kau dari orang terpandang, sedangkan aku…
Kau: Aku dan Tuhan selalu memandangmu, apa lagi?
Aku: Kau pintar, kau punya banyak penggemar.
Kau: Penggemar? Aku tidak butuh mereka, aku hanya butuh pendamping dan pembimbing untuk anak-anakku kelak.
Aku: Aku tidak terlalu menguasai agama.
Kau: Kita bisa mendalaminya bersama-sama.
Aku: Aku tidak cantik. Tidak seperti mereka…
Kau: Allah akan marah jika mendengar perkataanmu tadi, justru aku memilihmu karena kau tidak mengobral kecantikanmu.
Aku: Kau ini kenapa? Sudah kubilang aku ini tidak pantas, kita ibarat bumi dan langit. Terlalu banyak perbedaan.
Kau: Perbedaan membuat kita lengkap.
Aku: Kau terlalu sempurna.
Kau: Belum. Akan sempurna jika kau ada.
Aku: Cukup. Aku tidak mau dengar lagi.
Kau: Seribu bunga tak mampu membuatmu luluh juga?
Aku: Temuilah ayahku. Itu lebih berharga dari seribu bunga dan ungkapan cinta.

The Power of Idea

30 Des

Apa yang membuat suatu tulisan menjadi:

MENARIK

dan juga

KEREN

serta

BERKESAN

bagi pembacanya?

Oke. Semua tulisan pasti menarik bagi penulisnya sendiri. Tapi, belum tentu bagi pembacanya, bukan? Itulah beberapa pertanyaan yang mengganggu gue pagi ini.

Ada macam-macam cara untuk membuat sebuah tulisan bagus: mengindahkan gaya bahasa, meluarbiasakan alur cerita, atau meliukkan diksinya. Tapi, semua bermuara pada satu hal penting: IDE.

Yah, IDE.

Ide yang baik, akan tetap menghasilkan gugahan. Ide yang keren, akan tetap melahirkan gerakan. Ide yang baik, walau disajikan dengan bahasa yang susunannya kacau, masih bisa menghasilkan sesuatu. Tapi, ide yang buruk, walau disajikan dengan bahasa semeliuk apapun, akan tetap kosong.

Itu yang membuat sebuah tulisan bagus.

“Tak seorang pun yang akan tahu kemana kata-katanya akan hinggap, mendarat, dan dijadikan bagian dari khasanah orang lain.” (Goenawan Mohamad)

And remember. You can’t win with yesterday’s ideas. Jadi, sering-seringlah mengail-ngail ide sebanyak dan sekeren mungkin. Okay.

*pancingggg….. mana pancinggggg!*

Tag:, , , , , ,

Shower Mana Showerrrrrr!

28 Des

Di seluruh dunia ini, sepertinya tidak ada crafter yang sekacau dan sekurangajar terus dikremes-kremes selain daripada sehingga seperti sosok HelloBleu. Ya, ya. Dua crafternya yaitu Iid dan Kiki sangat-sangat pengen gue goreng, uleg, dan kemudian ditiriskan. Kalo sudah ketemua dua orang ini, isinya cela-celaan mulu. Pernah suatu ketika, saat urusan naskah, mereka berdua pun ngehajar gue dengan keusilan.

Keliatannya di amplop depan sopan banget gitu yha. Setelah dibuka, kurang ajar, malah to dearest Anisa Ceribel. Kedua makhluk itu memang hobi banget manggil gue Mas Ceribel. Enggak tau kenapa. Apa gue ini seimut Annisa CherryBelle ato gimana. Gak ngerti lah. Padahal, setelah gue liat-liat, ya kita berdua emang agak mirip-mirip gitu deh imutnya.

Shower mana showerrrrrr!

Waktu ke Jakarta beberapa pekan yang lalu, menghadiri Indonesia Book Fair selama lima hari, sepertinya itu adalah hari-hari terasoi gue. Di sana gue bisa ngehadirin launching perdana film Negeri Lima Menara. So, Ahmad Fuadi, Lulu Tobing, David Chalik, Salman Aristo (*histeris*), dan segenap kru film itu bebas gue pelototin sesiangan di panggung utama.

Serunya lagi adalah, hari selanjutnya gue ditugasin ke Kompas Gramedia di Palmerah (sori gak ada fotonya, pas saat itu, baterai hape gue udah mingsek-mingsek) menghadiri seminar Asean Right. Di sana ada semacam oleh-oleh gitu deh dari panitia. Dan gue dapat: flashdisk empat giga, map, tas, dan dua buku. Satu buku tentang motivasi, dan satunya lagi adalah Negeri Lima Menara yang versi inggris! Iyah, yang kavernya masyaAllah pengen gue gampar disainernya karena saking kerennya ituh. Whuaaa… Gue hampir salto di lokasi dapat hadiah itu. Tapi gue inget akan ketampanan gue yang tidak mau luntur, akhirnya gue urungin deh.

Shower mana showerrrrrr!

Gue juga bertemu dengan Chairman Depok Creative yang bernama Lahandi Baskoro. Wah, diskusinya keren beudh. Doi kalo udah ngomongin hal ihwal dunia kreatif, rasanya gak kerasa satu dua jam itu. Pengen deh ngebawa doi pulang, terus dipelihara. Kita berdua udah kenal lama (sedjak njamannya Jimmi Hendrix sampe njamannya Hyun A) tapi baru bertemu waktu itu doang. Kalo ke Jogjya, mampir ke Solo ya Kang Lah. Cucianku banyak lho…

Bagi para penulis buku anak, pasti yang ini bakalan bikin iri. Jadi, ceritanya pas di Bandung kemarin, gue janjian bertemu mbak Ary Nilandari. Ehm. Auw auw. Oke. Ehm. Arrrrr…. Horeee…. Kita janjian di resto hotel tempat gue nginep. Hauhauhau. Maaf mbak Ary. Jadwal padat. Ehm. Setelah ketemu, diskusi sebentar sambil makan siang, terus jalan-jalan deh kita.

Ya gitu doang sih. Cuman keren ajjah, gue disopirin sama mbak Ary. Terus habis itu, dibawain oleh-oleh yang banyakkkkkknya minta ampun.

“Ini, buwat temen-temen kantor.”

Garuk-garuk kepala. Mikir. Ini oleh-oleh banyak amat. Gimana ngebawanya.

Tapi akhirnya bisa juga gue bawa pulang, setelah itu oleh-oleh gue fotokopi perkecil bolak-balik kertas buram.

Shower mana showerrrrrr!

Gue juga mampir ke Trunojoyo. Dua tahun lalu, saat ke tempat ini masih rame banget. Sekarang, entah ini perasaan gue doang ato enggak, tapi agak sepian gitu deh. Ada beberapa outlet yang sudah gak nampak lagi. Untungnya masih nemu Wadezig. Ngelihat versi Color Conspiracy, gue langsung ngiler, dan tanpa pikir-pikir lagi gue kalap dan ngembat empat items: hoodie, dan tiga kaos. Sak jane pengen beli seoutlet. Keren semua sih. Tapi apa daya. Gue juga harus mikir makan anak istri.

Naasnya, hoodie gue sablonannya agak remuk. Mengapa? Karena pas pulang ke Jepara kemarin, pas sablonannya kestrika.

Shower mana showerrrrrr!

Aku sempatin juga maen ke rumah kakakku. Bertemu dengan ponakanku yang unyu-unyu. Waktu gue datang, ketiga ponakanku yang superunyu itu langsung histeris nggak karuan.

“Om, gendong om!”

“Om, cabutin ubanku dong om!”

“Om, goyang cherrybelle yuk om!”

Gak ding. Mereka gak seunyu itu.

Paginya, dipaksa kakak gue untuk mengunjungi masjid Al-Irsyad, atau masjid Kubah, atau masjid apa, gue juga gak ngerti namanya. Foto-fotonya ada di postingan sebelumnya. “Masjidnya bagus lho. Lumayan bisa buwat bahan di blog.” Hlo, kakak gue juga ternyata baca-baca blog gue.

Shower mana showerrrrrr!

Lucunya, di sana gue ketemu sama Ridhwan Kamil. Arsitek handal itu, yang juga yang ngebikin masjid ituh. That’s my lucky day bener deh!

Karena satu lokasi, mampir pula ke Puspa Iptek. Gile aje. Isinya anak-anak labil semua. Anak-anak SD, SMP gitu deh. Pada berlarian ke sana ke mari gak jelas gitu. Tereak-tereak.

Malah ada guru yang maenin gosok-gosok nyetrum (ato apalah namanya) dan dia seneng banget. Murid-muridnya pada bengong. Dan gurunya masih seneng banget. Gue juga bengong. Penjaga karcisnya juga bengong. Hampir seluruh isi ruangan itu bengong. Tapi, daripada gue kepotret pas lagi bengong dan ketampanan gue ilang. Akhirnya gue segera menyadarkan diri dan lanjut liat-liat lagi.

Shower mana showerrrrrr!

Tag:, , , , , , , , , ,

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.917 pengikut lainnya.