6 Feb
Apakah Saya Harus Nulis Buku Tentang Cinta?
Dua hari berturut-turut. Kamis malam dan Jum’at malam. Dua sahabat pembaca buku-buku saya secara beruntun dan beda orang, curhat masalah yang satu ini: cinta. Gubraks! Iyah, mereka berdua memang tahu nomor hape saya gara-gara dari buku. Nah, karena menganggap saya orangnya asik (hehehhe, tau ajah mereka), dan pantes diajakin curhat. Nah, mending kalo cuman curhat, bagaimana bila sampai ke tahap minta solusi? itu pasti. Itu tujuannya curhat ke saya.
yang pertama yang membuat saya bingung adalah, sejauh ini, saya baru berani menulis buku bertema motivasi islami. Muslimah Mewangilah Hingga ke Surga, Muslim Padat Karya: Satu Jiwa Sejuta Karya, Muslim Inspiratif, Ngaji Bikin Kamu 1000% Hepi, dan Man Jadda Wajada, semuanya, secara garis besar bertema motivasi islami, tidak ada satu pun yang menyinggung2 soal cinta.
Uniknya adalah, kedua pembaca tersebut justru berkonsultasi masalah cinta. hahaha. saya juga agak gak paham dengan masalah cinta, karena jujur, saya punya masalah yang banyak dengan urusan cinta, itulah mengapa saya tidak berani menulis buku tentang cinta, karena saya belum bisa untuk mengarahkan oarang lain kepada kebaikan dalam masalah ini, karena saya juga sering jatuh bangun mengatasi masalah yang ini.
sebetulnya, kedua pembaca saya yang curhat terakhir itu, bukanlah pertama kalinya pembaca berkonsultasi masalah cinta, tapi sudah sejak dulu, banyak banget. tapi saya baru bisa menurunkan laporannya sekarang kawan, maap yah. hehhe.. sok sibuk sih, jadi ya begini ini deh…
2 Feb
Evaluasi Mimpi, di Bulan Januari
Sudah mulai bulan Februari. Berarti, kinerja bulan Januari kemarin harus di evaluasi. Apakah mimpi-mimpi yang ditargetkan di tahun ini, sudah ada yang teralisasi, ataukah belum? Alhamdulillah, dengan berakhirnya bulan Januari tahun 2010 kemarin itu, sudah ada beberapa mimpi yang teralisasi. Dan dengan begitu, mimpi-mimpiku mulai terwujud, satu persatu. Hehehe… asyiknya….
Pertama. Target lancar cuap-cuap berbahasa inggris, alhamdulillah sudah terpenuhi. Satu bulan penuh di hajar oleh Mrs. Isna, dengan pelajaran English Conversation-nya. Tinggal ngeliat hasil nilainya. Tapi, insyaAllah baik lhah, wong berkali-kali mendapatkan pujian darinya.
Nah, itu berarti, satu mimpi telah selesai. Berhubungan dengan mahir di writing, insyaAllah, mulai bulan ini, juga akan kembali ke Mrs. Isna, untuk belajar writing. Doakan yah… targetnya mau habis-habisan di writing ini. Walaupun saya pernah mendapatkan nilai A di ujian TOEFL, bahkan menjadi yang tertinggi di angkatan saya waktu kuliah, tapi entahlah, saya merasa belum cukup pede untuk memulai menuliskan kalimat panjang dengan bahasa inggris. Ah… doakan yah…
Yang kedua, dari evaluasi di bulan kemarin. Alhamdulillah, dua naskah sudah dikirim, dan sudah ada kepastian untuk bisa diterbitkan di tahun ini. itu berarti, dari lima buku yang ditargetkan di tahun ini, sudah terwujud dua. Berarti tinggal tiga lagi target buku yang diterbitkan. Sedangkan untuk naskah, sekarang tengah mengerjakan naskah selanjutnya. Dari total naskah yang ditarget tahun ini, yaitu delapan naskah. Alhamdulillah sudah selesai dua, dan siap diterbitkan. Sekarang tengah mengerjakan naskah ketiga. Alhamdulillah…. segala puji, pastilah teruntukkan hanya pada-Nya. Tanpa rahmat dan rezeki kenikmatan dari Allah, tentu Fachmy tak bisa melalui semua ini. alhamdulillah…
Yang ketiga. Dari total 30 buku yang ditargetian khatam. Alhamdulillah, bulan Januari, membabat buku: Negeri Lima Menara karya Ahmad Fuadi. The Way To Win karya Sholihin Abu Izzuddin. Total Motivation karya Satria Hadi Lubis. Deadline Your Life karya Solikhin Abu Izzudin. Agar Kerja dan Usaha ditolong oleh Allah karya Hendra Setiawan. Menakjubkan! Potret Hidup Insan Beriman karya DR. Aidh Al-Qarni. Living Smart karya Muhammad Nazhif Masykur. Muslimah Bertakwa karya Ishom M. Syarif. Membina Motivasi Muslimah karya Ishom M. Syarif juga. Dan yang terakhir adalah Menjadi Primadona Dunia Akhirat karya Abu Umar Basyir.
Ah, saya juga terkaget-kaget, ketika tahu, ternyata bulan kemarin banyak juga buku yang saya baca. Jika ditotal, berarti sekitar 10 Buku. Tapi kadar ketebalannya berbeda-beda kok. Ada beberapa yang tipis dan kecil. Tapi tetap saja keren. Iya khan! Hehehe… berarti kemampuan baca saya masih terjaga. Dari target khatam tiga puluh buku, malah sudah selesai sepuluh buku. Nah, malah tinggal dua puluh buku, padahal ini baru bulan Januari. Hehhe. Subhanallah. Ternyata, kalau kita sering bermuhasabah kayak gini, banyak banget anugerah yang diberikan oleh Allah kepada kita.
Di setiap target yang kita canangkan, dengan diiringi kesungguhan untuk mewujudkannya, selalu ada keajaiban menghampirinya. Saya menamainya dengan bonus. Nah, bulan Januari, ada bonus apa?
Yang pertama. Saat keluarga besar berkunjung ke Solo, tempat saya tinggal sekarang, saya menraktir seluruh keluarga besar saya yang berjumlah puluhan itu, makan-makan di pemancingan sembari berenang. Alhamdulillah, saya merasa itu adalah suatu keriangan. Asyik sekali rasanya. Hangat sekali dirasa.

Ini lho yang namanya rubik, untuk nge-solve, dibutuhkan IQ yang di atas rata-rata, dan juga ketampanan wajah tentunya, hahaha...
Kedua. Saya bisa maen rubik. Hahhaa… gak penting banget yah infonya. Eh, penting lhoh. Sejak kecil, ketika menemukan mainan ini pertama kali, saya sudah binugung. Bagaimana cara megembalikan semua warna kepada posisinya. Tapi tak pernah berhasil. Eh, tak taunya, di bulan Januari itu, saya bisa nge-solve. Begitu para cuber (sebutan bagi para pemain rubik’s cube) mengistilahkannya. Awalnya, ya termotivasi ketika anak-anak Solo Streetcuber Brotherhood pada show off. Eh, jadi penasaran deh. Ya udah, saya itu, orangnya, kalo sudah penasaran, apapun akan dilakukan agar penasaran saya ilang. Begitu. Walhasil, saya pun berlatih dengan bantuan YouTube. Hehhe. Karena saya masih beginner, newbie, jadi rekor nge-solvenya pun masih di atas satu menitan. Dan juga, karena saya memakai rumus biasa, bukan fridrich, petrus, dsb. Sampai semalem, rekor saya masih 2.10 detik. Itu paling cepat. Hehhe.. lumayanlah, untuk seseorang yang acaranya padat seperti saya, tapi masih bisa nge-solve rubik. Hehehe…
Bonus yang ketiga, dan ini yang paling penting. Apa itu? Endorsement dari MEYDA SEFIRA, pemeran Ayatul Husna, di dwilogi film KETIKA CINTA BERTASBIH itu….. masyaAllah, saya tak menyangka akan mendapatkan kejutan sehebat ini. seorang artis man! Saya yang bukan siapa-siapa ini, mendapatkan endorsement dari seorang artis. Bahkan, dia penasaran dengan buku laris saya yang berjudul Muslimah Mewangilah Hingga ke Surga! Itu… wah wah, makin berbunga-bunga deh saya. Hehehe… special thanks, tentu untuk bro Wahyu Sujani, yang ikut membantu menyerahkan naskah saya kepada mbak Husna, agar dibaca, dan diserahi endorsement. Duh….. makasih yah Bro Wahyu, i love yu deh, hahahha…
Ah, itu saja dulu yah laporan di bulan Januari. Semoga bisa menginspirasi kawan-kawan semua. Semoga kejutan-kejutan di bulan Februari, tak kalah hebatnya. Amin… Ala kulli hal, mari menjemput mimpi-mimpi kita. Fachmy selalu minta doanya kawan. Agar Fachmy senantiasa terbanjiri keajaiban, kekuatan, dan juga kesungguhan untuk terus dapat menebar kebaikan. Allahu Akbar!
25 Jan
Review Negeri Lima Menara, Ahmad Fuadi
Tak seperti kebanyakan teman seangkatan di SD. Aku tak tertarik untuk masuk SMP Negeri. Sama sekali tak tertarik. Padahal, itu adalah impian banyak anak yang nilainya pas-pasan. Padahal nilai ebtanasku lebih dari cukup. Sekolahnya pun lumayan dekat rumah. Tapi, entahlah. Aku sama sekali tak tertarik untuk mendaftar, apalagi memasukinya. Om-ku yang seorang kepala madrasah sebuah tsanawiyah di luar kota, menganjurkanku untuk masuk ke sekolahnya saja. Karena melihat potensi otak encerku, yang lebih baik digunakan untuk memahami agama saja. Karena luar kota, otomatis, jika bolak-balik ke rumah akan melelahkanku. Maka, aku pun di pondokkan. Karena memang ada fasilitas pondok pesantrennya bagi siswa yang berasal dari luar kota. Setamat MTs, aku pun meneruskan ke Aliyah-nya. Dan lagi-lagi, tinggal di pondok pesantrennya. Total, enam tahun aku tinggal di pondok pesantren. Segala rintang sudah ditaklukkan. Minum air sumur karena kehausan di tengah malam. Makan hanya berlaukkan kerupuk satu saja. Atau terkadang kecap saja. Mencuci sendiri. Menyeterika sendiri. Sering kehilangan sandal. Harus selalu berbagi makanan. Uang hilang karena kecurian. Tidur hanya di atas tikar. Dan macam-macam kenestapaan lainnya. Itu kalau hanya dari segi nestapanya saja. Tentu berbeda dengan segi ruhiyah yang tertata, itu tak dapat dicerita, karena butuh dirasai sendiri. Oke, saya mau bercerita tentang masa-masa di pondok pesantren? Bukan. Tapi saya akan berkisah tentang sebuah novel yang membuat memori nostalgiaku teraduk-aduk.
Aku menangis membaca novel ini. benar-benar menangis. Sesenggukan. Selama satu jam. Hingga bantalku basah. Untungnya, saat itu, hujan lebat tengah turun berebutan di luar. Jadi, tak banyak yang tahu bahwa aku sedang menangis hebat. Apalagi saat Baso memutuskan untuk pulang, berbakti kepada neneknya. Aku menangis hebat. Sesenggukanku meraung-raung. Aku tak terkendalikan. Seketika, aku teringat dengan almarhum ayahku, yang sampai saat ini, aku selalu saja merasa belum sempat berbakti padanya. Kalimat birrul walidain, selalu menggangguku. Aku belum berbakti padanya. Padahal, itu ingin sekali aku lakukan. Sebagai tanda cinta dan kasih dari aku sang anak. Belum sempat aku melakukannya. Beliau sudah mendahuluiku menemui-Nya. Tepat, setelah shalat Isya’. Jika jamaah masjid iri dengan cara kepergian ayahku menghadap-Nya, aku justru menangis hebat karena merasa belum melakukan apa-apa untuknya.

selalu begitu ulah saya. mencoret-coret di kalimat penting yang inspiratif. tak peduli itu fiksi, atau non-fiksi. jadi, ketika membaca, selalu ada dua hal di tangan. buku, dan tentu saja, pensil...
Dan hingga saat ini, perasaan itu terus mengaduk-ngadukku. Entah dengan cara apa kau berbakti. Jika Baso dengan menghadiah taj untuk orangtuanya melalui tahfizhulqur’an-nya. Aku? Sampai saat ini, hafalanku belum lengkap 30 juz. Cita-citaku memang menyelesaikannya. Tapi, di saat aktivitas yang segudang ini, masih mungkinkah? Wallau a’lam. Tapi Baso, telah menyengatku habis-habisan tentang cerita pembaktian. Aku tertunduk malu. Doaku masih saja sama setiap hari, minimal lima kali. Rabbighfirli, waliwalidayya warhamhuma, kama rabbayani, shagira…
Bagi para insan yang pernah merasakan indahnya tinggal di pondok pesantren, membaca novel ini pastilah seperti menguak lagi memori lamanya. Karena kisah anak pondok tak terlalu berbeda. Kamar yang diisi beberapa orang. Berbagi lauk ketika mendapatkan kiriman dari kampung. Menjadikan wanita sebagai sosok istimewa, karena saking jarangnya bertemu mereka. Bahkan saya, punya kisah hebat tersendiri dengannya. Pernah, punya teman pena dari gontor putri. Ceritanya, saya pernah memenangkan TTS majalah An-Nida. Nah, sejak namaku terpampang beserta alamat lengkap, dapatlah teman pena tersebut. Kami bahkan sempat bertemu, karena kebetulan, ada sanak famili dari teman pena wanitaku tersebut yang rumahnya dekat pondok. Proses bertemunya pun, setelah melalui acara bohong kepada bagian perijinan pondok. Hahaha. Benar-benar bengal! Ingat sekali saat di pondok. Ketatnya qismul lughah. Galaknya qishmul amni. Atraktifnya qismur riyadhah. Dan lain sebagainya. Kepala digundul karena merokok. Push-up karena ketinggalan rekaat saat shalat berjama’ah. Lari lapangan karena melanggar peraturan. Dan lain sebagainya. Seru. Haru. Dan terkenang.

mas ahmad fuadi, penulis novel ini... maaf mas, saya ambil gambarnya dari FB njenengan, la ba'sa yah...
Secara garis besar. Ini adalah novel motivasi. Jadi, jangan harap kau akan menemukan liukan kata-kata khas sastrawan di sini. Kalimat yang susah dipahami, diksi yang rapi, dan akhiran yang terrencanakan, takkan kau temukan. Sekali lagi. Ini adalah novel motivasi. Intinya bukan pada tuturan kalimat yang tertera. Tapi pada isi. Yah, pada isi. Pada beberapa bab awal, saya sempat kurang semangat untuk meneruskan membaca. Karena ini seperti membaca koran saja. Terlalu rata penataan bahasanya. Saya yang editor, tentu tahu betul taste seperti ini. Apalagi ditunjang tanda kutip awal yang selalu terbalik. Betul-betul pungtuasi yang mengganggu. Tapi, itu semua saya hilangkan, karena ketika membacanya, saya seperti tengah bernostalgia dengan teman-teman baik di pondok dulu. Setelah beberapa bab, baru terasa serunya. Sampai akhir kata di akhir bab. Mungkin karena saya seperti tengah merasakan sendiri bagaimana rasanya di pondok, jadi bersemangat untuk menyelesaikannya.
Nailul Huda. Fajar Shodiq. Ridhwan. Muhammad Nur Akhsin Ridho. Muhammad Zaenuri. Ahmad Sutrisni Ahid. Imam Anshari. Adalah teman-teman pondok tempat kami dulu berbagi riang, sedih, susah, bahagia, nestapa, bersama-sama. Selalu bersama-sama. Saya yang dari Aliyah sudah terlibat dengan bagian Majalah Dinding, majalah, buletin, tim nasyid, kini menjadi penulis, dan editor; lengkap sudah, sangat-sangat berbau jurnalistik. Nailul Huda, yang selalu saja ranking satu paralel, kini masih menyelesaikan studinya di LIPIA. Mimpinya dulu, adalah bisa sampai S3 di Madinah; sama sepertiku, bisa menyelesaikan S3. Ridhwan, aku tak tahu kabarnya. Tapi dia yang selalu bersemangat dan selalu membuat lelucon hangat, aku tahu dia telah menjadi orang sekarang, yang pasti, dia belum menikah. Ahmad Sutrisni Ahid, kini menjadi seorang Trainer Trustco. Hebat sekali. Dia yang mantan ketua OSIS, tentu tahu betul bagaimana mengorganisir orang bukan. Muhammad Zaenuri, yang selalu menjadi seteruku di kelas soal ranking, dan kemudian aku berhasil mengalahkannya soal nilai saat ujian akhir, hahaha, apalagi kalo tentang bahasa inggris, dia pasti langsung KO itu, sekarang telah menikah, dan masih berjuang menyelesaikan S1-nya. Imam Asrani, entahlah. Bagaimana kabarnya. Aku tak tahu. Seharusnya aku tahu, karena dia adalah teman baikku dulu, tapi aku tak dapat kabarnya. Ah, aku teman yang sungguh terlalu. Akhsin Ridha, kini adalah Trainer, dan juga Guru. Bagus lah. Itu sangat keren. Ah, kami hanyalah anak-anak desa yang mimpinya terlalu luar biasa untuk ukuran anak seperti kami. Yang bahkan sedari kecil tak mengerti ada apa di luar sana, tapi kami ingin mengetahuinya. Ah…
22 Jan
Lihatlah Ketaqwaan Mereka!
Yah. Lihatlah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Muhammad bin Sirin bertutur bahwa, “Tidak ada seorangpun yang takut kepada apa yang tidak diketahuinya melebihi Abu Bakar. Pernah beliau dihadapkan kepada suatu kejadian, beliau tidak mendapati jawabnya di dalam kitabullah dan sunnah. Maka beliau berijtihad. ‘Ini pendapatku, jika benar, ini datang dari Allah. Dan jika keliru, ini datang dari diriku sendiri. Dan aku memohon ampunan kepada Allah’.” ujarnya.
Yah. Lihatlah Umar bin Khattab. Suatu siang yang amat panas, Utsman bin Affan dari sebuah tempat yang agak tinggi melihat seseorang menggiring dua ekor unta dari kejauhan. Padahal waktu itu benar-benar panas. “Ada apa dengan orang itu? Kenapa dia tidak menetap di Madinah sampai panas reda, lalu baru keluar?” gumam Utsman. Maka, dia mencoba mendekati salah seorang budaknya dan berkata, “Coba tolong lihat, siapakah gerangan orang itu”. Budak itu pun mendekati seseorang yang berselimutkan selendang menggiring dua ekor unta itu. Ternyata yang dilihatnya adalah Amirul Mukminin! Segera dilaporkannya hal itu kepada tuannya Utsman bin Affan. Maka Utsman melongokkan kepalanya ke pintu. Angin pun berhembus kencang. Dia menarik lagi kepalanya. Dengan suara keras dia bertanya, “Apa yang membuatmu keluar di saat seperti ini?”
“Dua ekor unta zakat tertinggal, unta-unta yang lain sudah dibawa pergi. Aku ingin mengantarkan kedua unta ini ke tempat penjagaannya. Aku khawatir jika tidak kuantarkan kedua ekor unta ini akan hilang. Lalu aku dimintai pertanggungjawaban oleh Allah” Jawab Umar. “Wahai amirul mukminin, mampirlah sejenak untuk minum dan berteduh. Biar kami yang mengantarkan kedua ekor unta itu”. Seru Utsman dengan nada khawatir juga heran atas perilaku Umar tersebut. “Kembalilah berteduh ke tempatmu wahai Utsman” Tukas Umar. Utsman kembali seraya berkata, “Barangsiapa ingin melihat seorang yang Al-Qawi Al Amin (yang kuat lagi terpercaya) lihatlah orang itu!”.
Lihalah pula Rabi’ bin Khutsaim. Ditera dengan pena sejarah, bahwa beberapa orang ingin merusak Rabi’. Yaitu dengan cara menemui seorang pelacur dan memberinya uang 1000 dinar. “Untuk apa uang ini?” Tanya pelacur itu. “Ini adalah harga satu ciumanmu dengan Rabi’ bin Khutsaim”. Jawab mereka.
Pelacur itu sangat senang dan berkata, “Bahkan aku janjikan untuk kalian, dia akan berzina denganku!”. Wanita itu pergi menemui Rabi’, dia melepas pakaiannya dan melepas rasa malunya yang menunjukkan bahwa dia telah melepaskan imannya. Segera saja Rabi mendekatinya seraya berkata, “Wahai hamba Allah, bagaimana jika tiba tiba malaikat pencabut nyawa mendatangimu dan memutus urat lehermu? Apa yang kamu persiapkan untuk menjawab pertanyaan munkar dan nakir? Apa yang akan kamu lakukan pada hari kamu berdiri di hadapan Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Mulia? Dan bagaimana jika kamu tidak bertaubat saat kamu dilemparkan ke neraka jahim?”
Wanita itu kaget dan tercengang, dia keluar dari rumah Rabi’ dengan bertaubat. Dan jadilah dia seorang wanita ahli ibadah yang gemar mengerjakan shalat malam dan rajin berpuasa sunnah. Sampai-sampai di gelari Abidal kuffah (wanita ahli ibadah dari kufah). Orang orang durjana yang mengirimkan wanita itu berkata, “Kita ingin wanita itu merusak Rabi, tetapi ternyata Rabi berhasil merusaknya!”.
20 Jan
Bruce Lee and Zhuge-Liang
Bruce lee dalam bukunya The Tao of Gung Fu, mengutip pepatah kuno, “Peringatan dini sama dengan perbekalan dini. Kalau ada ancaman, kita harus menyiapkan langkah untuk menghadapinya. Jangan sampai kita menyepelekan.”
Bruce Lee mengambil contoh skenario unik. Bila kamu pulang di malam hari yang gulita dan penuh kemencekaman suasana, dan kamu berjalan di sebuah jalan sepi, sikap dan mental harus siap menerima kenyataan bila diserang rampok atau garong. Ketika berjalan, kita harus waspada terhadap bayangan yang muncul. Bayangan adalah pertanda bahwa sesuatu bergerak, mengawasi kita, dan mungkin akan menyerang.
Bruce Lee menganjurkan, setiap kali muncul bayang-bayang, kita harus menoleh, memeriksa siapa di balik bayang-bayang itu. Bruce Lee menganjurkan agar kita jangan berjalan di trotoar. Kalau perlu, berjalan di badan jalan. Kalau curiga dibuntuti, jangan lupa berkali-kali mengubah rute dengan cara menyebarang jalan. Ini untuk menghindari jarak yang terlampau dekat dengan penyerang. Metodenya sederhana, jaga jarak dengan musuh, kecohlah agar ia jatuh.
Begitulah strategi. Manusia juga perlu mekanisme strategi diri untuk mekanisme pertahanan dan memenangkan pertarungan dalam kehidupan. Strategi bukan hanya dibutuhkan ketika bermain catur, atau dalam dunia perintelijenan dan kemiliteran saja. Semua hal, termasuk kehidupan membutuhkan strategi. Itulah yang membedakan kita dengan para pesaing. Kekuatan strategi.
Pernah menonton film dwilogi Red Cliff? Film ini, full asli tentang kestrategian. Maklum, film ini mengisahkan tentang kisah Tiga Kerajaan di jaman China dulu. Ada satu tokoh yang bernama Zhuge-Liang. Sosok cerdas multitalenta ini memang mengejutkan. Sejak awal, sampai akhir film, strateginya selalu menginspirasi. Mulai dari strategi penegoisasiannya dalam mengumpulkan bala bantuan untuk mengalahkan musuh, si Cao Cao. Mendapatkan 100.000 panah hanya dalam waktu sepagi saja, dan itu semua gratis dari musuh. Sampai dengan segala pertarungan di medan perang yang selalu saja penuh dengan strategi unik darinya. Semuanya unik, menarik, dan satu lagi, selalu berhasil!
Mengapa selalu berhasil? Karena si Zhuge-Liang selalu menimbang masak-masak segala strateginya. Memikirkan matang-matang langkah yang akan dilakukan. Mengkalkulasi semua kemungkinan hingga menjadi strategi terbaik untuk segala rencana. Menggabungkan semua pengetahuan untuk ikut membantu mencegah segala kemungkinan kegagalan-kegagalan, dan itulah perlunya keluasan wawasan. Itulah kunci dari strategi yang mumpuni dan memenangkan.
Strategi lah yang membuat perbedaan langkah kita dengan musuh menjadi begitu berbeda. Dan sekaligus, strategi pulalah yang membuat musuh kelimpungan dan terkalahkan.
Strategi tak selalu maju menyerang. Namanya juga strategi, langkahnya harus selalu membingungkan. Bahkan, ilmu mundur jika perlu dilakukan pun, akan dilakukan. Karena itulah strategi. Walaupun tak semua orang punya persepsi sama tentang strategi ini. Bahkan, banyak sekali yang sangat enggan. Mereka merasa lebih baik mati terhormat daripada harus mundur. Dan strategi mundur dari segi taktis memang membutuhkan kecerdasan tersendiri.
Raja-raja di zaman dahulu banyak yang mahir menggunakan strategi ini secara bijak. Chin-Ning Chu, ahli strategi yang menulis buku The Asian Mind Game bahkan menyetujui strategi yang satu ini, dengan menuliskan, “Escape may not be heroic, but it does ensure that one can fight another day.”
Sama seperti Bruce Lee yang mengatakan, “One does not move ahead but responds to the fitting influence.”
Seperti bulu ayam yang fleksibel. Terlihat lemah dan menunduk. Namun, kalau dipakai sebagai alat penggelitik, bulu ayam bisa bikin geli bukan main. Itulah strategi.
18 Jan
CASOROBO t-shirt on vacation
Liburan, saatnya jalan-jalan, bersama kaos baru dari CASOFA T-SHIRT
edisi kali ini, bertitelkan, CASOROBO, karena desainnya bergaya robotic gitu deh…
eating nuts with the designer
mirip logo kompas yah…
mirip Kim Bum yah….
(veryveryngapusi.com)
oke, sekian dulu laporan liburan, dan hasil foto2nya, semoga membuat kamu makin laper.
16 Jan
Grup Terbaik di Facebook
begitu gampang orang yang membuat grup di facebook, tapi, grup apa yang terbaik di facebook: menurut saya, hanya ada satu, dan itu adalah grup ini!
http://www.facebook.com/casofacorp?cropsuccess#/group.php?gid=278786953571&ref=ts
coba saja gabung yah …
14 Jan
Materi Presentasi Bahasa Inggrisku Kemarin….
——- OPENING ——–
Hi All,
- WORD BOOK COMES FROM
The origin of the Latin word for book, liber, comes from the Romans who used the thin layer found between the bark and the wood (the liber) before the times of parchment.
- MOST VALUABLE BOOKS
A rare first edition of Alice’s Adventures in Wonderland by Lewis Carroll, making this book the most valuable children’s book ever sold. Onlyt left 22 copies: 17 in libraries, and just five, are in private hands.
- THE LARGEST LIBRARY
The Library of Congress, Washington DC, USA, is the largest library. Contains 28 million books and has 532 miles of shelving. If you were driving at a constant 70 mph in a car it would take you just under 8 hours to pass them all. And that’s without stopping to go to the toilet!
The British Library in London is the 2nd biggest with 18 million books.
- BEST SELLING AUTHOR
Of all time, this accolade goes to Agatha Christie, detective story authoress. Since 1920, her books have sold over a billion copies in the English language and another billion in over 45 foreign languages.
- THE LARGEST FIRST-RUN PRINT
J K Rowling’s Harry Potter and the Order of the Phoenix, the fifth book in the acclaimed series, had a first-run print of 8.5 million copies. This is approximately 80 times the average bestseller!
- THE MOST PROLIFIC NOVELIST
Between 1986 and 1996 (only 10 years), Brazilian author Jose Carlos Ryoki had a massive 1,058 novels published. He writes westerns, science fiction and thrillers (Thrillers are REALITY based and Horrors are FANTASY or SUPERNATURALLY based). Does he ever eat?
So, guys, there are books everywhere and all of them have something to read in them. I have the strange feeling that they’ve been there all along, waiting for me to pick them up.
——- CLOSING ——–
That’s all my presentation. If you have questions, opinions or objections we can discuss after this. Thank you…
9 Jan
Potret Ustadz Kita yang Lucu Bin Aneh-Aneh…
Sejatinya, ini hanyalah analisa sederhana saya. Menyikapi beberapa du’at yang menurut saya tidak pantas untuk di lakukan. Saya mengatakannya sebagai, pengotoran terhadap dakwah!
Nilai suci dakwah tidak boleh terkotori hanya karena hal-hal yang seharusnya mudah di selesaikan seperti yang akan saya sebutkan. Iya dong, seharusnya mereka adalah teladan ditengah ummat. Tetapi, mereka menyepelekan urusan-urasan yang kelihatannya sepele padahal penting.
Tetapi, ini hanya hal-hal umum yang biasa terjadi, sejauh pengamatan saya. Ini berarti, mungkin saja kamu punya tambahan sendiri. Kalau versi saya seperti ini. Apa saja itu?
1. Berjabat Tangan Dengan Non Mahram
Ini juga tak habis saya mengerti. Sehabis memberi pengajian yang menggelegar dan membuat decak kagum para hadirin untuk bertepuk tangan. Dengan entengnya kemudian berjabat tangan dengan orang-orang yang bukan muhrimnya. Darurat? Karena orang awam tak mengerti? Alasan basi! Bukankah dengan begitu harus dimulai untuk memberi contoh? Agar tak rancu mana yang benar dan mana yang salah sesuai syari’at bukan?
2. Penganut Paham Amplopisme
Ada undangan mengisi kajian yang double. Mau pilih mana? Yang amplopnya lebih gede atau yang lebih sedikit? Amplopisme dalam dunia da’i adalah paham untuk menggagalkan acara yang tingkat bayarannya lebih rendah. Karena memang, pekerjaannya adalah penceramah. Dan bukan yang lain. Jadi, pantas dong untuk mengambil gaji yang lebih gede. Anak isteri juga butuh makan bukan? Begitu biasanya mereka beralasan. Yah. Siapa suruh nyari penghasilan dari berdakwah…
3. Jarang Kelihatan Di Masjid
Kalau waktu Dhuhur, mungkin masyarakat bisa berpikir, “Oh, masih di tempat kerja”. Kalau waktu Ashar mungkin masyarakat masih berpikir, “Kerjanya memang sampai sore kok, kira-kira jam setengah lima baru pulang dari tempat kerja”. Kalau waktu Maghrib mungkin masih berpikir pula, “Masih dalam perjalanan pulang kali…”. Kalau datang waktu Isya’ mungkin juga berkomentar, “Mungkin beliau langsung ada acara. Mengisi kajian di mana gitu……”. Tetapi jika di waktu Subuh tak hadir pula di masjid untuk shalat jama’ah? Alasan apa yang hendak di pakai? Kelelahan? Masih berselimut bersama isteri? Ada udzur, karena sakit perut? Masa’ tiap hari?! Bagaimana tahajudmu wahai du’at? Kalah sama bantal dan guling? Kasur empuk? Isteri cantik? Ah……alasan kuno!. Bilang aja males!
Emang ada da’i yang seperti itu? Banyak!. Itu baru sisi keaktifan jama’ah di masjid. Belum dengan keikutsertaan dengan kegiatan masjid, dll. Ya khan…?
4. Pintar Omong, Amalannya Payah!
Coba sodorkan mutaba’ah yaumiyah kepada ustadz-ustadz yang biasa mengisi kajian di masjid. Setelah satu bulan, coba cek berapa kali tahajudnya. Berapa juz baca qur’annya. Berapa kali silaturahimnya. Berapa buku yang di bacanya. Berapa ayat tambahan hafalan qur’annya. Berapa hadits yang menjadi tambahannya. Dan berapa-berapa kegiatan Islami yang lainnya. Sekedar ilustrasi saja memang, tetapi sejatinya, di balik pintar omongnya. Mereka semua payah dalam amalannya!.
5 Jan
Lagunya Fadhil ini, judulnya apa yah?
Masih inget dengan Cut Mala? eh, maksudnya, film KCB, waktu si Fadhil nyanyi di walimahannya Tiara itu lhoh…. gak tau nape, kok fachmy seneng banget yah sama tuh lagu?
Apa gara-gara ada si Cut Mala ikut hadir? hahaha, tentu bukan lah… hehehe…. setelah mencari ke sana dan kemari, akhirnya ketemu juga lirik yang diucapin sama si Fadhil, tapi fachmy gak tahu tuh lagu apa judulnye….teman-teman ada yang tau? kalau tau, kasih tau fachmy yah… entar tak angkat jadi adik deh.. hehhee.. kalo cantik yah… ehm, tau sendiri lah.. hahahha….. ini dia lirik yang dinyanyiin sama si Fadhil… cekdis ot….
salamu’alaikom warahmatullah
jaroe dua blah ateuh jeumala
jaroe lon siploh di ateuh ule
meuah lon lake bak kawom dumna
jaroe lon siploh di ateuh ubon
salamu’alaikom lon tegur sapa
salamu’alaikom warahmatullah
jaroe dua blah ateuh jeumala
jaroe lon siploh di ateuh ule
meuah lon lake bak kawom dumna
jaroe lon siploh di ateuh ubon
salamu’alaikom lon tegur sapa
jaroe lon siploh beuot sikureng
syarat ulon khen tanda mulia
jaroe sikureng lon beu ot lapan
geunan to timphan ngon aso kaya
jaroe lon lapan lon beuot tujoh
ranup lam bungkoh lon jok keu gata
Salamu’alaikum warahmatullah
dua tangan menagkup bejana
10 jari diatas kepala
maaf saya untuk semuanya
sepuluh jari diatas kepala
assalamaualaikum saya menegur sapa
sepuluh jari saya angkat sembilan
syarat saya sampaikan tanda mulia
sembilan jari saya angkat delapan
penganti timphan dan asoe kaya
delapan jari saya angkat tujuh
bungkusan sirih saya berikan untuk anda
4 Jan
Bidadari Berebutan
Kemenanganmu bertahtakan kenikmatan terabadi, manakala kau tahu di mana tujuan dari kampung akhiratmu. Surgakah, atau nerakakah. Maka, berkacalah dari riwayat yang dituturkan oleh Anas bin Malik.
Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah dan berkata, “Ya Rasulullah, saya berkulit hitam, berwajah jelek dan tidak berharta. Jika aku berperang melawan musuh dan mati, apakah aku akan masuk surga?”
Nabi menjawab, “Ya.”
Kemudian ia maju menyerang musuh hingga gugur. Lalu dia dihadapkan kepada Rasulullah dalam keadaan terbunuh. Beliau kemudian bersabda, “Allah telah memperelok wajahmu, mengharumkan baumu serta melipatgandakan hartamu.” Kemudian beliau melanjutkan, “Aku melihat dua bidadari yang menjadi istrinya berebutan untuk melepaskan jubah yang dipakainya. Lalu mereka berdua masuk ke tengah-tengah kulit dan jubahnya.”
Kemenanganmu bertahtakan kenikmatan terabadi, manakala kau tahu pilihan-pilihan apa yang seharusnya kau buat dalam hidup ini. menaati-Nya kah atau mendurhakai-Nya kah? Maka, di sini, mari kita mengaca diri dari riwayat yang tersampaikan oleh Abu Hurairah.
Beberapa orang telah bercerita kepadaku tentang seorang laki-laki yang masuk surga padahal dia tidak pernah menjalankan shalat sekali pun. Karena merasa tidak mengenalnya, orang-orang yang diberitahu Abu Hurairah itu bertanya, “Siapa dia?” Dia menjawab, “Ashram Bani Abdul Asyhal, Amr bin Tsabit bin Waqsy.” Aku telah bertanya kepada Mahmud bin Lubaid, “Bagaimana kisah Ashram sebenarnya?”
Mahmud menjawab, “Dulu, dia termasuk salah satu orang yang menolak Islam dari kaumnya. Tetapi, pada Perang Uhud dia merasa yakin dan masuk Islam. Ia langsung mengambil pedangnya dan bergegas pergi ke tengah-tengah orang banyak dan menyerang musuh hingga terluka parah dan tidak mampu bergerak. Tatkala orang-orang Bani Abdul Asyhal mencari orang-orang mereka yang terbunuh di medan perang, mereka menemukannya. Mereka berseru, ‘Demi Allah, bukankah itu Ashram? Apa yang telah mendorongnya ke sini? Saat kita meninggalkannya, dia masih menolak agama ini.’ Mereka menanyainya, ‘Amr, apa yang mendorongmu kemari? Apakah karena kasihan kepada kaummu ataukah karena ingin masuk Islam?’
Ashram menjawab, ‘Karena ingin masuk Islam. Aku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Aku masuk Islam. Aku mengambil pedang dan bergegas pergi untuk ikut berperang bersama Rasulullah. Aku menyerang musuh hingga aku terluka seperti ini.’ Tak lama kemudian, dia mati dalam papahan mereka. Mereka kemudian melaporkan kejadian ini kepada Rasulullah. Beliau bersabda, “Sungguh, dia termasuk penghuni surga.” Duhai, alangkah beruntungnya Ashram.
Kemenanganmu bertahtakan kenikmatan terabadi, manakala kau tahu kita tak pernah ada apa-apanya dibandingkan oleh-Nya. Lalu, hendak memilih jalan apakah kita? Kesombongan dan kearogansiankah? Kepongahan dan kesewenangan-wenangankah? Jalan kita adalah jalan kemenangan yang tertuntun kemuliaan, maka, pilihan hidup kita adalah menjaga kemuliaan.
Kita mengaca dari riwayat yang tertutur indah oleh Abdurrahman bin Jubair bin Nufair mengatakan bahwa ayahnya bercerita: Setelah Qubrus ditaklukkan dan penduduknya tercerai-berai, mereka semua menangis. Aku melihat Abu Darda duduk sendirian seraya menangis.
Aku pun menanyainya, “Apa yang membuatmu menangis di hari ketika Allah memuliakan Islam dan pemeluknya?”
Dia menjawab, “Jubair, alangkah hinanya manusia di hadapan Allah saat mereka melanggar perintahnya. Sebelumnya mereka adalah bangsa yang kuat dan punya kekuasaan. Namun, ketika mereka telah melanggar perintah Allah, mereka pun berubah menjadi seperti apa yang kamu lihat sekarang ini.” Sungguh, kita kecil dan tiada berarti…
Kemenanganmu bertahtakan kenikmatan terabadi, manakala kau tahu bahwa yang terbaik adalah, manakala kau menyerahkan yang terbaik pada-Nya. Mari mengaca kepada kisah Abu Thalhah. Dia adalah orang Anshar yang paling banyak memiliki kebun kurma. Harta yang paling dicintainya adalah kebun kurmanya di Barha’ yang persis ada di depan Masjid. Rasulullah biasa memasukinya dan meminum airnya yang segar. Ketika turun ayat, “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menanfkahkan sebagian harta yang kamu cinta.” (Ali ‘Imran [3]: 92)
Maka, Abu Thalhah bergegas menghadap Rasulullah dan berkata, “Allah telah berfirman (ayat di atas), sementara harta yang paling aku cintai adalah kebun kurmaku di Burha’. Aku menyedekahkannya karena mengharapkan kebaikan-Nya dan simpanan-Nya di sisi Allah. Wahai Rasulullah, pergunakanlah ia seperti yang diperintahkan oleh Allah kepada engkau.”
Rasulullah menjawab, “Bagus, bagus! Itu adalah harta yang menguntungkan. Itu adalah harta yang menguntungkan. Aku telah mendengar apa yang kamu katakan. Menurutku, sedekahkan ia kepada karib kerabatmu.”
“Aku akan melakukannya ya Rasulullah. Kemudian, ia membagi-bagikannya kepada karib kerabatnya dan sepupu-sepupunya.”
Memberi yang terbaik, tentu balasannya lebih baik. Maka, jika Allah sendiri yang akan memberikan gantinya, tentu tak usah merisau diri bukan? Seperti Abdurrahman bin Auf, ia dikepung dunia dari segala penjuru. Tetapi, semua itu tidak menjadikannya lalai dan sombong. Justru dialah yang memanfaatkkannya dalam menaati Allah dan mengharapkan ridha-Nya. Salah satu riwayat ini memberi bukti.
Suatu hari, Rasulullah bermaksud mengirim suatu pasukan. Maka beliau menyeru kepada para sahabat, “Bersedekahlah! Aku ingin mengirim suatu pasukan!”
30 Des
33 Impianku di Tahun 2010
“Kenyataan hari ini adalah mimpi kemarin dan impian hari ini adalah kenyataan esok hari.” kata Hasan Al-Banna. Hmm… ini sangat-sangat benar kawan!
Sudah menyimak tulisan Fachmy di postingan yang sebelum ini khan? Ternyata, impian memang bekerja ketika kita beraksi.
Nah, ini ada 28 impian (kok judulnya 33? ada lima impian yang tak bisa saya publikasian, terlalu pribadi, hehehehe…).
Kita lihat di 2010 nanti. Sejauhmana mimpi ini terwujudkan. Setiap berhasil, akan saya coret. Begitu seterusnya hingga habis.
Minta doanya, semoga semua lancar dan terwujudkan yah… Amin….
Nah, apa saja 28 impian tersebut? kita keber bareng-bareng di bawah ini: monggo….
- Lancar bicara bahasa inggris (belum bisa kok, bener deh).
- Lancar menulis bahasa inggris (asli belum lancar, makanya pengen).
- Membuat 8 naskah buku.
- Terbit 5 buku.
- Bertemu dengan Palmera Galda Pratiwi (hei! Jangan diketawain bagian yang ini yah!)
- Mendapatkan endorsement dari mbak Galda untuk bukuku (tuh kan ketawa lagi).
- Diduetkan dalam bedah buku atau pelatihan menulis bersama Akh Salim.
- Diduetkan dalam bedah buku atau pelatihan menulis bersama Burhan Shadiq (lagi)
- Diduetkan dalam bedah buku atau pelatihan menulis bersama Ust. Hatta.
- Diduetkan dalam bedah buku atau pelatihan menulis bersama Azzura Dayana.
- Beasiswa kuliah S2
- Bedah buku keliling Indonesia (utamanya ke Aceh (u know what i mean, Medan, Padang, Jogja, Semarang, Kudus, Jepara, Surabaya, Bandung).
- Ke Malaysia
- Ke Singapura
- Cicilan motor lunas
- Bertemu dan berdiskusi dengan Tasaro (plus dapat buku dan tanda tangan dan endorsement).
- Bertemu dan berdiskusi dengan Bambang Trim (plus dapat buku dan tanda tangan dan endorsement).
- Bertemu dan berdiskusi dengan Hernowo (plus dapat buku dan tanda tangan dan endorsement).
- Bertemu dan berdiskusi dengan Ahmad Fuadi (plus dapat buku dan tanda tangan dan endorsement).
- Ke Machine56 shop.
- Silaturahim ke Indscript.
- Ke Salamadani bookshop.
- Katam membaca 30 buku.
- Kolaborasi tulisan dengan Pidi Baiq.
- Bisa kopdar dengan novelis, Wahyu Sujani (teman berbagi ketawa, tapi gak pernah ketemu)
- Buku diterjemahin ke dalam bahasa Malaysia.
- Sepatu buwat travelling.
- Ganti hape touchscreen! Arghh!!!
30 Des
Mimpi Terwujud di 2009
Mimpi yang kubuat di tahun 2008 untuk 2009 adalah: Menjadi editor. Bukuku terbit. Bedah buku. Punya laptop. Paham dunia penerbitan. Dan terkenal. Hahaha…
Dan di 2009, aku mendapat ini:
































Komentar Terakhir